Kepala Dinas Perizinan dan Penanaman Modal (DPPM) DIJ Agus Priyono menjelaskan, pelambatan realisasi investasi di DIJ terjadi selama tujuh bulan terakhir. “Realisasi investasi semester I 2020 terdiri atas realisasi PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) Rp 1,48 triliun dan realisasi PMA (Penanaman Modal Asing) Rp 21,4 miliar,” katanya.
Gunungkidul menjadi daerah dengan tingkat realisasi investasi paling rendah. Dikarenakan pertumbuhan sektor pariwisata yang menjadi penyumbang utama investasi sangat terdampak pandemi. “Nilai investasi di Gunungkidul yang didominasi sektor hotel dan restoran hanya sebesar Rp. 388,5 juta selama semester satu. Atau jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2019 lalu sebesar Rp 60,626 miliar,” ujarnya.
Selain itu, kawasan kars yang biasa digunakan untuk penelitian juga tidak bisa dimanfaatkan secara optimal. Sehingga tidak ada pembangunan baru, selain penambahan investasi di sektor yang sudah ada.
Sedangkan, capaian investasi tertinggi berada di Kulonprogo. Proyek pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) disebut jadi penyebabnya. Realisasi investasi terdongkrak mencapai Rp 1,2 triliun pada semester I tahun ini. “Investasi di kabupeten ini didominasi sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi,” ungkapnya.
Capaian tertinggi berikutnya disusul Kota Jogja dengan realisasi investasi sebesar Rp 206,2 miliar yang didominasi sektor hotel dan restoran. Lalu Sleman dengan pencapaian Rp. 50,3 miliar yang didominasi sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi. Adapun Bantul dengan potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta industri kuliner, realisasi investasinya Rp 18,5 miliar.
Walaupun iklim investasi sedang lesu, Agus mengamati adanya peningkatan jumlah proyek atau titik usaha selama pandemi. Angkanya lebih tinggi jika dibandingkan semester I tahun 2019 lalu. Pada semester I tahun 2019 jumlah proyek/titik usaha yang terverifikasi oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI sebanyak 198 PMDN dan 200 PMA. “Pada semester I tahun 2020 jumlah proyek/titik usaha yang terverifikasi 1.115, terdiri atas 838 PMDN dan 277 PMA,” terangnya.
Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menganggap, iklim investasi sulit didongkrak selama kasus Covid-19 masih terjadi. Penanganan kesehatan pun dilakukan bersamaan dengan upaya pemulihan ekonomi. Masyarakat juga diminta untuk membiasakan diri dalam menerapkan gaya hidup sehat untuk mencegah penularan.
“Tidak mungkin tahun ini. Mungkin tahun depan ada investasi. Karena masih fluktuatif, tidak tahu masa tanggap darurat sampai kapan. Ini tidak tahu peak-nya sampai kapan. Korona bagian dari jenis penyakit, ya sudah bagaimana masyarakat beradaptasi saja,” katanya. (tor/laz) Editor : Editor Content