Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Beberapa Dusun Pilih Lockdown, Monitor Warga Luar

Editor Content • Sabtu, 28 Maret 2020 | 16:41 WIB
PEMBINAAN: Persatuan Rugby Union Indonesia (PRUI) DIJ menggelar kejuaraan rugby junior di Lapangan Pancasila UGM, beberapa waktu lalu. (RADAR JOGJA FILE)
PEMBINAAN: Persatuan Rugby Union Indonesia (PRUI) DIJ menggelar kejuaraan rugby junior di Lapangan Pancasila UGM, beberapa waktu lalu. (RADAR JOGJA FILE)
 

RADAR JOGJA - Karantina wilayah (lockdown) terjadi di Jogjakarta. Sejumlah wilayah memutuskan untuk menerapkan lockdown wilayah. Dengan memalang pintu masuk wilayah mereka.

Di antaranya, di RT 01 dan RT 02 RW 23 Dusun Randu, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman. Penutupan wilayah itu dilakukan sejak Kamis pagi (26/3). dari penelusuran Radar Jogja, masyarakat tidak serta merta menerapkan lockdown seperti yang diterapkan di beberapa negara. Kondisi sebenarnya, hanyalah pengawasan ketat terhadap warga dari luar yang ingin masuk ke dusun.

Ketua RT 01 Dusun Randu Wantoro menjelaskan, adanya lockdown tersebut disepakati masyarakat setempat. Hal ini dilakukan untuk memonitor masyarakat bukan warga dusun yang datang ke wilayah tersebut seperti pedagang, pemulung, dan sales.

Dia menyatakan, ada empat akses jalan yang bisa digunakan untuk memasuki kawasan RT 01 dan RT 02. Namun, penutupan hanya dilakukan pada dua akses pintu masuk. Dua pintu masuk lain yang berada di sisi selatan dusun tetap dibuka dengan penjagaan oleh masyarakat. "Jadi, tetap ada laporan siapa saja yang masuk wilayah dusun," kata Wantoro Jumat (27/3).

Selai penjagaan, orang yang memasuki wilayah tersebut disemprot disinfektan. Khususnya, saat malam hari. Sedangkan untuk siang hari hanya dilakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan dusun.

Wantoro mengimbau masyarakat yang sedang merantau untuk menunda kepulangan ke dusunnya. Terutama perantau di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Langkah ini dilakukan agar persebaran Covid-19 bisa dicegah dengan cepat. Hal ini mengingat setidaknya ada sebelas keluarga di RW 23 yang sedang merantau. Informasi penundaan kepulangan ini disampaikan ke keluarga para perantau. "Ada warga yang sudah konfirmasi untuk menunda kepulangan," tambahnya.

Upaya pencegahan lain yang dilakukan adalah mengimbau masyarakat tetap melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Warga juga diminta menyediakan keran untuk mengalirkan air lengkap dengan sabun di luar rumah. "Positifnya, masyarakat menjadi lebih bersih," kata Wantoro.

Sementara itu, Kepala Desa Pakembinangun Suranto mengaku, wilayahnya masih belum melakukan lockdown. Sebab, tidak ada masyarakat setempat yang positif Covid-19. Meskipun demikian, imbauan pencegahan Covid-19 tetap dilakukan. "Salah satunya dengan mengontrol warga yang keluar-masuk kampung," tuturnya.

Selain itu, di lingkungannya dilakukan tiga kali penyemprotan disinfektan. Penyemprotan diutamakan untuk fasilitas umum dan tempat ibadah. "Besok Minggu ada gotong royong serentak penyemprotan se-Desa Pakembinangun," katanya.

Jika warganya sudah berinisiatif menutup akses ke dusun mereka, Pemkab Sleman baru sekadar memilih untuk menutup sementara beberapa obyek wisata yang berada di kaki gunung Merapi. Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Sudarningsih mengungkapkan, penutupan tersebut sudah berlangsung sejak Kamis (26/3) hingga batas waktu yang belum ditentukan. Kebijakan tersebut diambil sebagai tindak lanjut arahan pemerintah pusat dan provinsi tentang upaya pencegahan korona.

Lokasi yang dilakukan penutupan, di antaranya destinasi wisata yang berada di wilayah Kaliurang, Klangon dan Kaliadem. Selain itu, juga akan ada peningktan sarana dan prasarana penunjang kebersihan tempat cuci tangan. Untuk tahap pertama, dilakukan di destinasi wisata Telogo Putri dan Gardu Pandang Boyong. Selanjutnya akan menyusul tempat-tempat lain. "Sehingga pada saat kawasan wisata dibuka kembali, akan memberikan rasa aman kepada wisatawan," ujarnya Jumat (27/3).

Sebelumnya, Pemkab Sleman juga telah melakukan penutupan sementara pada obyek wisata candi, total ada sepuluh obyek yang ditutup. Adapun diantaranya, Candi Sambisari,  Candi Gebang, Candi Kalasan, Candi Ijo, Candi Barong, Candi Sari, Candi Kedulan, Candi Ratu Boko, Candi Prambanan dan Candi Banyunibo.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Bambang Sugeng menyatakan bahwa sebelum penutupan. Kunjungan wisata ke Kaliurang memang sudah sepi. Sejak isu korona mulai merebak di Jogjakarta, dia menyebut penurunan wisatawan bisa mencapai 70 persen.

Selain sepinya kunjungan, lanjut Bambang, juga banyak calon wisatawan yang membatalkan kunjungannya untuk menikmati wahana Lava Tour. Terkait dengan kondisi ini dia mengaku hanya bisa pasrah dan berharap permasalahan korona bisa segera berakhir. "Ini juga karena mayoritas wisatawan yang datang ke Kaliurang banyak berasal dari luar daerah. Dengan adanya isu korona, para wisatawan memilih untuk tidak berwisata," keluhnya. (eno/inu/amd) Editor : Editor Content
#Covid-19 #Jogja