Seniman grafis dan dosen Fakultas Seni Rupa Isntitut Seni Indinesia (ISI) Jogjakarta Suwarno Wisetrotomo menjelaskan, ASRI yang awalnya dibaca sebagai akronim, kemudian berubah menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) ASRI tahun 1968. Proses perjalanan lembaga pendidikan tinggi seni rupa yang paling akhir adalah bergabungnya STSRI ASRI dengan Akademi Musik Indonesia (AMI) dan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) yang kemudian membentuk Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta yang resmi dibentuk 23 Juli 1984.
Suwarno yang juga lulusan STSRI ASRI mengaku telah masuk pada perguruan tinggi yang penuh wibawa dan dipenuhi berbagai macam seniman berkarisma. Sejak dulu Suwarno telah mendengar bagaimana sejarah ASRI dari senior, pemberitaan, dan berbagai literasi yang dibacanya. “Bahwa ASRI didirikan oleh seniman dengan spirit dan rasa nasionalisme,” jelas Suwarno saat ditemui Radar Jogja di kediamannya di Bantul, Kamis (16/1).
Dari ASRI menjadi Fakultas Seni Rupa (FSR) ISI Jogjakarta, 70 tahun adalah perjalanan panjang sekaligus kisah sukses. Namun layaknya kehidupan, 70 tahun juga dilalui dengan jatuh dan bangun untuk merawat keberagaman, spirit nasionalisme, menempatkan sebuah karya seni sebagai medium berkomunikasi untuk menyampaikan sebuah pendapat.
Tentu saja, tambah Suwarno, tantangan yang dihadapi selama 70 tahun terus bergeser. Sampai saat ini tantangan yang dirasakan Suwarno adalah bagaimana cara menghadapi permasalahan terkain transfer pengetahuan dari senior dan maestro ke generasi baru. “Jelas tantangannya tidak mudah dan sangat serius,” tambahnya.
Selain itu, tantangan spirit kesenimanan juga menjadi masalah. Di mana saat ini generasi muda tidak bisa mendapatkan pengalaman berguru kepada sang maestro. Berbeda dengan Suwarno yang pernah beruntung berguru dengan Nyoman Gunarso, Edhi Sunarso, Widayat, Fajar Sidik, Wardoyo, Subroto, dan Aming Prayitno.
Oleh karena itu, membangun komunikasi dengan generasi muda terus dilakukan, untuk mentransfer ilmu dan spirit kepada generasi muda. Suwarno lebih memperlihatkan tantangan seperti apa yang dihadapi di masa lalu. Serta selalu menghindari membandingkan karya maestro lebih baik dibandingkan dengan karya yang ada saat ini. Ia mengingatkan, derajat kesenimanan, bahkan level kemaestroan, akan terus tumbuh karena tantangan yang terus berbeda.
Suwarno menjelaskan, pada dasarnya, prinsip karya seni selalu mencerminkan jiwa zamannya. “Setiap zaman ada orangnya, dan setiap orang ada zamannya. Itu juga berlaku pada dunia persenian,” ungkapnya.
Sedangkan saat ini generasi muda juga dihadapkan pada tantangan yang beragam. Mulai dari seni rupa yang dihadapkan dengan teknologi informasi. Seni juga berhadapan dengan era disrupsi penuh lompatan dan tidak terduga, serta generasi muda yang dihadapkan pada situasi seni yang serba mungkin dan boleh.
“Ketika isu seni tidak lagi berhenti pada kualitas visual mata, seni modern, lukisan grafis, desain komunikasi, desain interior dan kriya. Seni berhadapan dengan batas-batas yang tak terbatas,” ungkap Suwarno.
Menelisik ke masa lalu, Suwarno menuturkan, pengalaman kampus ASRI dan STSRI ASRI yang ada di Gampingan (Wirobrajan, Kota Jogja) tidak dirasakan oleh dosen generasi baru. Pada tahun 70 dan 80-an akhir, seniman dan dan budayawan menyebutkan tiga poros penting dalam percakapan kebudayaan di Jogja, salah satunya Poros Gampingan. Yang mana seni rupa lahir, tumbuh dan berkembang.
“Selain itu ada Poros Bulaksumur berkembangnya ilmu pegetahuan serta eksakta dan Poros Malioboro, menjadi tempat bertemunya untuk melahirkan dialog-dialog. Namun saat ini generasi muda dihadapkan pada poros yang banyak,” tutur Suwarno.
Ke depan, tambah Suwarno, dunia seni adalah milik generasi muda. 70 tahun ASRI memasuki tingkat kematangan yang bisa terus merayakan keberagaman, merawat nasionalisme melalui seni rupa, peka terhadap permasalahan rakyat, serta menempatkan seni rupa di atas segala persoalan.
Seni rupa harus menjadi pengingat dan memberikan solusi. Selain itu, perguruan tinggi seni rupa juga diharapkan mampu membangun, dan meluaskan jelajah pergaulannya. Serta semakin membumi, dan mudah untuk berkolaborasi. “Jangan hanya karena meniliki sejarah panjang kemudian merasa tinggi. Hal itu bisa menjadi bumerang dan tergulung zaman,” tandasnya. (eno/laz) Editor : Editor Content