Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Edukasi Sejarah, Bikin Kamera Lubang Jarum

Editor Content • Minggu, 22 Desember 2019 | 17:04 WIB
TAK KALAH APIK: Hasil jepretan Komunitas Kamera Lubang Jarum (KLJ) Jogjakarta beberapa waktu lalu. ( KLJ for Radar Jogja )
TAK KALAH APIK: Hasil jepretan Komunitas Kamera Lubang Jarum (KLJ) Jogjakarta beberapa waktu lalu. ( KLJ for Radar Jogja )
RADAR JOGJA - Meski sudah era digital, kamera lubang jarum ternyata masih diminati. Bahkan kamera itu bisa dibuat sendiri dengan memanfaatkan bahan bekas. Intinya bukan hanya pada keindahan hasil tangkapan. Tetapi bagaimana dapat menerapkan metode pembelajaran tentang pencerminan, pemantulan cahaya hingga menggabungkan unsur kimia. Hal itu perlu dilestarikan dan diedukasikan kepada generasi saat ini.

Komunitas Kamera Lubang Jarum (KLJ) misalnya. Komunitas yang terbentuk pada 2002 itu hingga kini masih hidup. Bahkan semakin banyak anggotanya. Mulai dari pelajar, mahasiswa maupun khalayak umum pecinta kamera lubang jarum.

Salah seorang anggota KLJ Jogjakarta Desi Suryanto mengatakan, awal mula komunitas ini berdiri lantaran seorang fotografer Jakarta bernama Ray Bachtiar membawa virus memotret dengan kamera kaleng ke Jogjakarta. Sebelumnya, Ray memang sudah mengembangkan kamera itu dengan menggelar berbagai workshop. ”Nah, yang dikembangkan itu kamera yang dibuat dari kaleng bekas. Bisa kaleng bekas susu dan rokok,” tutur Desi.

Sementara itu, untuk lensanya menggunakan celah kecil sebesar tusukan jarum di bagian dinding kaleng. Agar gambar yang ditangkap lebih jelas, maka bagian dalam kaleng diberi warna hitam dop. Kemudian ditangkap dengan menggunakan kertas foto sebagai film dengan tinta pewarna khusus.

“Hasil tangkapannya hitam putih. Kalau ingin lebih berwarna, tinggal direndam ke dalam pewarna dan didiamkan di ruang gelap,” ungkapnya.

Hasil cetakan dengan menggunakan KLJ tampak lebar. Karakternya seperti memakai lensa fish eye. Tetapi lebih cembung di bagian tengah dan mengerucut di bagian tepi. Sementara warna cendrung monokrom.

“Kalau hasil jebretan ini tidak bisa digunakan untuk foto jurnalistik. Tetapi lebih ke hobi saja,” tuturnya. Dia menyebut, hasil tangkapan dengan kamera ini terbatas. Jika objek yang dibidik bergerak maka hasilnya akan blur. Konon, kamera ini digunakan sekitar 1.500 tahun lalu.

Dia berharap dengan adanya komunitas, dapat dijadikan wadah bagi siapa pun yang ingin mengetahui sistem kerja KLJ dan bagaimana membuatnya manual. “Sehingga KLJ yang menjadi bagian sejarah ini dapat lestari,” ungkapnya. (mel/laz) Editor : Editor Content
#KLJ #foto #Jogja