Kekayaan budaya Indonesia tidak hanya tersimpan dalam sejarah. Beragam legenda, mitologi, hingga kekayaan alam Nusantara terus menemukan cara untuk dikenalkan kepada generasi muda melalui kreativitas.
Semangat itu terlihat dalam gelaran AQUA DBL Dance 2026 D.I. Yogyakarta. Sejumlah tim dance menghadirkan cerita Indonesia melalui koreografi, musik, kostum, serta konsep pertunjukan yang mereka tampilkan di atas panggung.
Tiga di antaranya adalah tim dance SMAN 10 Yogyakarta, SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, dan SMAN 1 Kasihan. Ketiganya mengusung cerita berbeda, mulai dari kehidupan bawah laut Indonesia, legenda Roro Jonggrang dan Candi Prambanan, hingga kisah Dewi Kadita.
Meski memiliki latar cerita yang berbeda, ketiga tim tersebut sama-sama menjadikan kekayaan Nusantara sebagai sumber inspirasi. Cerita yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi kemudian dikemas dengan pendekatan yang lebih atraktif dan dekat dengan anak muda.
Baca Juga: Promo Jogja Bay di Bulan Oktober: Gratis Masuk Bagi yang Berulang Tahun
SMAN 10 Yogyakarta, Jaga Laut Lewat “MAGICAL UNDERSEA”
Tim dance SMAN 10 Yogyakarta mengangkat isu kelestarian lingkungan laut melalui konsep bertajuk “MAGICAL UNDERSEA”.
Pertunjukan tersebut menggambarkan kehidupan bawah laut Indonesia yang memiliki kekayaan hayati luar biasa. Laut Nusantara divisualisasikan sebagai ekosistem yang penuh warna sekaligus menjadi rumah bagi berbagai makhluk hidup.
Melalui konsep “WE ARE THE GUARDIAN OF THE OCEAN”, para penari memperlihatkan kehidupan laut yang semula berjalan harmonis. Namun, kondisi tersebut perlahan berubah akibat aktivitas manusia yang mengeksploitasi dan merusak lingkungan.
Pesan tentang pentingnya menjaga laut menjadi bagian utama dari pertunjukan. SMAN 10 Yogyakarta ingin menunjukkan bahwa kelestarian ekosistem laut bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga tanggung jawab bersama untuk menjaga kehidupan di masa mendatang.
Baca Juga: Nizam Ramadhan, dari Kamar Latihan hingga Panggung DBL Dance: Mimpi yang Akhirnya Jadi Nyata
SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta Bawa Legenda Roro Jonggrang
Sementara itu, tim dance SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta memilih legenda yang lekat dengan sejarah dan budaya Yogyakarta, yakni kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso.
Cerita dimulai setelah Bandung Bondowoso berhasil mengalahkan Prabu Baka dari Kerajaan Prambanan. Ia kemudian berniat mempersunting Roro Jonggrang.
Namun, Roro Jonggrang mengajukan syarat yang nyaris mustahil. Bandung Bondowoso harus membangun 1.000 candi dan dua sumur dalam waktu satu malam.
Tantangan tersebut diterjemahkan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta melalui koreografi kolosal. Pasukan jin yang membantu Bandung Bondowoso digambarkan bekerja tanpa henti untuk menyelesaikan pembangunan candi.
Ketika pembangunan hampir rampung, Roro Jonggrang menjalankan siasat. Warga diminta membakar jerami dan menciptakan suara yang menyerupai suasana pagi. Bandung Bondowoso pun mengira matahari akan segera terbit.
Akibatnya, pekerjaan dihentikan ketika jumlah candi baru mencapai 999. Mengetahui dirinya telah ditipu, Bandung Bondowoso murka dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca.
Legenda tersebut tidak hanya ditampilkan sebagai cerita, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan nilai tentang kejujuran, kebersamaan, serta semangat gotong royong yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Jaksa Beberkan Modus Korupsi Tanah Kas Desa Eks Lurah Condongcatur
SMAN 1 Kasihan Hadirkan Kekuatan Dewi Kadita
Cerita berbeda dibawakan tim dance SMAN 1 Kasihan melalui konsep “The Power of Dewi Kadita”.
Pertunjukan tersebut mengangkat kisah Segara Wening atau Dewi Kandita, sosok dalam legenda yang dikisahkan sebagai salah satu putri Prabu Siliwangi.
Konflik di lingkungan Kerajaan Padjadjaran dan kutukan dari ibu tirinya membuat Segara Wening harus meninggalkan kehidupan sebagai manusia. Dalam perjalanan cerita, ia kemudian dikenal sebagai sosok penguasa lautan.
Nuansa mistis menjadi salah satu kekuatan utama pertunjukan SMAN 1 Kasihan. Gerakan koreografi yang intens digunakan untuk menggambarkan perjalanan Segara Wening bersama para dayangnya ketika menghadapi berbagai ancaman.
Sosok naga merah turut dihadirkan sebagai bagian penting dalam pertunjukan. Kehadirannya menjadi simbol kekuatan sekaligus penjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia gaib.
Baca Juga: Wayang hingga Roro Jonggrang, 5 Tim AQUA DBL Dance Jogja Hidupkan Budaya Nusantara
Lewat perpaduan koreografi, cerita, kostum, dan atmosfer panggung, SMAN 1 Kasihan mencoba menghadirkan kembali kisah Dewi Kadita dalam bentuk pertunjukan yang lebih modern.
Ketiga tim tersebut menunjukkan bahwa warisan Nusantara dapat terus hidup melalui berbagai bentuk kreativitas. Kehidupan bawah laut Indonesia, legenda Roro Jonggrang, hingga kisah Dewi Kadita mendapat ruang baru untuk dikenalkan kepada generasi muda melalui panggung AQUA DBL Dance 2026 D.I. Yogyakarta.
Editor : Bahana.