JOGJA - Persoalan PSIM Jogja dalam menghadapi tim yang menerapkan pertahanan rendah atau low block belum sepenuhnya hilang. Memasuki musim kedua Laskar Mataram di BRI Super League, Pelatih PSIM Jean Paul Van Gastel kembali menyinggung problem itu sebagai salah satu pekerjaan rumah timnya.
Sorotan terebut menjadi relevan kembali setelah PSIM membuka kompetisi BRI Super League musim 2026/2027 dengan hasil imbang 1-1 kontra Persita di Stadion Sultan Agung, Bantul, Sabtu (5/9) lalu.
Van Gastel menyebut persoalan menghadapi pertahanan rapat bukan hal baru bagi PSIM. Bahkan, masalah itu sudah ia identifikasi sejak musim lalu ketika Laskar Mataram menjalani musim pertama setelah kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Menurutnya, salah satu kelemahan PSIM musim lalu terlihat pada kemampuan menyelesaikan serangan di sepertiga akhir lapangan. Situasi menjadi semakin sulit ketika lawan memilih bertahan dengan garis rendah dan mempersempit ruang di sekitar kotak penalti.
Baca Juga: Van Gastel Terpukau Antusiasme Suporter PSIM Jogja: Kami Bermain untuk Mereka
"Kami memang memiliki beberapa masalah dalam penyelesaian di sepertiga akhir. Ketika Anda bermain untuk PSIM, bukan Liverpool, menurut saya masalahnya sama. Sangat sulit mengalahkan low block," ujar Van Gastel, Selasa (8/9).
Pernyataan itu sebenarnya juga bukan kali pertama Van Gastel menyinggung low block. Sepanjang musim lalu, pelatih asal Belanda itu beberapa kali menyebut pertahanan rapat sebagai salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi timnya.
Beberapa waktu sebelumnya, Van Gastel bahkan menegaskan, menghadapi low block tidak hanya menjadi persoalan PSIM. Menurutnya, tim-tim elite dunia pun dapat mengalami kesulitan ketika lawan bertahan sangat dalam.
Baca Juga: Gol Perdana Jadi Modal Berharga bagi Adrian Purzycki Jalani Adaptasi Bersama PSIM Jogja
"Pada dasarnya setiap tim di Super League ini sulit dikalahkan. Tim akan sangat sulit dikalahkan jika bermain dengan low block," katanya saat itu.
Pada kesempatan lain, Van Gastel kembali mengungkap persoalan serupa. Ia menyebut keputusan di sepertiga akhir dan tingkat konsentrasi pemain sebagai bagian yang masih harus diperbaiki ketika menghadapi pertahanan rapat.
"Kami membuat keputusan yang salah karena kami tidak cukup fokus. Itu juga bagian dari karakter kami yang terlalu santai dan harus diubah," tuturnya.
Kini, persoalan itu kembali muncul dalam evaluasi awal di musim baru. Van Gastel menyadari karakter lawan yang memilih bertahan dalam akan memaksa PSIM mencari cara berbeda untuk menciptakan ruang.
Ia pun mengakui kondisi tersebut menjadi salah satu alasan PSIM melakukan perubahan komposisi pemain pada musim ini. Manajemen dan tim pelatih mendatangkan sejumlah pemain dengan karakter berbeda dengan harapan mampu menutup kelemahan yang terlihat pada musim sebelumnya.
"Kami mendatangkan pemain dengan karakter berbeda yang mudah-mudahan bisa menutupi masalah yang kami miliki musim lalu," jelas Van Gastel.
Salah satu kunci untuk menghadapi low block, menurut Van Gastel, tetap berada pada kualitas individu pemain. Kemampuan melewati lawan dalam situasi satu lawan satu dapat menciptakan keunggulan jumlah pemain dan membuka ruang yang sebelumnya tertutup.
Baca Juga: Klasemen Super League 2026/2027 Pekan Pertama: Arema di Puncak, PSIM dan PSS Berbeda Nasib
Namun, ketika lawan sudah terlalu dalam di area pertahanan, ruang untuk melakukan penetrasi menjadi semakin terbatas. Situasi tersebut membuat PSIM dituntut lebih kreatif sekaligus lebih efektif dalam mengambil keputusan di area akhir.
Persoalan low block pun menjadi pekerjaan rumah yang menarik untuk diamati pada musim kedua PSIM di Super League. Setelah musim lalu berhasil bertahan di kasta tertinggi, tantangan berikutnya bukan hanya menjaga konsistensi hasil, tetapi juga menemukan solusi terhadap pola permainan lawan yang sudah berulang kali menjadi batu sandungan.
Van Gastel sendiri tidak melihat persoalan tersebut sebagai sesuatu yang hanya dialami PSIM. Namun, pengakuannya menunjukkan bahwa kemampuan membongkar pertahanan rapat tetap menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam perjalanan tim musim ini. (iza/laz)
Sumber : Radar Jogja