JOGJA - Persoalan akses pembelian tiket menjadi salah satu bahan evaluasi PSIM Jogja setelah menjalani musim perdana di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Menatap BRI Super League 2026/2027, manajemen berkomitmen membuat tiket pertandingan lebih mudah didapatkan suporter maupun penonton umum.
PSIM musim lalu menjalani tahun perdana di BRI Super League 2025/2026 setelah menunggu 18 tahun untuk kembali tampil di kasta tertinggi. Antusiasme terhadap kembalinya Laskar Mataram ke level teratas cukup besar, termasuk ketika PSIM menjalani pertandingan kandang di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul.
Namun, dari sisi jumlah penonton, capaian pada musim lalu belum selalu optimal. Dengan izin kapasitas penonton di kisaran 8.000 hingga 10.000 orang pada sejumlah pertandingan kandang, tribun SSA tidak selalu terisi penuh. Di sisi lain, akses pembelian tiket juga menjadi salah satu persoalan yang disoroti suporter.
Baca Juga: SSA Kategori Baik saat Re-Risk Assessment, PSIM Jogja Tetap Perlu Benahi Sejumlah Fasilitas
Manajer tim PSIM Jogja Iksan Mahar mengakui, persoalan tersebut menjadi bagian dari evaluasi manajemen. Ia menyebut klub berupaya agar tiket pertandingan pada musim baru lebih mudah dijangkau dan didapatkan. "Tentu akan lebih diusahakan, dan jauh lebih reachable. Semoga tahun ini bisa lebih didapatkan lebih baik," kata Iksan, Selasa (25/8).
Kendati demikian, Iksan belum membeberkan secara detail seperti apa perubahan mekanisme penjualan tiket yang akan diterapkan. Menurutnya, teknis skema penjualan merupakan ranah panitia pelaksana (panpel), tetapi persoalan akses tiket tetap menjadi perhatian manajemen.
"Untuk skemanya seperti apa, itu tugas dari teman-teman Panpel sebenarnya. Tapi memang itu juga jadi bahan evaluasi bersama," ujarnya.
Baca Juga: Dua Iklan Rokok di Jalan Protokol Disegel, Satpol PP Jogja: Ditutup sampai Konten Diturunkan
Evaluasi itu tidak terlepas dari status PSIM sebagai pendatang baru di kasta tertinggi pada musim lalu. Selain menghadapi antusiasme besar setelah promosi, klub juga harus beradaptasi dengan regulasi dan penyelenggaraan pertandingan yang lebih ketat dibandingkan ketika masih bermain di kasta kedua.
"Musim lalu banyak hal yang kurang sebenarnya dari tim. Karena itu tadi, baru masuk Super League dengan antusiasme yang gede juga," ungkap Iksan.
Menurut Iksan, perubahan juga dirasakan dari sisi pertandingan yang dihadapi PSIM. Jika sebelumnya saat di kasta kedua, PSIM banyak berhadapan dengan klub-klub dari kota kecil di Jawa Tengah, Jawa Timur dan sekitarnya, musim lalu PSIM harus menjamu tim dengan basis suporter besar seperti Persib Bandung hingga Persebaya Surabaya.
"Selama ini away-nya ke Kudus, sekarang away-nya ke Jakarta. Lawannya selama ini datang, sekitaran Jawa Tengah, Jawa Timur segala macam. Terus sekarang menghadapi tim seperti Persib, datang langsung ke Jogja. Itu sesuatu yang menurut kita kemarin hal yang baru," jelasnya.
Pengalaman itu menjadi bahan evaluasi PSIM untuk memasuki musim keduanya di Super League. Termasuk dalam hal akses penonton menuju pertandingan kandang. "Jelas kami di manajemen juga komitmen untuk membenahi persoalan tersebut," serunya.
Baca Juga: Air Bersih 15 Ribu Liter Per Hari untuk 1.000 Penyintas Gempa Nagekeo, NTT Disalurkan Selama 60 Hari
Sementara itu, harapan serupa disampaikan Ahmad Fauzi, salah satu suporter PSIM yang tidak tergabung dalam wadah suporter tertentu. Menurutnya, proses mendapatkan tiket pada musim lalu juga belum selalu mudah.
"Saya suporter PSIM umum saja, tidak tergabung di wadah suporter. Menurut saya musim lalu itu juga tidak selalu mudah untuk bisa akses atau beli tiketnya," ujar Fauzi.
Ia berharap PSIM bisa melakukan perubahan pada sistem penjualan tiket agar dapat diakses lebih mudah oleh berbagai kalangan, bukan hanya suporter yang tergabung dalam kelompok tertentu. "Harapannya sistem pembeliannya diubah, agar lebih mudah dan aksesibel bagi siapa pun, bagi suporter, bagi penonton umum," katanya.
Baca Juga: Sego Gurih Sekaten, Kuliner Sultan Agung yang Cuma Ada Setahun Sekali
Menurut Fauzi, kemudahan akses tiket bukan hanya berkaitan dengan kenyamanan penonton. Sistem yang lebih mudah juga berpotensi memberikan dampak positif bagi klub, baik dari sisi pemasukan maupun atmosfer pertandingan.
"Karena ya akhirnya ini hal positif bagi tim, bahwa ada pemasukan. Pemain di lapangan mungkin juga akan lebih senang kalau misal penonton full," ujarnya.
Meski manajemen telah menyatakan adanya evaluasi, PSIM belum mengungkapkan secara gamblang apakah mekanisme penjualan tiket musim 2026/2027 akan mengalami perubahan. Termasuk apakah mitra resmi ticketing yang digunakan pada musim sebelumnya masih akan dipertahankan atau mengalami perubahan. (iza/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja