Dinamika dan Tekanan Mengelola PSIM Jogja Membuat Liana Tasno Lebih Bijak Mengambil Keputusan

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 20:06 WIB
Yuliana Tasno, Direktur Utama PSIM Jogja.
Yuliana Tasno, Direktur Utama PSIM Jogja.

 

JOGJA - Direktur PSIM Jogja Liana Tasno mengaku banyak belajar sejak memimpin Laskar Mataram dalam beberapa musim terakhir. Tanggung jawab membawa klub berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia kini membuatnya perlahan mengubah cara memimpin, termasuk dalam menghadapi dinamika yang kerap muncul di balik layar sepak bola profesional.

Menurut Liana, perubahan itu tidak terjadi secara instan. Beragam persoalan, mulai dari proses negosiasi pemain, komunikasi dengan agen, hingga tuntutan menjaga keberlangsungan klub, menjadi pengalaman yang membentuk cara pandangnya sebagai seorang pemimpin.

Ia mencontohkan, jika sebelumnya ia cenderung bersikap keras saat menghadapi persoalan, kini ia lebih memilih mengedepankan komunikasi untuk mencari solusi terbaik bagi semua pihak.

"Saya sadar, saya sekarang berbeda banget ya. Dulu misal ada agen bermasalah itu bisa saya berantemin. Kalau sekarang, ya sudah, kamu maunya apa biar pemain ini pindah?' Saya baik banget sekarang," ujar Liana, Jumat (31/7).

Baca Juga: Dua Penggawa PSIM, Ze Valente dan Yusaku Yamadera Perkuat Indonesia All Stars Hadapi Aston Villa di SUGBK

Ia mengakui sempat menyadari sendiri perubahan sikap tersebut. Baginya, memimpin sebuah klub sepak bola tidak hanya berbicara mengenai hasil di lapangan, tetapi juga bagaimana membangun suasana kerja yang sehat agar seluruh elemen tim dapat bekerja dengan nyaman dan memiliki tujuan yang sama.

"Saya juga bingung kenapa saya jadi berubah. Tapi yang jelas, saya kepengen-nya anak-anak saya juga menikmati di PSIM, semua ekosistemnya positif," katanya.

Liana menambahkan, meski pendekatannya kini lebih tenang, bukan berarti ambisinya untuk membawa PSIM terus berkembang ikut berkurang. Ia menegaskan manajemen tetap berkomitmen melakukan perbaikan secara bertahap, baik dari sisi organisasi maupun prestasi tim di lapangan.

Semangat itu, lanjutnya, tercermin dalam motto yang kini dipegang manajemen PSIM, yakni terus bertumbuh dari waktu ke waktu tanpa cepat merasa puas dengan pencapaian yang telah diraih.

Liana berharap budaya kerja yang lebih terbuka, kolaboratif, dan saling mendukung dapat menjadi fondasi bagi PSIM untuk terus berkembang sebagai klub profesional. Menurutnya, membangun klub tidak hanya membutuhkan kualitas pemain dan pelatih, tetapi juga kekompakan seluruh unsur di belakang layar agar visi besar PSIM dapat diwujudkan secara berkelanjutan. "Bagi saya dan yang saya tekankan ke tim, prinsipnya harus good, better, best," paparnya. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
PSIM Laskar Mataram Liana Tasno PSIM Jogja