Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dua Tim DIY Mentas di Kasta Tertinggi, Seto Nurdiantoro Berharap Derby Jadi Momentum Rekonsiliasi Suporter dan Wadah Pemain Muda

Adib Lazwar Irkhami • Kamis, 18 Juni 2026 | 19:39 WIB

 

 

 

Legenda sepak bola Jogja Seto Nurdiantoro. Rizky Wahyu/Radar Jogja 
Legenda sepak bola Jogja Seto Nurdiantoro. Rizky Wahyu/Radar Jogja 

 

 

SLEMAN - Naik kastanya PSS Sleman menemani PSIM Jogja di kompetisi Super League di musim 2026/2027 disambut antusias publik sepak bola Jogjakarta. Tak terkecuali bagi sang legenda hidup sepak bola Bumi Mataram, Seto Nurdiantoro.

​Pria yang memiliki sejarah emosional panjang bersama Laskar Mataram maupun Super Elang Jawa, baik sebagai pemain maupun pelatih ini angkat bicara mengenai kembalinya tensi tinggi bertajuk Derby DIJ di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.  

Baca Juga: PSS Sleman Dikabarkan Kepencut Dua Pemain Potensial Pedro Matos dan Muhammad Ragil 

​Bagi Seto, bertemunya kembali dua tim besar DIJ di Super League nanti tidak sekadar soal rivalitas 90 menit di lapangan hijau saja. Lebih dari itu, pria berusia 52 tahun ini juga berharap momentum itu bisa menjadi titik balik perdamaian dan kedewasaan bagi kedua kelompok suporter, baik Brajamusti ataupun The Maident dan Slemania serta Brigata Curva Sud (BCS).

"Harapannya derby ini menjadikan momentum untuk teman-teman suporter saling menghargai, sportif, dan bisa memaknai fair play-nya lebih," ujarnya, Kamis (18/6).

Baca Juga: PSIM Jogja Dikabarkan Bekerjasama dengan Adidas 

Selain menyoroti soal kondusifitas para suporter, Seto juga berharap momentum Derby DIJ nanti bisa menjadi tontonan yang menarik bagi para pecinta sepak bola Indonesia.

 "Namanya kompetisi, saling berkompetisi, jadi yang terbaik. Harapannya itu dari sisi permainan," bebernya. 

Meski begitu, Seto mengaku adanya Derby DIJ nanti tetap memiliki dampak yang positif bagi ekosistem sepak bola lokal. Kehadiran dua tim DIJ di Super League harus menjadi stimulus bagi pembinaan usia dini (grassroot) di Jogjakarta.

Maka dari itu, Seto ingin jajaran stakeholder terkait, mulai dari Asosiasi Kabupaten (Askab) hingga Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI DIJ, untuk lebih serius merespons gairah ini dengan pengelolaan kompetisi usia muda yang berkesinambungan.

Baca Juga: Usung Pesan Terima Petugas, Isi Data, Rahasia Terjaga: Sensus Ekonomi 2026 Sasar 606 Ribu Usaha di DIY hingga 31 Agustus

​"Harapannya menjadi motivasi tersendiri untuk calon-calon pemain muda ini dengan pengelolaan yang baik," tegasnya. Bukan tanpa alasan Seto mengatakan hal tersebut. Sebab menurutnya, bakat-bakat lokal Jogja tidak akan bisa berkembang maksimal jika hanya mengandalkan bakat alam tanpa adanya menit bermain yang kompetitif.

"Kalau bisa sih setahun itu ada pertandingan untuk calon-calon pemain ini. Pokoknya yang muda-muda potensial dari Jogja terfasilitasi untuk banyak bermain," cetusnya. (ayu/laz)

Editor : Herpri Kartun
#PSS Sleman #Super League #Seto Nurdiantoro