JOGJA - Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel secara gamblang mengungkap sejumlah persoalan mendasar yang masih membayangi timnya sepanjang kompetisi BRI Super League 2025/2026.
Selain efektivitas di lini depan, Laskar Mataram juga dinilai belum mampu menemukan solusi saat menghadapi tim dengan skema bertahan dalam atau low block, serta masih rapuh dalam mengantisipasi bola mati atau set piece.
Secara produktivitas, hingga pekan 27 kompetisi PSIM mencetak total 36 gol dan kemasukan 35 gol. Secara performa, sejak putaran kedua atau dalam 10 pertandingan terakhir, penampilan PSIM juga tidak cukup baik.
Mereka hanya meraih satu kemenangan, lima kali seri, dan empat kali kalah, termasuk dua di antaranya kalah di kandang sendiri.
Diakui Van Gastel, salah satu persoalan besar adalah timnya kerap kesulitan membongkar pertahanan rapat lawan. Situasi ini membuat PSIM harus bekerja ekstra keras hanya untuk menciptakan peluang bersih di area sepertiga akhir.
"Kami sudah berlatih sepanjang musim dalam hal eksekusi dan pengambilan keputusan di area sepertiga akhir lapangan. Namun tampaknya kami punya kekurangan dalam kemampuan mencetak gol," ujar Van Gastel, Senin (13/4).
Ia menegaskan, persoalan itu berkaitan erat dengan karakter permainan lawan yang lebih banyak menunggu dan menutup ruang, sehingga memaksa PSIM harus mengeluarkan energi lebih untuk membuka pertahanan.
"Kami butuh banyak energi hanya untuk menciptakan peluang. Kami juga butuh banyak peluang untuk mencetak gol. Ini tidak efektif," lanjutnya.
Di sisi lain, persoalan juga muncul di lini belakang. Van Gastel mengungkapkan sebagian besar gol yang bersarang ke gawang PSIM justru berasal dari situasi bola mati. Sebuah aspek yang hingga kini belum sepenuhnya bisa diatasi.
"Lebih dari 50 persen gol yang kami terima berasal dari set piece. Itu tentu menjadi perhatian serius bagi kami. Sesuatu harus benar-benar diubah," tegasnya.
Menurutnya, kelemahan dalam mengantisipasi bola mati menunjukkan masih adanya celah dalam organisasi pertahanan tim. Meski evaluasi terus dilakukan sepanjang musim, perbaikan di sektor ini belum sepenuhnya berjalan optimal.
"Kami sudah mencoba memperbaiki itu di latihan, tetapi memang belum sepenuhnya terselesaikan dengan baik," tambahnya.
Baca Juga: Van Gastel Soroti Standar PSIM Jogja, Performa Kurang Ideal di Putaran Kedua Turut Jadi Alarm
Situasi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi PSIM di tengah kompetisi yang memasuki fase akhir. Hingga pekan ke-27, PSIM telah mengoleksi 38 poin dan menempati peringkat ke-9 klasemen sementara dari total 18 tim.
Sementara itu kompetisi akan berakhir pada pekan ke-34, sehingga setiap pertandingan tersisa menjadi krusial dalam menentukan posisi akhir tim.
Dengan kombinasi masalah di lini depan dan pertahanan, konsistensi performa PSIM masih menjadi tanda tanya. Terutama saat menghadapi tim-tim dengan karakter bermain bertahan.
"Kami harus berupaya mencari solusi agar bisa tampil lebih efektif di sisa pertandingan kompetisi ini," paparnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun