Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dinamika Jelang Laga PSIM vs Persebaya: Penonton Gate 10 Tribun Utara Soroti Kinerja Panpel dan Pilih Absen

Fahmi Fahriza • Sabtu, 24 Januari 2026 | 16:53 WIB

 

Foto suporter PSIM Jogja yang berada di Gate 9-10 Stadion Sultan Agung Bantul. 
Foto suporter PSIM Jogja yang berada di Gate 9-10 Stadion Sultan Agung Bantul. 

JOGJA - Laga big match pekan 18 BRI Super League 2025/2026 antara PSIM Jogja menghadapi Persebaya Surabaya di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, Minggu (25/1/2026), tak hanya menyedot perhatian karena gengsi di atas lapangan.

Di luar pertandingan, dinamika juga muncul dari tribun, menyusul keputusan sejumlah penonton yang biasa menempati area Gate 9-10 memilih tidak hadir sebagai bentuk kekecewaan terhadap pengelolaan tiket oleh Panitia Pelaksana (Panpel).

Keluhan tersebut salah satunya mencuat di media sosial melalui tagar #HALOPANPELSSA.

Penonton yang selama ini aktif meramaikan Gate 10 menyuarakan keberatan atas pengurangan kuota tiket di sektor tersebut.

Sementara itu, penonton di Gate 9 tribun utara dipastikan tidak terdampak dan tetap dapat hadir tanpa kendala.

Untuk diketahui, antara Gate 9 dan 10 sendiri memang ada border atau sekat pembatas.

Di mana Gate 9 masuk di kategori tribun timur, dan Gate 10 masuk kategori tribun utara.

Informasi yang mereka peroleh, total kuota penonton di SSA yang sebelumnya mencapai 9.000 lembar kini berkurang menjadi 8.000 tiket untuk laga melawan Persebaya.

Masalahnya, dari total kuota tersebut, jatah tribun utara, khususnya Gate 10, disebut mengalami pemangkasan paling signifikan.

Jika pada laga-laga sebelumnya tribun utara memiliki kuota sekitar 2.500 tiket, kali ini jumlahnya turun menjadi sekitar 1.750 tiket.

Padahal, dalam beberapa pertandingan terakhir, tribun utara kerap menjadi sektor dengan animo tertinggi dan sering terjual habis.

Salah seorang penonton dari kerumunan Gate 10, Adit menjelaskan, bahwa Gate 10 bukanlah organisasi atau laskar resmi, melainkan gerakan kolektif yang tumbuh secara organik sejak sebelum pandemi COVID-19.

Awalnya, mereka adalah kelompok teman yang kerap menonton bersama di tribun utara, lalu kembali aktif setelah kompetisi bergulir pascapandemi.

"Ini kolektif dan spontan saja. Kami tidak membawa bendera organisasi apa pun. Awalnya cuma kumpul teman-teman lama yang ingin menikmati pertandingan dan melepas penat," ujar Adit saat ditemui Radar Jogja, Sabtu (24/1/2026).

Ia menuturkan, sejak PSIM kembali bermain di SSA dalam BRI Super League 2025/2026, Gate 10 tribun utara perlahan berkembang menjadi titik temu baru.

Inisiatif membawa alat pengeras suara (sound system) yang didapat dari iuran kolektif turut membuat area tersebut semakin hidup dan menarik lebih banyak penonton lintas generasi.

"Tujuan kami sederhana, hanya ingin menikmati proses PSIM di Liga 1. Menang kalah tetap ingin menang, tapi sekarang menontonnya lebih ke menikmati atmosfer dan kebersamaan," katanya.

Namun, persoalan muncul jelang laga melawan Persebaya.

Menurut Adit, selama ini mekanisme pembagian tiket tribun utara relatif jelas, dengan sebagian dialokasikan melalui basis suporter dan sisanya dijual secara daring.

Selama animo penonton cenderung menurun, mekanisme itu tidak menimbulkan masalah berarti.

Situasi berubah saat laga kategori tier 1 seperti melawan Persebaya.

Selain total kuota yang berkurang, jatah untuk Gate 10 tribun utara dinilai tidak sebanding dengan tingginya permintaan.

"Anggota basis suporter saja sudah pasti habis. Lalu kami yang biasanya ikut membeli lewat mereka jadi tidak kebagian. Kalau dipaksakan, itu rawan gesekan antarpenonton," ujar Adit.

Baca Juga: Prediksi Como vs Torino Serie A Sabtu 24 Januari Kick Off 21.00 WIB, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?

Atas dasar itu, penonton Gate 10 tribun utara memilih langkah kolektif untuk tidak hadir di laga tersebut.

Keputusan itu diambil bukan semata-mata sebagai bentuk protes, tetapi juga untuk menghindari potensi konflik horizontal antarsuporter akibat rebutan tiket.

"Daripada satu-dua komunitas masuk lalu yang lain tidak, akhirnya tidak kompak, kami memilih semua merasakan hal yang sama. Kami absen menonton," ucapnya.

Adit juga mempertanyakan kebijakan Panpel yang memangkas kuota tribun utara secara signifikan.

Menurutnya, jika pengurangan kuota memang harus dilakukan karena alasan perizinan, seharusnya pemangkasan dilakukan secara proporsional di semua sektor tribun.

"Kalau memang harus dikurangi, ya dikurangi rata. Jangan justru area yang permintaannya paling tinggi yang dipotong paling banyak. Dari sisi logika pasar, itu tidak masuk," ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi ini terasa kontras dengan kampanye manajemen PSIM bertajuk “SSA Lebih Berisik”.

Menurut Adit, Gate 10 tribun utara selama ini justru tumbuh secara organik sejalan dengan semangat tersebut.

"Kalau memang diapresiasi, seharusnya tahu kami ada di mana. Tapi justru titik itu yang dikurangi kuotanya. Itu yang kami pertanyakan," ujarnya.

Terkait pengurangan kuota total dari 9.000 menjadi 8.000 tiket, Adit menilai hal tersebut mencerminkan perlunya evaluasi kinerja Panpel.

Ia berharap ke depan ada upaya lebih maksimal untuk memperjuangkan kuota penonton, terutama pada laga-laga dengan animo tinggi.

"Panpel itu tugasnya bukan sekadar cari aman, tapi menyelenggarakan pertandingan dengan sukses.

Kalau pertandingan besar saja tidak bisa memperjuangkan tambahan kuota, tentu jadi tanda tanya," ulasnya. (iza)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#BRI Super League 2025 2026 #Stadion Sultan Agung (SSA) #absen #Bantul #Dinamika #Soroti Kinerja Panpel #Penonton Gate 10 #PSIM vs Persebaya #jelang laga #PSIM Jogja