JOGJA - Setiap Rabu pagi, venue panjat tebing Mandala Krida Jogja menyuguhkan pemandangan tak biasa.
Di tengah hiruk-pikuk para atlet muda yang gesit menaklukkan dinding vertikal, tampak sekelompok ibu-ibu paruh baya ikut meramaikan arena.
Meski usia mereka telah menginjak empat puluh tahun, semangat dan keberaniannya tak kalah menyala untuk tetap berolahraga.
Kegiatan panjat tebing tiap Rabu pagi itu bermula dari inisiatif para ibu yang merupakan orang tua dari anak-anak yang aktif di klub nusantara sport climbing (NSC) Sleman.
Pada saat itu, ada sebuah tradisi yang selalu dinanti yakni lomba panjat tebing khusus orang tua dalam perayaan 17 Agustus-an.
Tanpa diduga, kategori ibu-ibu menjadi yang paling digandrungi dan sukses menarik perhatian.
"Kok enak ya kalau seperti itu kami mau bikin rutin seperti apa, terus saya tanyakan ke ibu-ibu lainnya dan ternyata mereka antusias," ucap salah satu penggagas kegiatan panjat tebing ibu-ibu Rabu pagi Galuh Anggraeni Cahyani, Rabu (4/6/2025) saat ditemui di venue Panjat Tebing Mandala Krida.
Kini, kegiatan panjat tebing rutin ini telah berjalan hampir tiga bulan dan selalu menjadi jadwal wajib di setiap Rabu pagi yang dinantikan.
Menurut Galuh, kegiatan ini lebih dari sekadar mencari kesenangan, namun dengan adanya kegiatan ini para ibu-ibu ingin lebih sehat dan merutinkan aktivitas fisik.
"Kami ingin sehat dan ingin kegiatan ini dirutinkan. Yang penting kami naik itu saja," ujarnya.
Bukan tanpa alasan, bahwa mereka ingin kegiatan tersebut terus dirutinkan. Sebab, manfaat kesehatan dari panjat tebing dinilai sangatlah beragam.
Selain melatih kekuatan otot lengan, kaki, dan inti, olahraga ini juga meningkatkan fleksibilitas, keseimbangan, dan koordinasi.
Bagi para ibu, aktivitas ini juga menjadi sarana yang efektif untuk menjaga kepadatan tulang, meningkatkan kesehatan jantung, dan mengurangi stres.
Dengan gerakan yang dinamis dan fokus yang tinggi, panjat tebing juga mengasah fungsi kognitif dan ketahanan mental.
"Untuk keamanan kami ada yang mendapat dari tim Pengda Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) DIY," cetus Galuh.
Galuh mengungkapkan, kegiatan ini sifatnya sangat terbuka untuk siapa saja yang berkeinginan ikut. Tidak hanya untuk para ibu, kegiatan ini juga terbuka bagi para anak muda yang ingin merasakan olahraga panjat tebing.
"Kemarin ada anak-anak cewek kuliahan yang ikut juga. Selain itu banyak juga yang lari-lari di Mandala lalu ikut bergabung," jelasnya.
Sebagai salah satu penggagas, Galuh berharap agar kegiatan ini ke depan bisa diikuti oleh banyak orang.
Sebab ibu-ibu yang sudah rutin menjalani kegiatan ini ingin menjadi contoh nyata bahwa usia bukanlah penghalang untuk memulai atau melanjutkan gaya hidup aktif, bahkan dengan olahraga yang tergolong ekstrem
"Kami fun, tapi kami pengen sehat bareng-bareng," tegasnya.
Sementara Ketua Harian Pengda FPTI DIY Amarsyah menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh kelompok ibu-ibu tersebut.
Sebab dengan adanya kegiatan itu, diharapkan bisa mempromosikan olahraga panjat tebing ke semua masyarakat luas.
Dengan demikian, mereka bisa lebih dekat dan paham, atau bahkan bisa memajukan olahraga panjat tebing DIY maupun Indonesia.
"Selama kegiatan itu didampingi tim yang profesional dan sudah menguasai alat maka itu sangat dibolehkan," tandasnya. (ayu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita