Setidaknya hal itu merujuk dari hasil penjualan tiket pertandingan PSS men-jamu Persibangga Pur-balingga yang terjual se-kitar 21 ribu lembar. Ha-silnya, manajemen menda-pat pemasukan kotor mencapai Rp 600 juta."Padahal Rp 1 miliar bisa untuk membayar gaji pemain, akomodasi tandang, bayar sewa lapangan dan mess. Patut disayangkan," ujar Manajer Opera-sional PSS Sleman Rumadi kepada Radar Jogja, kemarin(31/7).
Karena itu, saat ini pihaknya masih menyusun draft materi banding untuk diajukan ke komisi banding. Ia juga melihat kondisi dan beberapa per-timbangan apakah banding tersebut dapat meringankan atau justru me-nambah hukuman. "Dengan kondisi yang ada kami tentu prihatin. Juga menjadi instrospeksi semua pihak. Karena dari federasi juga ingin per-baikan. Menpora juga meminta kon-solidasi suporter," ungkapnya.
Semakin banyaknya pendu-kung PSS menurutnya juga memiliki sisi positif dan negatif. Termasuk dengan banyaknya anggota supor-ter dalam melakukan kon-trol juga tidak mudah. "Hal ini menjadi pembelajaran berharga bagi kami," tuturnya.
Disinggung mengenai ada-nya isu upaya menjegal PSS untuk tidak promosi ke Liga 1, Ru-madi mengaku tidak ambil pusing. Pihaknya lebih ingin fokus ke internal tim dan melakukan perbaikan."Kami tidak berpikir seperti itu, lebih baik berpikir tim kami sendiri. Kalaupun memang ada, kami tidak mau tahu. Kami ingin sepak bola karena bagian dari sport ya bisa dijalankan secara sportif," tandasnya. (riz/din/ong) Editor : Administrator