Kunjungan Wisata Bantul Turun, Pantai Parangtritis Masih Jadi Magnet Utama

Aris Romadhon • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 20:33 WIB
Wisatawan menghabiskan libur akhir pekan di Pantai Parangtritis dengan bermain air. (Aris Romadhon/Radar Jogja)
Wisatawan menghabiskan libur akhir pekan di Pantai Parangtritis dengan bermain air. (Aris Romadhon/Radar Jogja)

 

RADAR JOGJA - Tren kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bantul dalam beberapa waktu terakhir mengalami penurunan. Kondisi itu diakui Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul yang menyebut terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi naik-turunnya jumlah wisatawan. Mulai kondisi ekonomi hingga semakin banyaknya pilihan destinasi wisata di daerah sekitar.


Bidang Pemasaran Dinpar Bantul Markus Purnomo Adi, menyampaikan secara statistik jumlah kunjungan wisatawan memang menunjukkan tren penurunan. "Kondisi ekonomi secara nasional menjadi salah satu faktor yang turut berpengaruh terhadap mobilitas masyarakat untuk berwisata,” ujarnya.
Selain faktor ekonomi, persaingan destinasi wisata di wilayah tetangga, terutama Kabupaten Gunungkidul, menjadi salah satu pertimbangan wisatawan dalam menentukan tujuan liburan.

Baca Juga: Awal Musim Hujan Diprediksi Mundur Awal Desember, BMKG: Waspada Kekeringan dan Kebakaran 


Menurutnya, Gunungkidul memiliki bentang pantai sekitar 70 kilometer, sedangkan kawasan pantai Bantul hanya sekitar 13 kilometer. Perbedaan panjang kawasan itu membuat pengembangan destinasi di Bantul, khususnya kawasan pantai selatan (Pansela), memiliki tantangan tersendiri.


"Kalau mau dibanding-bandingkan memang agak susah. Panjang pantai di Gunungkidul itu sekitar 70 kilometer. Bantul itu hanya 13 kilometer,” jelasnya.
Meski demikian, kawasan Parangtritis masih menjadi penyumbang terbesar kunjungan wisatawan di Bantul. Markus menyebut destinasi itu tetap menjadi pilihan utama wisatawan ketika berkunjung ke Kabupaten Bantul.


Data jumlah kunjungan ke area wisata di Bantul yang dihimpun Dinpar Bantul tahun 2026 menunjukkan pergerakan yang cukup fluktuatif. Dalam delapan bulan pertama, jumlah pengunjung berturut-turut tercatat sebanyak 155.351 orang, 86.394 orang, 159.181 orang, 106.996 orang, 127.660 orang, 126.864 orang, 187.846 orang, dan 104.487 orang.

Baca Juga: Pemkot Jogja Bakal Hidupkan Lagi Kentongan, Tanda Peringatan Tanda Bahaya


Dengan demikian, Juli menjadi bulan dengan jumlah kunjungan tertinggi, yakni mencapai 187.846 wisatawan. Angka itu naik dibandingkan Juni yang tercatat 126.864 pengunjung. Namun, memasuki Agustus, jumlah kunjungan kembali turun menjadi 104.487 orang dibandingkan bulan sebelumnya.


Markus mengatakan tingginya kunjungan pada Juli tidak terlepas dari momentum libur sekolah. Secara keseluruhan dari Januari hingga Agustus 2026 mencatat 1.054.779 kunjungan wisatawan. “Periode seperti libur sekolah masih mampu mendongkrak jumlah kunjungan secara signifikan,” ujar Markus.


Selain itu, pemerintah juga melakukan pendampingan terhadap para pelaku usaha jasa pariwisata. Pendampingan dilakukan untuk memastikan wisatawan mendapatkan informasi harga yang jelas dan menghindari praktik pematokan harga berlebihan, terutama ketika naiknya jumlah wisatawan.


Pendampingan tersebut, antara lain, menyasar paguyuban bendi, pedagang, fotografer, rumah makan, hingga hotel dan penginapan di kawasan Parangtritis. “Pengusaha harus mencantumkan harga dan memberikan info yang pasti terhadap nominal yang ditawarkan kepada wisatawan,” tambahnya.


Penurunan aktivitas wisata juga dirasakan pelaku usaha di kawasan Parangtritis. Salah seorang pedagang makanan yang tidak bersedia disebutkan namanya, menyampaikan pendapatan mereka saat ini cenderung menurun.


Saat ditemui Radar Jogja (13/9), ia menceritakan salah satu penyebabnya adalah semakin banyaknya pilihan destinasi wisata, terutama di Gunungkidul. Kondisi itu membuat wisatawan memiliki lebih banyak alternatif untuk menghabiskan waktu liburan.

Baca Juga: Bedog Artsfest Ke-16 di Gamping, Sleman Ajak Warga Merawat Sungai lewat Seni


Selain itu, perilaku wisatawan juga turut memengaruhi omzet pedagang. Ia menyebut tidak sedikit rombongan wisatawan yang datang menggunakan bus sudah membawa bekal makanan sendiri. "Kadang bus yang membawa wisatawan membawa makanan sendiri. Kadang pengunjung juga demikian,” ungkapnya.


Kondisi itu menunjukkan ekonomi pedagang tidak selalu mengikuti jumlah kunjungan wisatawan. Walaupun kunjungan meningkat pada momentum tertentu, dampaknya terhadap pedagang tetap bergantung pada bagaimana pola belanja wisatawan. (cr2/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Sumber : Radar Jogja
parangtritis destinasi Kunjungan Wisatawan dinas pariwisata bantul mobilitas