Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Niat Jogging di Malioboro, Wisatawan Ikut Membatik

FA
EVENT PERDANA: Suasana kawasan Malioboro Jogjakarta dalam agenda Simfoni 1001 Pembatik, kemarin (3/10) pagi. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
EVENT PERDANA: Suasana kawasan Malioboro Jogjakarta dalam agenda Simfoni 1001 Pembatik, kemarin (3/10) pagi. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

Advertisement

 

Ribuan Peserta Simfoni 1001 Pembatik Tumpah Ruah Ikut Penasaran Mencoba

JOGJA - Seribuan peserta mengikuti Simfoni 1001 Pembatik dengan membatik bersama di sepanjang Jalan Malioboro, kemarin (3/10) pagi. Kegiatan yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY bersama sejumlah pihak itu turut menarik perhatian wisatawan yang melintas, bahkan beberapa ikut mencoba membatik.

Advertisement

"Animonya sangat tinggi, akhirnya panitia juga harus membatasi karena banyak yang masih ingin ikut. Alhamdulillah, puji syukur karena ini juga dalam rangka nguri-uri kabudayan, terutama di kota Jogja ini," kata Panitia Pengarah Simfoni 1001 Pembatik sekaligus pengurus KADIN DIY Dian Ariani di sela kegiatan.

 Dian menjelaskan, sepanjang ruas jalan sempat ditutup sementara untuk acara tersebut sejak pukul 06.00-09.00. Dan dirancang untuk membawa proses membatik lebih dekat kepada masyarakat. Selain memperingati Hari Batik Nasional, event tersebut menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-270 Kota Jogja.

Advertisement

 Salah satu hal yang ingin diperkenalkan melalui kegiatan tersebut adalah proses membatik itu sendiri. Batik, dinilai tidak semestinya hanya dipahami sebagai pakaian atau motif yang dikenakan pada acara tertentu.

 Terlebih, peserta yang datang tidak hanya berasal dari kalangan pembatik atau komunitas budaya. Anak-anak muda, mahasiswa, hingga masyarakat dari luar daerah turut ambil bagian.

 "Bagaimana proses membatik, membudayakan batik itu tidak cuma ke orang-orang tua atau pembatik ya, termasuk ke anak-anak muda," ujarnya.

 Sepanjang lokasi kegiatan, peserta mengerjakan kain yang telah diberi pola. Motif yang digunakan beragam, termasuk motif yang merepresentasikan Sumbu Filosofi DIY, seperti Gunung Merapi, Tugu, Keraton, Panggung Krapyak hingga sejumlah ikon Jogja lainnya, seperti becak dan andong yang menjadi bagian dari pola yang dibatik.

Kawasan Jalan Malioboro sendiri dipilih karena dalam jalur sumbu filosofi, juga merupakan salah satu pusat aktivitas wisata di Kota Jogja. Dengan begitu, proses membatik dapat disaksikan langsung oleh masyarakat maupun wisatawan yang sedang berada di kawasan tersebut.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Hari Batik Nasional, SMAN 1 Klirong Kebumen Hadirkan 1.000 Motif Kreasi Siswa dan Guru

Hari Batik Nasional, SMAN 1 Klirong Kebumen Hadirkan 1.000 Motif Kreasi Siswa dan Guru

Murid SMAN 1 Klirong antusias membatik menggunakan canting di atas selembar kain. Kegiatan ini dikemas dalam satu rangkaian peringatan Hari Batik Nasional. (M Hafied/Radar Jogja)

Regenerasi Perajin dan Tren Busana, Upaya Menjaga Eksistensi Batik di Era Modern

Regenerasi Perajin dan Tren Busana, Upaya Menjaga Eksistensi Batik di Era Modern

Peringatan Hari Batik Nasional 2026 menjadi momentum regenerasi budaya. Kini batik tak lagi sekadar kemeja kaku untuk kondangan, melainkan makin dekat dengan gaya hidup dan tren fashion kasual anak muda masa kini.

Pegawai di Lingkungan Pemerintah Daerah hingga BUMD DIY Diminta Pakai Batik Sebulan Penuh   

Pegawai di Lingkungan Pemerintah Daerah hingga BUMD DIY Diminta Pakai Batik Sebulan Penuh  

Bukan sehari, tetapi sebulan penuh. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY meminta pegawai di lingkungan pemerintah daerah hingga badan usaha milik daerah (BUMD) mengenakan pakaian batik setiap hari selama Oktober.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer