JOGJA - Aksi unjuk rasa yang digelar Aliansi Mahasiswa UGM di Simpang Empat Gramedia Selasa (1/9) menelan beberapa korban. Dikabarkan, enam mahasiswa dibawa ke rumah sakit karena terluka. Sempat terjadi kesalahpahaman antara masa aksi dengan warga sekitar, karena adanya penutupan jalan dan aksi yang dilakukan hingga malam hari yang memicu keributan.
Kabidhumas Polda DIY Kombes Pol Ihsan mengatakan, korban mengalami luka ringan disebabkan karena terjatuh saat adanya keributan antar warga dan massa yang saling dorong. Namun, kini korban telah mendapatkan penanganan medis dan telah dilakukan evakuasi mandiri menggunakan unit ambulans dari pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) ke Rumah Sakit Panti Rapih.
"Malam ini (tadi malam) juga telah kembali ke rumah masing-masing," katanya dalam keterangan resminya Selasa (1/9/2026).
Selain peserta aksi yang menjadi korban, beberapa personel Polresta Jogjakarta juga terkena semprotan yang diduga cairan merica. Untungnya personel tersebut langsung diberikan penanganan awal.
Polda DIY memastikan aksi unjuk rasa ini berakhir dengan aman, tertib, dan kondusif. Massa telah membubarkan diri pukul 22.15. Arus lalu lintas di sekitar Simpang Empat Gramedia pun telah kembali normal dan dapat dilalui oleh masyarakat.
Baca Juga: PHRI Dorong Borobudur Jadi Titik Temu Bisnis Pariwisata, Usul Culinary Challenge Jadi Agenda Tahunan
Sebagai antisipasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan untuk menjamin rasa aman, pihaknya menggelar kegiatan patroli rutin di berbagai titik strategis setelah aksi unjuk rasa selesai.
"Mohon utamakan keselamatan selama di perjalanan. Mari bersama-sama kita jaga ketenangan dan kondusivitas malam hari ini di Jogjakarta," imbaunya.
Sementara itu, perwakilan aksi unjuk rasa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Mesa mengatakan, tuntutan dalam aksi ini mengenai alokasi anggaran negara yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat kecil. Terutama anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai terlalu besar dibandingkan dengan anggaran pendidikan ataupun penanganan bencana.
Baca Juga: Selama Agustus, 33 Ribu Jiwa Warga Kebumen Bergantung Droping Air Bersih
"Kita saat ini juga masih dijajah oleh anggaran APBN," kritiknya.
Dia pun menyinggung bencana yang terjadi di sejumlah daerah yang seharusnya membutuhkan perhatian lebih besar dari pemerintah. Seperti bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatera, dan Kalimantan.
"Kami juga mengkritik program Koperasi Desa Merah Putih serta kebijakan yang dianggap mengurangi ruang otonomi desa," katanya.
Lanjutnya, Simpang Gramedia dipilih menjadi lokasi unjuk rasa karena dinilai menjadi salah satu titik strategis di Kota Jogjakarta. Sehingga aspirasi mereka diharapkan dapat terdengar lebih luas.
Baca Juga: Demo Aliansi Masyarakat Sipil hingga Malam Hari di Simpang Empat Gramedia Sempat Memanas
"Di tempat ini apa yang jadi keresahan juga bisa mewakili orang-orang yang tidak bisa melakukan aksi karena tuntutan pekerjaan, kondisi ekonomi, kebijakan, regulasi, dan banyak pengabdian negara," terangnya.
Mesa mengatakan, aksi ini pada awalnya diinisiasi oleh Aliansi Mahasiswa UGM. Namun dalam proses konsolidasi berkembang menjadi Aliansi Masyarakat Sipil dengan melibatkan berbagai unsur Mahasiswa lintas organisasi, kampus, dan masyarakat umum.
Mahasiswa UPN Veteran Jogjakarta Risyad mengatakan, dalam aksi unjuk rasa ini, sekitar 200 tuntutan dilayangkan. Menurutnya banyak persoalan pada pemimpin saat ini yang seharusnya mendapatkan kritikan. (cin)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja