JOGJA – Usianya baru tiga tahun, tapi becak listrik (belis) produksi Selis bantuan Pemprov DIY sudah rusak. Dari 50 armada belis yang diserahkan melalui Dinas Perhubungan DIJ pada 23 Desember 2023 itu, 35 di antaranya tak bisa dipakai saat ini.
“Hampir 70 persen becak listrik keluaran 2023 mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan untuk bekerja,” kata Ketua Koperasi Koperasi Jasa Becak Wisata Jogjakarta Petrus Juli Hartono, saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Selasa (4/8).
Jumlahnya ada 35 armada, lantaran saat itu pengemudi mendapatkan bantuan 50 becak listrik. Armadanya diketahui bantuan dana keistimewaan (danais) produsen Selis.
Baca Juga: Sebut BPKP Juga Berhak Mengaudit, Polda dan Kejati DIY Siap Hadapi Sidang Praperadilan Reno
Dari laporan anggotanya, Petrus menyebut, kerusakan armada belis mendominasi pada komponen baterai dan sistem pengkabelan. Pengemudi pun sulit melakukan perbaikan secara mandiri. Lantaran suku cadang becak listrik tergolong cukup mahal.
Selain kerusakan komponennya, Petrus juga mendapat keluhan dari anggotanya karena belis tersebut juga tidak memiliki shockbreaker. Sehingga dinilai kurang layak untuk mengangkut penumpang. Padahal dari informasi yang diperolehnya, satu armada belis tersebut dibuat dengan anggaran sebesar Rp 43 juta.
“Sangat disayangkan kalau anggaran besar tapi akhirnya rusak dan tidak bisa dipakai kerja, sebelum becak listrik itu diproduksi lebih banyak, saya cuma minta satu agar dicoba di lapangan,” saran Petrus .
Baca Juga: Daftar Tanggal Merah Agustus 2026, Ada Kesempatan Libur Panjang 4 Hari Cocok untuk Mengajukan Cuti
Petrus membeberkan, selama tiga tahun terakhir ini telah mendapatkan bantuan sebanyak 140 unit becak listrik konversi dari bentor. Selain 50 unit di 2023, ada 40 unit di 2024, lalu 2025 disalurkan 50 unit. Kemudian tambahan yang akan disalurkan tahun ini berjumlah 80 unit.
Dari jumlah becak listrik itu, Petrus menyebut baru mengakomodir 20 persen dari populasi bentor yang beroperasi di Malioboro. Dia menyebut, masih ada sekitar 700 bentor yang belum dikonversi.
Sehingga ia berharap agar pemprov maupun pemkot tidak terburu-buru menerapkan kawasan Malioboro menjadi full pedestrian sebelum seluruh armada bentor diganti dengan belis sepenuhnya.
“Kami siap full pedestrian. Tapi kalau belum terealisasi semua, ya jangan dibatasi dulu. Kasihan teman-teman yang menafkahi anak dan istri,” bebernya.
Selain soal armada, Petrus juga mendorong pemerintah untuk menyiapkan fasilitas pendukung bagi belis. Misalnya stasiun pengisian. Lantaran saat ini baru ada satu titik stasiun pengisian di Tempat Khusus Parkir (TKP) Ketandan. Jumlah stasiun pengisian yang terbatas itu, dinilai berisiko membuat listrik nge-drop jika digunakan secara bersamaan oleh puluhan becak.
Di sisi lain, daya jelajah baterai becak listrik terbilang terbatas sekitar 40–43 kilometer dengan durasi pengisian mencapai empat jam hingga lima jam. Kondisi ini menyulitkan para pengemudi yang tinggal cukup jauh dari pusat Kota Jogja.
Dia mencontohkan, misalnya pengemudi dari wilayah Bantul seperti Pundong atau Pandak. Mereka harus menempuh jarak sekitar kilometer hanya untuk sampai ke Malioboro. Namun setibanya di lokasi, daya baterai sudah menipis.
Sehingga pengemudi harus mengisi daya selama 4–5 jam sebelum bisa menarik penumpang. “Nanti setelah nge-charge baterainya penuh, sudah malam. Tamunya juga sudah enggak ada, kan kasihan juga,” ungkap Petrus.
Koperasi berharap pemerintah dapat memberikan solusi nyata berupa penyediaan kantong parkir khusus yang dilengkapi fasilitas charging yang memadai. Supaya bisa digunakan untuk menempatkan armada becak listrik bagi pengemudi yang jauh dari pusat kota. “Yang dekat (armadanya) boleh lah dipulangkan. Tapi kalau yang jauh-jauh kan bisa diparkirkan," ungkapnya.
Baca Juga: DPUP ESDM DIY Tegaskan Pelaku Usaha Tambang Wajib Tingkatkan Kualitas Jalan
Sebelumnya, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengungkap ada sekitar 700-an unit bentor yang belum dikonversi menjadi belis. Untuk menutup kekurangan tersebut, pemkot membuka ruang kolaborasi dengan berbagai mitra BUMN.
Selain mengandalkan dana kemitraan, Hasto juga telah menyiapkan skema cadangan melalui anggaran APBD tahun 2027 sebesar Rp10 miliar hingga Rp15 miliar. Dengan estimasi harga per unit belis mencapai Rp35 juta, alokasi APBD tersebut diperkirakan sanggup menambah 300 hingga 400 unit becak listrik baru.
“Menghilangkan becak motor itu kan bertahap, sesuai dengan kemampuan kita menyediakan becak listrik. Karena kalau kemudian dihilangkan semua juga kurang, tidak memadai untuk memberi fasilitas pada pariwisata,” ujar Hasto di sela peluncuran Becak Kayuh Listrik Pariwisata (Bekalista) di Sasono Hinggil beberapa waktu lalu. (inu/pra)
Editor : Heru Pratomo