Trotoar di Kota Jogja Belum Ramah Difabel, Tertutup Lapak PKL hingga Licin

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 08:09 WIB

 

Penyandang tunanetra melintas di trotoar Jalan Parangtritis, Kota Jogja, kemarin (23/7). Sejumlah trotoar di Kota Jogja belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas, terutama tunanetra, lantaran masih banyak yang belum dilengkapi jalur pemandu (guiding block), atau jalurnya terputus maupun terhalang berbagai fasilitas.
Penyandang tunanetra melintas di trotoar Jalan Parangtritis, Kota Jogja, kemarin (23/7). Sejumlah trotoar di Kota Jogja belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas, terutama tunanetra, lantaran masih banyak yang belum dilengkapi jalur pemandu (guiding block), atau jalurnya terputus maupun terhalang berbagai fasilitas.

 

JOGJA – Trotoar dengan guiding block belum bisa disebut ramah bagi difabel. Seperti trotoar di Jalan Parangtritis. Karena menggunakan keramik, jutsru membahayakan bagi panyandang disabilitas.

“Di situ sangat licin untuk kami, saya pernah kepleset disitu. Kadang juga ada pohon dan pedagang, kadang kami ada yang nabrak” ungkap Dewan Pengurus Daerah Persatuan Tunanetra Indonesia (DPD Pertuni) DIJ Dwi Nugroho, Kamis (23/7)

Dwi menyebut, meskipun sudah ada guiding block, fasilitas trotoar justru menggunakan keramik. Sehingga ketika hujan cenderung licin dan membahayakan orang yang memiliki keterbatasan penglihatan.

Baca Juga: Huistra Bangun DNA Baru PSS Sleman: Sepak Bola Menyerang dan Dominasi Bola Jadi Identitas Musim Depan

 Selain licin, masalah lain seperti banyaknya lapak pedagang dan pepohonan juga menjadi kesulitan bagi penyandang tunanetra.

Selain di Jalan Parangtritis, menurutnya masih ada titik trotoar lain yang kurang memfasilitasi penyandang tunanetra. Misalnya di Jalan Timoho, pada titik tersebut ada sebagian yang belum dipasang guiding block. Kemudian guiding block di Jalan Jendral Sudirman tepatnya kawasan Galeria Mal juga cenderung sempit dan mepet dengan jalan raya.

Tidak hanya trotoar, aksesibilitas layanan transportasi umum seperti Trans Jogja juga mendapat catatan. Dwi mengeluhkan keberadaan halte yang hanya berupa garis batas di jalan tanpa bangunan selter fisik maupun petugas

Baca Juga: Temui Sri Sultan HB X, Gerakan Nurani Bangsa Sampaikan Keresahan: Soroti Lemahnya Penegakan Hukum hingga Militerisasi Ruang Sipil

 “Kalau cuma garis itu kami kesusahan. Karena kami kan penglihatannya terbatas,” ungkapnya.

Mendapat keluhan, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja Hasri Nilam Baswari tidak menampik fasilitas trotoar di wilayahnya belum ramah difabel. Salah satu faktornya karena sebagian trotoar belum memenuhi standar lebar ideal bagi difabel.

Baru 20 persen trotoar di Kota Jogja yang memiliki lebar 1,1 meter atau angka minimal yang nyaman bagi difabel. Namun untuk fasilitas guiding block ia mengklaim sudah 80 persen trotoar memiliki. “Cuma masalahnya guiding block itu kemudian tertutup lapak PKL,” beber Nilam.

Baca Juga: Peringati Hari Anak Nasional 2026, Ini dia 5 Rekomendasi Wisata Edukatif dan Ramah Anak di Jogja! 

Soal keramik di trotoar Jalan Parangtritis? Dia mengakui karena menggunakan keramik dan memiliki kontur naik turun. Nilam tidak berdalih pembangunan trotoar di Jalan Parangtritis belum melibatkan penyandang disabilitas. Lantaran infrastruktur lama yang dibangun sekitar 2010-2011 an.

Sebagai bentuk evaluasi, ia memastikan infrastruktur jalan yang baru dibangun akan disesuaikan dengan kebutuhan disabilitas. “Untuk guiding block, secara bertahap kami usahakan bisa terpasang di semua trotoar di Kota Jogja,” tegasnya. (inu/pra)

Editor : Heru Pratomo
penyandang disabiliitas tunanetra Kota Jogja guiding block trotoar ramah difabel