JOGJA - Polemik pembatasan gerakan Jogja Last Friday Ride (JLFR) untuk masuk ke kawasan Malioboro mendapat komentar dari Herry Zudianto. Mantan Wali Kota Jogja periode 2001-2006 dan 2006-2011, sekaligus sosok pencetus gerakan Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe (Sego Segawe) itu menitipkan pesan agar gerakan anak-anak muda yang mencintai kegiatan bersepeda bisa dirangkul.
Herry mengatakan, kegiatan bersepeda bersama setiap Jumat terakhir di akhir bulan tersebut seharusnya diwadahi dan dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah. Bukan justru dibatasi. Sebab kegiatan yang didominasi oleh anak muda itu dinilai bisa menjadi daya tarik wisata rutin bulanan yang positif, jika diberi sentuhan seni dan budaya lokal.
“Menurut saya, kenapa enggak malah dikelola dengan baik untuk jadi event rutin bulanan wisata. Jadi orang kalau mau menikmati Jogja malam hari setiap tanggal ini, mereka ke Jogja, menginap, lalu malamnya pit-pitan (bersepeda)," ujar Herry dalam wawancara kepada Radar Jogja melalui panggilan video, Kamis (9/7/2026) malam.
Baca Juga: Perda KTR Longgar, Reklame Rokok Tak Berizin Bermunculan di Kulon Progo
Soal animo massa dalam jumlah besar setiap JLFR digelar, Herry memandang fenomena tersebut merupakan hal yang wajar sebagai ruang aktualisasi diri. Bahkan justru dengan bersepeda malah menjadi bentuk kegiatan positif.
Dibandingkan dengan tren negatif seperti aksi kejahatan jalanan (klitih) atau kebut-kebutan motor. Menurutnya, kegiatan bersepeda bersama jauh lebih aman dan membawa dampak psikologis positif bagi generasi muda.
“Kalau ada ekses (dampak negatif) di jalanan, itulah yang seharusnya dikelola dan diminimalisir oleh pemerintah daerah, agar lebih tertib dan menyenangkan," imbuhnya.
Secara khusus, Herry juga berharap semangat gerakan Sego Segawe dapat terus dihidupkan. Terutama bagi kalangan pelajar SMA agar tidak ketergantungan pada sepeda motor yang cenderung konsumtif dan hedonis.
“Jadikan bersepeda menjadi kearifan lokal yang terus di uri-uri,” pesan lulusan magister manajemen Universitas Islam Indonesia itu.
Sebagaimana diketahui, pembatasan sepeda masuk ke kawasan Malioboro berawal dari rentetan aduan dan insiden penyumbatan lalu lintas. Dampak dari lonjakan jumlah peserta yang mencapai ribuan pada gelaran JLFR edisi ke-184 dan ke-185.
Tindakan pembatasan resmi dari kepolisian dan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja dilakukan pada 26 Juni saat perhelatan JLFR edisi ke-194. Sampai saat ini, pemerintah dan kepolisian secara tegas menutup akses Malioboro bagi JLFR berikutnya.
Sebelumnya, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengungkapkan aktivitas bersepeda dalam JLFR memang tidak jarang mengganggu arus lalu lintas. Sebab jumlahnya sangat besar dan tidak terduga.
Mantan Bupati Kulon Progo itu menegaskan, pihaknya akan tetap membatasi akses bagi aktivitas JLFR di Malioboro. Terlebih jika dalam kegiatan mereka bersepeda masih tidak terkoordinasi atau semrawut.
“Kalau kita dikeroyok sepeda tanpa aturan, tidak ada koordinasi, kan sulit sekali. Maka akhirnya kita menutup jalur-jalur tertentu hanya pada saat itu saja,” bebernya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin