JOGJA - Suara panci beradu dengan sendok logam memecah sore di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Jumat sore (3/7). Dentingnya bukan panggilan makan malam dari dapur rumah, melainkan penanda bahwa para ibu sedang menyuarakan keresahan. Di tangan mereka, panci berubah menjadi alat protes. Di pundak mereka, keresahan keluarga merupakan bahan bakar untuk menyampaikan kemuakkan kepada negara.
Ratusan orang memadati pelataran Bundaran UGM. Mayoritas adalah perempuan dari berbagai usia. Ada ibu rumah tangga, pekerja, mahasiswa, hingga seniman. Sebagian membawa poster bertuliskan kritik, sebagian lagi menggenggam berbagai jenis sayuran. Di tengah kerumunan, sesekali terdengar teriakan orator, "Yang capek jadi WNI, bunyikan klaksonmu!"
Belum sempat kalimat itu menghilang, suara klakson dari puluhan sepeda motor bersahutan. Berulang-ulang. Seolah menjadi jawaban spontan dari pengguna jalan yang melintas. Pemandangan itu berlangsung sepanjang aksi. Klakson, tepuk tangan, dan denting panci silih berganti.
Berbeda dari demonstrasi pada umumnya, aksi yang digagas Ibu Berisik Jogjakarta tidak hanya dipenuhi orasi. Di sela-sela tuntutan, mereka membagikan puluhan ikat sayuran kepada pengendara yang melintas. Sawi, bayam, kangkung, hingga selada berpindah tangan hanya dalam hitungan menit. Tidak ada syarat. Tidak ada pungutan. Senyum para pengendara menjadi balasan atas solidaritas yang lahir di tengah jalan. Bagi Ibu Berisik, membagi sayuran bukan sekadar aksi berbagi.
"Itu organik saja. Kami bergerak bersama teman-teman petani. Kebetulan sedang ada hasil panen berlebih yang ingin dibagikan," ujar salah satu perwakilan Ibu Berisik yang meminta identitasnya tidak disebutkan.
Namun, di balik sayuran itu tersimpan kritik. Mereka menilai sejumlah kebijakan pemerintah, terutama program makan bergizi gratis (MBG), berdampak pada tata niaga komoditas pangan. Menurutnya, narasi harga sayur anjlok saat program berhenti tidak sepenuhnya benar.
"Petani menerima harga yang sama dari tengkulak. Jadi acara bagi-bagi sayur ini juga bentuk solidaritas kepada petani," katanya.
Gerakan ibu berisik lahir dari sesuatu yang sederhana, keresahan. Tidak berasal dari organisasi besar. Tidak pula digerakkan partai politik. Mereka sekumpulan warga yang merasa perlu melakukan sesuatu ketika kebijakan pemerintah semakin jauh dari kepentingan masyarakat. "Kalau dihitung mungkin ini sudah aksi ketujuh atau kedelapan. Kami benar-benar berangkat dari rumah, berangkat dari keresahan terhadap kondisi negara," tuturnya.
Ia mengaku harapan awal mereka sederhana, yakni suara masyarakat didengar pemerintah. Namun, setelah berkali-kali turun ke jalan, harapan itu belum juga terwujud.
"Kalau ternyata tidak didengar, paling tidak ketika kami berkumpul, kami bisa saling bertemu dan membuang resah bersama-sama."
Dari situlah lahir mars Ibu Berisik yang kini menjadi identitas gerakan mereka. Dari rumah turun ke jalan. Kalimat sederhana itu bukan sekadar lirik lagu. Melainkan, tentang perempuan-perempuan yang selama ini lebih akrab dengan dapur daripada mimbar demonstrasi.
Tentang ibu yang biasanya sibuk menyiapkan makan keluarga, kini meluangkan waktu mempersiapkan poster tuntutan. Panci yang mereka bawa pun bukan tanpa makna. "Itulah senjata yang kami punya. Kami tidak memegang kekuasaan atas anggaran negara. Kami tidak memegang senjata. Jadi yang bisa kami bawa dari rumah ya panci dan alat masak."
Baca Juga: PSS Sleman Dikabarkan Tertarik Muhammad Ragil untuk Menambah Kedalaman Lini Depan
Bagi mereka, suara logam yang dipukul bersama-sama menjadi simbol perlawanan tanpa kekerasan. Sore itu, aksi tidak hanya diwarnai orasi. Seniman, musisi, dan pekerja seni ikut membaur. Menjelang senja, massa yang semula berdiri perlahan duduk melingkar. Di tengah mereka hadir kelompok musik Mother Bank. Tak lama kemudian, terdengar lagu yang baru pertama kali diperdengarkan kepada publik.
"Ibu berisik... Ibu melawan... Ibu bergerak... Ibu merawat..."
Satu per satu peserta aksi ikut berdiri. Sebagian mengepalkan tangan. Sebagian mengayunkan kepala mengikuti irama. Suara mereka membesar ketika lirik itu memasuki bagian yang paling akrab dengan pengalaman mereka."Ibu bergerak... dari rumah turun ke jalan..."
Baca Juga: PSS Sleman Umumkan Perpisahan dengan Nuri Fasya
Musisi Leilani Hermiasih, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Frau, mengatakan lagu tersebut lahir dari proses panjang bersama Ibu Berisik dan Mother Bank. Mereka berkeliling ke sejumlah kota untuk belajar dari kelompok-kelompok perempuan yang aktif bergerak di ruang publik.
"Di Jogja kami memutuskan membuat dua lagu. Satu mars untuk aksi demonstrasi, satu lagi sebagai arsip gerakan. Kami merasa penting mengarsipkan perjuangan Ibu Berisik lewat lagu," ujarnya.
Proses kreatifnya hanya berlangsung sekitar sepekan. Namun baginya, lagu itu menyimpan pesan yang jauh lebih besar. Menurutnya, ibu-ibu punya peran penting dalam demokrasi. Selama ini, kata dia, ibu dianggap perannya hanya di rumah. Padahal, ibu bisa turun ke jalan dan punya peran yang sangat penting dalam demokrasi.
Baca Juga: Van Gastel Ungkap Alasan Betah di Indonesia, dari Pekerjaan hingga Pesona Asia
Menjelang aksi berakhir, tujuh tuntutan kembali dibacakan. Mulai dari evaluasi program yang dinilai memboroskan anggaran negara, stabilisasi harga pangan, peninjauan kebijakan pajak bagi pelaku usaha kecil, peningkatan kesejahteraan pekerja prekariat termasuk pengemudi ojek daring, jaminan pasokan listrik, hingga penghentian kriminalisasi terhadap aktivis dan pembebasan tahanan politik.
Namun mungkin yang paling membekas bukanlah daftar tuntutan itu. Melainkan suara panci yang dipukul bersama-sama. Suara yang lahir dari dapur. Lalu dibawa keluar rumah. Dan sore itu, bergema di jalanan Jogja sebagai pengingat bahwa bagi para ibu, kemarahan bukan sekadar bentuk perlawanan. Kemarahan juga bisa menjadi cara merawat.
“Beginilah kalau ibu sudah berisik, pertemuan di jalan menjadi satu keyakinan bersama, perlawanan,” tutup Ibu Berisik mengakhiri. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo