JOGJA - Kenaikan harga pakan ayam yang terjadi berulang kali dalam sebulan membuat Kelompok Tani Winongo Asri di Kelurahan Patangpuluhan, Kemantren Wirobrajan, Kota Jogja semakin terjepit.
Biaya pakan kini mencapai Rp 15,4 juta per bulan, sementara harga telur di pasaran justru turun. Ini membuat margin keuntungan peternak terus menipis dan mengancam keberlangsungan usaha mereka.
Sekretaris Kelompok Tani Winongo Asri Herwulan mengatakan, nominal biaya tersebut terbilang sangat besar bagi usaha yang dikelola mandiri masyarakat.
“Harga pakan saat ini terus naik, terkadang hingga dua kali dalam sebulan,” ujar Wulan sapaannya saat ditemui, Rabu (1/7/2026).
Baca Juga: Shayne Pattynama Dirumorkan ke PSS Sleman? Manajemen: Ditunggu Saja!
Wulan mengungkapkan, harga pakan ayam yang terus meroket membuat margin keuntungan kelompok tani semakin kecil. Hasil penjualan telur probiotik di kisaran Rp 19 hingga Rp 22 juta per bulan hanya menutup operasional kandang.
Padahal selain pakan, kelompok tani juga harus membiayai tenaga kerja, pemeliharaan teknis, dan vitamin. Belum lagi kewajiban menyisihkan dana untuk peremajaan ayam saat masa produktifnya habis.
Kondisi tersebut juga diperparah dengan harga pasaran telur yang saat ini sedang turun di kisaran Rp 19-20 ribuan per kilogram. Jenis telur probiotik yang dikembangkan oleh Kelompok Tani Winongo Asri dengan harga jual Rp 24 ribu per kilogram sulit bersaing di pasaran.
Baca Juga: Tarif Retribusi Rp 5000 per Orang Mulai Berlaku
“Jadi ya sangat mepet sekali (keuntungannya), kalau seperti ini terus kami jelas tidak bisa bertahan,” tandasnya.
Menghadapi kondisi yang semakin sulit, dia berharap pemerintah kota (pemkot) mengambil langkah intervensi. Ia menekankan pentingnya stabilisasi harga pakan dan telur agar para peternak kecil tidak terus-menerus terjepit.
Sebab hanya dengan harga pakan yang terkendali, peternak kecil bisa tetap menjaga produktivitas usaha dan memberikan harga komoditas yang terjangkau untuk masyarakat.
Baca Juga: Bisa Bikin Panas hingga Sesak Napas, Waspadai Sengatan Ubur-Ubur
"Kami ingin ada peran nyata pemerintah untuk mengendalikan harga pakan dan menjaga stabilitas harga telur di pasaran,” harap Wulan.
Radar Jogja telah berupaya meminta tanggapan dari Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja Sukidi, dan Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja Eny Sulistyowati terkait dengan keluhan kelompok tani.
Namun hingga berita ini ditulis kedua pejabat tersebut belum memberi tanggapan. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita