SLEMAN - Calon siswa jenjang SMA yang hendak mendaftar sekolah di DIY dapat mengikuti proses sistem penerimaan murid baru (SPMB) 2026. Ada berbagai jalur yang dibuka dengan kriteria masing-masing. Meski demikian, nilai calon siswa tetap jadi faktor penting yang dapat memengaruhi proses penerimaan.
Pengamat Pendidikan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta Khamim Zarkasih Putro menjelaskan, dalam SPMB saat ini nilai tidak lagi jadi satu-satunya indikator kelolosan siswa. Pendidikan kini dirancang untuk lebih inklusif dengan program afirmasi.
Mereka yang berasal dari ekonomi tidak mampu hingga disabilitas memiliki peluang yang sama untuk masuk dalam sekolah favorit. "Jadi nyatanya memang realitas sosial di DIY itu orang tua sangat bervariasi," katanya, Minggu (21/6).
Baca Juga: Seragam Gratis bagi Siswa Baru di Bantul Masih Tunggu Hasil Final Jumlah Pendaftar
Hanya saja dia sebut bukan berarti nilai tidak penting. Mengacu Keputusan Gubernur DIY Nomor 95 Tahun 2026 diterapkan nilai gabungan. Di sini nilai tes kemampuan akademik (TKA) dan nilai tes kemampuan akademik daerah (TKAD) diberikan bobot 60 persen. Lalu ditambah nilai rata-rata penghitungan rapor mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA dari semester satu sampai semester lima. Bobotnya sebesar 40 persen.
Menurut Khamim, dengan adanya bobot pada nilai rapor ini diharapkan bisa jadi cerminan prestasi siswa secara menyeluruh. Tidak hanya menitikberatkan pada satu kali ujian saja. Hanya saja hal terpenting adalah memastikan masing-masing sekolah memiliki standar yang ideal agar menghindarkan kecenderungan sekolah mengkatrol nilai siswa. Dia sebut peran pengawas sekolah sangat krusial di sini.
"Tapi kalau dilihat saat ini ada kesibukan dalam menambah nilai-nilai prestasi, seperti bidang olahraga atau kesenian," ujarnya.
Baca Juga: Kuota SRMA 43 Magelang Turun 70 Persen, Hanya Tersedia 30 Kursi karena Fasilitas Terbatas
Secara aturan apabila calon murid memiliki prestasi akademik atau nonakademik maka bisa bisa menjadi nilai tambah pada nilai gabungan. Khamim menilai giatnya siswa mencari nilai tambah terjadi karena masing-masing jalur memiliki batasan kuota.
Misalnya, kuota jalur domisili wilayah sebesar 30 persen, kuota jalur domisili radius sebesar lima persen, dan kuota jalur afirmasi 30 persen. Dengan kondisi semacam ini perbedaan angka sekecil apapun dia sebut bisa jadi berpengaruh dalam menentukan kelulusan.
"Kalau TKA relatif sama gitu. Jadi kalau ada prestasi sekecil apa pun nanti bisa menjadi pembeda. Agar dia masuk di sekolah yang diidam-idamkan," ujarnya.
Hal itu masuk akal jika mempertimbangkan ketentuan tiap-tiap jalur. Misalnya pada jalur domisili radius, calon murid yang dinyatakan tidak diterima masih diberikan kesempatan untuk dapat melakukan pendaftaran SPMB pada jalur domisili wilayah.
Lalu ketika pendaftar jalur domisili wilayah melebihi daya tampung maka akan dilakukan seleksi berdasarkan sejumlah prioritas. Pertama, domisili berdasarkan rayon, nilai gabungan, pilihan satuan pendidikan dan/atau pilihan konsentrasi keahlian, lalu terakhir calon murid yang mendaftar lebih awal.
Jika menilik aturan SPMB prestasi yang diberikan nilai tambah ada dua jenis. Pertama, prestasi akademik di bidang sains, teknologi, riset, inovasi, dan/atau bidang akademik lainnya. Lalu prestasi nonakademik, yakni prestasi di bidang seni, budaya, bahasa, olahraga, dan/atau bidang non akademik lain; lalu pengalaman sebagai ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), ketua Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM), ketua Majelis Perwakilan Kelas (MPK) dan/atau aktif dalam organisasi kepanduan.
Baca Juga: Rahasia Bakpia Kurnia Sari Bertahan sejak 1962 hingga Jadi Oleh-Oleh Favorit Yogyakarta
Nilai prestasi calon murid akan ditambahkan pada nilai gabungan setelah mendapatkan surat keterangan penambahan nilai dari Panitia DIY. Nilai tambahan yang bisa diraih ini tak main-main. Jumlah maksimalnya hingga 15 poin untuk prestasi tingkat internasional bagi lomba perseorangan atau dobel juara satu.
"Orang tua sekarang harus mencermati regulasi sekarang, karena hampir tiap tahun berubah. Kalau tidak cermat, mungkin agak kaget juga," ujarnya. (del/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita