Masjid Jogokariyan Jogja mencatat peningkatan signifikan jumlah hewan kurban pada Idul Adha 1447 Hijriah atau 2026. Tahun ini, panitia menerima total 160 hewan kurban yang terdiri dari 80 sapi dan 80 kambing. Prosesi penyembelihan pun melibatkan relawan hingga menjadi tontonan warga dan pendatang.
Muhammad Huda sengaja datang ke Masjid Jogokariyan, Rabu (27/5) karena ramai jadi konten di media sosial soal penyembelihan hewan kurban di sana. Mahasiswa asal Pacitan yang datang untuk menyaksikan langsung proses penyembelihan.
Ia mengaku penasaran dengan sistem kurban di masjid yang terletak di Mantrijeron Kota Jogja itu. Terutama soal proses penyembelihan yang cepat dan tertata. "Karena saya tidak pulang, jadi coba ke sini juga untuk lihat prosesnya," ungkapnya.
Baca Juga: Kurangi Sampah Plastik Saat Idul Adha, Warga Hargomulyo Gunakan Besek untuk Wadah Daging Kurban
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga tersebut juga menilai suasana gotong royong yang terlihat di lokasi menjadi pengalaman berbeda baginya sebagai perantau yang tidak mudik saat Idul Adha tahun ini."Walaupun nggak pulang kampung, suasananya tetap terasa hangat karena ramai dan banyak relawan yang terlibat," paparnya.
Tak hanya yang datang menonton. Ratusan orang pun berebut menjadi sukarelawan. "Dari panitia menyediakan kaus sekitar 700-an, dan semuanya habis," ujar Ketua Panitia Idul Adha Masjid Jogokariyan Suratno Wijaya.
Menurut dia, ada sekitar 500 panitia dan relawan diterjunkan. Jumlah itu belum termasuk sekitar 150 relawan tambahan yang mendaftar langsung pada hari pelaksanaan.
Baca Juga: Oven Pengering Jadi Pemicu Kebakaran, Usaha Kerajinan di Wonosari Alami Kerugian Rp 10 Juta
Dalam pelaksanaannya, Masjid Jogokariyan juga mempertahankan sejumlah sistem yang selama ini menjadi ciri khas pelaksanaan kurbannya. Salah satunya adalah penggunaan monitoring digital antardivisi yang memungkinkan panitia melakukan laporan perkembangan hampir setiap 15 menit, mulai dari penyembelihan hingga distribusi.
Kepanitiaan tahun ini terdiri dari sekitar 40 divisi, mulai dari divisi jagal, boning, pemotongan tulang, hingga distribusi. Menurut Ratno, pengaturan ulang personel antar-divisi dilakukan untuk meningkatkan efektivitas kerja."Personel yang lebih banyak kami oper, kami bagi-bagi supaya kerjanya juga lebih efektif," ulasnya.
Dari total 160 hewan kurban tahun ini, sebanyak 78 sapi disembelih di Masjid Jogokariyan, sementara dua sapi lainnya didistribusikan ke wilayah yang jumlah hewan kurbannya masih minim. Adapun untuk kambing, sebanyak 70 ekor disembelih di Jogokariyan, dan sisanya didistribusikan ke desa binaan untuk kegiatan dakwah pedesaan.
Selain itu, Masjid Jogokariyan juga memiliki tim khusus pencari sapi yang langsung mendatangi peternak di lereng Merapi dan wilayah DIJ. Hewan kurban yang dipilih juga lebih dulu diperiksa kondisi fisiknya, lalu diberikan vitamin dan obat cacing untuk memastikan kesehatan hewan.
Tahun lalu, proses penyembelihan 65 sapi dan 61 kambing di Masjid Jogokariyan sempat menjadi sorotan karena mampu diselesaikan hanya dalam waktu 3,5 jam. Namun pada tahun ini, panitia mengaku tidak lagi berfokus mengejar kecepatan. "Kalau tahun ini karena jumlah hewan kurbannya semakin banyak, kami tidak mengejar cepat-cepat. Tapi yang penting hari ini sampai sore selesai dengan aman dan selamat," kata Ratno.
Meski demikian, sistem kerja penyembelihan tetap dirancang cepat dan terorganisir. Dalam satu proses penyembelihan sapi, panitia melibatkan sekitar enam hingga 10 orang, mulai dari penuntun, peroboh sapi, hingga jagal.
Baca Juga: Lima Tahun Masjid At-Taufiq Seyegan Sleman Konsisten Bagikan Daging Kurban dengan Kreneng
Ratno menjelaskan, proses penyembelihan satu ekor sapi berlangsung sekitar tiga sampai lima menit. Sementara keseluruhan proses dari kandang menuju lokasi penjagalan hingga pengulitan membutuhkan sekitar 20 menit. "Dari kandang sampai penyembelihan sekitar 10 menit, kemudian pengulitan sekitar 10 menit," ujarnya.
Dalam proses penyembelihan, sapi berbobot 500 kilogram hingga lebih dari satu ton direbahkan menggunakan restraining box agar lebih aman dan tidak melukai hewan. Mata sapi juga ditutup untuk mengurangi stres saat penyembelihan. (pra)
Editor : Heru Pratomo