Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Indeks Kualitas Air Mengkhawatirkan, Sungai Winongo Diusulkan Pasang Trash Barrier di Delapan Titik

Heru Pratomo • Sabtu, 18 April 2026 | 22:23 WIB
Merti Kali di Sungai Winongo
Merti Kali di Sungai Winongo

 

 

Sungai Winongo dan sungai-sungai di Kota Yogyakarta membutuhkan pemasangan trash barrier, untuk menjaring sampah-sampah rumah tangga yang masih dibuang oleh warga ke sungai. Ide dan wacana tersebut muncul setelah melihat situasi Sungai Winongo yang ada di kawasan Serangan, Notoprajan, Ngampilan pada acara Merti Kali yang digelar Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan  bersama DPRD DIY.

Disaat warga RW 01 Serangan sedang membersihkan sungai di wilayahnya, di tengah sungai beberapa kali sampah terlihat hanyut terbawa arus. "Tidak hanya satu atau dua bungkus. Ada yang dalam bentuk bungkusan besar tas plastik seperti bungkusan sampah yang biasa di buang ke TPS," ungkap Sekretaris Komisi D DPRD DIY, Muhammad Syafi'i, di sela-sela Merti Kali yang diinisiasinya bersama DLH DIY, Jumat (17/4).

Baca Juga: Ibu Bhayangkari di Kendari Terciduk Berduaan Bersama Prajurit TNI di Indekos, Suami Pergoki Kronologi Masih Didalami

Keberadaan trash barrier disebutnya, akan sangat membantu proses penjaringan sampah yang hanyut terbawa arus air. Sehingga kegiatan pembersihan baik yang dilakukan secara rutin oleh petugas ulu-ulu, atau yang bersifat tentatif dengan kegiatan merti sungai, bisa berjalan lebih mudah dan efektif.

Keberadaan trash barrier disebut Muhammad Syafi'i, juga dapat menjadi alat bantu untuk membentuk cluster-cluster wilayah yang masih menjadi area rawan pembuangan sampah. Jika Forum Komunikasi Winongo Asri terbagi menjadi delapan cluster penataan, maka di titik-titik tersebut bisa dipasang trash barrier sebagai penyekat dan penjaring sampah-sampah yang dibuang di sungai.

Ketua FKWA Endang Radjiani menyebut, FKWA sudah dibentuk sejak 2009 dan menjadi forum yang dibentuk untuk mengkampanyekan lingkungan. Dan salah satu cita-citanya adalah menjadikan Winongo Wisataku pada 2030. "Serangan ini dulu mercusuarnya. Pusatnya kegiatan, dan menjadi pengggal keenam dari delapan titik penataan yang dilakukan," ungkap Endang dalam kesempatan yang sama.

Baca Juga: Gubernur Ahmad Luthfi Dampingi Presiden Prabowo Hadiri Retreat Ketua DPRD di Magelang

Upaya penataan disebut Endang, sudah berjalan meski prosesnya secara bertahap dan terkesan memang agak lambat dan tersendat. Namun demikian, upaya penataan kawasan bantaran di sekitar Serangan, Notoprajan sudah cukup bagus hasil yang di dapatkan.

Ahli Madya Pencemaran Lingkungan DLH DIY, Raditya menyebut, pengelolaan sungai diperkotaan seperti di Yogyakarta menjadi sebuah kebutuhan. Hal tersebut dikarenakan, air merupakan kebutuhan pokok manusia. Sehingga air sungai harus bisa dijaga kelestariannya, untuk masa depan anak dan cucu.

"Hasil pemantauan di 11 titik sungai. Dan di Winongo ini ada enam titik. Kandungan cemarannya merata mulai dari ringan hingga berat. Ini mempengaruhi Indek Kualitas Air (IKA), kualitas sungai dan lingkungan," ungkapnya.

Baca Juga: Menilik Peran Perempuan dalam Dunia Tosan Aji, 40 Keris yang Berkaitan dengan Kaum Hawa Dipamerkan di Grha Keris Kota Jogja

Keberadaan trash barrier bisa mendukung upaya untuk pembersihan sungai yang dilakukan secara rutin oleh ulu-ulu, karena memudahkan penjaringan sampah. Namun untuk pembuatannya, memerlukan komunikasi lintas sektoral. Mulai dari DPRD, hingga ke instansi terkait seperti DLH,  Dinas PU, maupun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Muhammad Syafi'i menilai, untuk mendorong penyadaran masyarakat, maka proses pengelolaan trash barrier harus melibatkan masyarakat secara langsung. "Warga dilibatkan langsung proses pembersihan sampah di trash barrier, agar mereka menyadari bahwa membuang sampah di sungai itu sangat merugikan dan menggangu," pungkas Syafi'i.

Editor : Heru Pratomo
#FKWA #merti kali #DLH DIY #dprd diy #sungai winongo