Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) DIY Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo punya cara sendiri memastikan sumbangan masyarakat dikelola baik oleh jajarannya. Termasuk memastikan tidak ada satu rupiah pun yang dikorupsi.
Hal itu disampaikan Gusti Prabu, sapaannya, saat mengisi hikmah syawalan dalam acara Syawalan PMI DIY dan mitra di kediamannya, Rabu (8/4).
Dia mengisahkan saat ada pengadaan kaus untuk acara PMI. Untuk memastikan harga satuannya, Gusti Prabu mendatangi langsung produsen kaus dan merekamnya secara diam-diam.
Baca Juga: Kenaikan Harga Plastik Belum Mempengaruhi Inflasi di DIY, Kepastiannya Tunggu Awal Bulan Mei 2026
Ternyata diketahui harga dari pembuat kaus lebih murah dibandingkan harga yang dicantumkan dalam rancangan anggaran belanja. Temuanya tersebut beserta rekamannya diserahkan ke staf PMI yang mengurusi pengadaan kaus tersebut.
"Saya datangi sambil bawa surat pengunduran diri buat dia, tidak saya pecat karena masih muda, harapannya bisa berubah di tempat kerjanya yang baru," ungkapnya.
Tak hanya itu, putera Sri Sultan Hamengku Buwono IX itu juga mengaku tidak pernah mengambil gaji, honor atau apapun dari PMI. Pendapatan yang diperolehnya dari PMI, kata dia, dikembalikan ke para staf operasional PMI di lapangan.
Baca Juga: DPRD DIY Sidak Sungai Serang Kulon Progo, Temukan Pelebaran Sungai yang Berdampak ke Pemukiman Warga
"Biasanya saya belikan buah untuk posko PMI seperti saat mudik lalu atau untuk sopir ambulans, kalau tidak ada (posko) untuk staf di klinik Pratama PMI," ujar Gusti Prabu yang akan habis jabatannya sebagai Ketua PMI DIY pada tahun ini.
Komitmennya untuk berhati-hati dalam pengelolaan keuangan PMI tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban bagi para donatur. Gusti Prabu mengaku bantuan dari pemerintah daerah setahun hanya Rp 200 juta. Tapi biaya operasional PMI untuk berbagi kegiatan kemanusiaan bisa mencapai Rp 2 miliar.
"Untuk siaga 24 jam itu saja sudah Rp 100 jutaan belum gaji dan kalau ada kegiatan eskternal seperti Jumbara," katanya
Kekurangan tersebut ditutupi dari sumbangan masyarakat. "Per tahun dari bulan dana PMI di lima kabupaten dan kota di DIY ini saja bisa memperoleh Rp 3 miliar," kata Plt Ketua PMI Kota Jogja Hakka Astana.
Gusti Prabu menambahkan, antusias warga DIY untuk menyumbang termasuk tinggi. Hal itu dibuktikan selama Covid -19 lalu ataupun saat terjadi bencana di daerah lain. Banyak warga DIY yang tergerak menyumbang melalui PMI DIY.
"Karena itu kepercayaan warga ini harus kami jawab dengan aktivitas yang diketahui masyarakat dan memastikan tidak ada satu sen pun dana yang masuk ke kantong pengurus," tegasnya.
Baca Juga: Krisis Guru, Pengajar di SMP Negeri 1 Wates Kulon Progo Mengajar 18 Kelas
Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas yang baru Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono yang berkesempatan hadir. Dia pun sudah merasakan langsung keberadaan PMI DIY. Yaitu saat pengantaran jenazah dua prajurit TNI yang gugur di Lebanon lalu, setiba di Lanud Adisutjipto diantar ke rumah duka di Kulon Progo dan Magelang dengan ambulans PMI DIY.
"Banyak pihak yang menawarkan, tapi kami pilih ambulans dari PMI yang merupakan lembaga kemanusiaan resmi pemerintah," ujarnya.
Editor : Heru Pratomo