Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kenaikan Harga Telur Masih Batas Wajar Dampak MBG Kenaikannya Capai Rp 31 Ribu per Kg

Iwan Nurwanto • Rabu, 22 Oktober 2025 | 03:30 WIB
MEROKET: Pekerja mengemasi telur sebelum dijual ke distributor. Harga telur naik menjadi Rp 31 ribu per kilogram.
MEROKET: Pekerja mengemasi telur sebelum dijual ke distributor. Harga telur naik menjadi Rp 31 ribu per kilogram.

JOGJA - Harga telur di Kota Jogja terus merangkak naik dalam beberapa hari terakhir. Teranyar, harga salah satu komoditas bahan pokok itu sudah menyentuh Rp 31 ribu per kilogram. Kondisi ini dipicu karena tingginya permintaan telur untuk program makan bergizi gratis (MBG).

Seorang pengusaha warung makan di Kemantren Umbulharjo Purwaningsih merasakan dampak tingginya harga telur. Hal ini berdampak pada menipisnya keuntungan yang didapat.

“Kalau harga bahan baku naik untungnya semakin sedikit,” ujar Purwaningsih saat ditemui Radar Jogja.

Pengusaha warung makan yang menjual nasi rames ini mengaku hanya bisa pasrah dengan kondisi tersebut. Pun sebagai pelaku usaha juga tidak bisa turut menaikkan harga dagangan. Sebagai upaya menjaga konsumen.

Purwaningsih berharap, harga telur bisa berangsur turun. Sebab jika kondisi itu terus berlanjut akan membuat para pengusaha warung makan kelimpungan.

“Kalau telur harga naik turun memang lumrah, tapi kalau tidak turun-turun kami yang susah,” bebernya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Ketersediaan, Pengawasan, dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Jogja Sri Riswanti menyampaikan, salah satu faktor meroktetnya harga telur karena menipisnya ketersediaan telur di pasaran.

Kondisi itu disebabkan karena tingginya permintaan telur dari satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) untuk program MBG.

Di samping karena harga jagung sebagai bahan paku pakan ayam terus naik. Meskipun demikian, tingginya harga telur saat ini masih masuk dalam harga wajar.

Sebab masih sesuai dengan acuan penjualan di tingkat konsumen yang ditentukan Badan Pangan Nasional (Bapanas).

“Harga variasi di rentang Rp 30 ribu sampai dengan Rp 31 ribu masih dalam batas toleransi karena kenaikan masih di bawah 10 persen,” bebernya.

Berdasarkan hasil pantauannya di beberapa pasar tradisional, kenaikan harga telur sudah terjadi selama hampir dua pekan terakhir. Harga terendah tercatat Rp 28.300 per kilogram pada 9 Oktober 2025 lalu. Kemudian langsung melonjak di kisaran Rp 30 hingga Rp 31 ribu.

Riswanti memastikan, instansinya akan terus memantau pergerakan harga telur secara harian. Sehingga diharapkan ketersediaan barang (supply) bisa ditingkatkan lalu seimbang dengan permintaan konsumen (demand). (inu/wia)

 

Editor : Herpri Kartun
#badan pangan nasional #Makan Bergizi Gratis #harga telur #pasar tradisional