SLEMAN - 1.000 orang dari Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di DIY berkumpul di Auditorium Grha Sabha Pramana UGM, kemarin (17/7). Uniknya, mereka yang mayoritas berusia lanjut itu berdandan selayaknya wisudawan, lengkap dengan toganya. Mereka dinyatakan lulus sebagai penerima Bantuan Sosial (Bansos) PKH.
"Mereka telah bisa melewati masa-masa yang bisa dikatakan menuju keluarga yang lebih berdaya. Selama ini mereka ada di program PKH atau Bansos Sembako. Lalu dengan adanya bantuan usaha, mereka bisa lebih mandiri," ujar Menteri Sosial Saifullah Yusuf di sela acara itu kemarin.
Acara itu bertajuk Berani Graduasi yang merupakan acara khusus untuk meluluskan para penerima bansos PKH yang sudah naik kelas. Para peserta juga dimintai komitmennya untuk siap keluar sebagai penerima bansos. "Tapi berada di program pemberdayaan pemerintah," bebernya.
Para peserta diberikan motivasi agar lebih semangat dalam memperbaiki kondisi perekonomian keluarganya. Agar mereka menjadi inspirasi bagi yang lain. Para peserta yang dikatakan lulus itu kemudian masuk dalam program pemberdayaan. "Saya ingin mereka bangkit, tidak turun kelas lagi," tandasnya.
Bentuk program pemberdayaan, di antaranya, dengan dilakukan penguatan keterampilan, akses dan asetnya. Ia berjanji untuk mengawal para lulusan itu agar terus berkembang memperbaiki kondisi ekonominya. "Kalau bansos itu kan sifatnya sementara, dan yang diberikan kalau bansos sudah jelas peruntukannya," jelasnya.
Dalam prosesi acara itu, Gus Ipul, sapaan akrabnya, memberikan semacam piagam satu-satu kepada seluruh peserta. Prosesi dilakukan mirip wisuda. Itu sebagai simbol mereka telah lulus dari kondisi ekonomi miskin ekstrem. Otomatis kepesertaan PKH mereka dicabut karena mereka sudah mempunyai penghasilan mandri dan keluar dari kategori miskin ekstrem.
"Graduasi ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan kemandirian. Bantuan sosial adalah jembatan, bukan tali yang mengikat. Yang hadir hari ini adalah mereka yang berani mengambil langkah menuju masa depan yang lebih baik,” terangnya.
Kepala Dinas Sosial DIY Endang Patmintarsih menjelaskan, proses graduasi dilakukan melalui evaluasi ketat dan berkelanjutan sejak 2007. Keluarga yang dinyatakan lulus telah memenuhi kriteria kemandirian dan diarahkan untuk mengikuti program pemberdayaan ekonomi.
“Graduasi ini adalah awal dari fase pemberdayaan. Mereka akan mendapat dukungan pelatihan, peningkatan kapasitas, dan akses permodalan agar usahanya berkembang,” ujarnya
Salah satu strategi pengentasan kemiskinan, melakukan kolaborasi dengan 16 perguruan tinggi, salah satunya dengan UGM. Sinergi lintas sektor, termasuk dunia pendidikan dan usaha, diyakini menjadi kunci dalam mempercepat penurunan angka kemiskinan secara berkelanjutan.
Salah seorang wisudawan penerima bansos PKH dari Gunungkidul Supiyahadi mengatakan, kini keluarganya sudah bisa beternak kambing dari bantuan pemerintah. Tak hanya itu, bahkan ia dan suaminya juga memelihara sapi. "Modal dari PPSE (Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi) saya belikan tiga kambing," ujarnya.
Peternakannya pun berkembang hingga bisa membeli sapi. Sapi jantan bisa dijual Rp 18 juta per ekornya.
Perkembangan perekonomian juga dirasakan oleh warga Saptosari, Gunungkidul Meinatanti. Semula ia hanya memiliki usaha angkringan dan saat ini telah bertransformasi mempunyai rumah makan dengan omzet Rp 2 juta per hari saat musim liburan. "Saya hanya lulusan SD. Kelas 2 SMP keluar sebelum lulus karena mengalah untuk adik-adik," ucapnya. (oso/laz)
Editor : Herpri Kartun