RADAR JOGJA - Sosiolog Universitas Widya Mataram (UWM) Jogja Dr Mukhijab mengamati fenomena kos LV di Kota Jogja. Kos LV adalah istilah yang digunakan dunia kos-kosan yang bebas 24 jam tanpa aturan.
"Terdapat tiga kategori kos-kosan di Jogja dilihat dari manajemen pengelolaan," katanya kemarin (28/7). Yakni kos menyatu dengan induk semang, kos terpisah sengan induk semang, manajemen tetap dikelola induk semang dan kos tanpa induk semang karena investor tinggal di luar Jogja, manajemen operasional diserahkan staf.
"Dari segi penghuni, ada kos pelajar atau mahasiswa, dan kos berpenghuni pekerja atau lainnya," ujarnya.
Dari sisi kewargaan, kos menganut sistem pembedaan jenis kelamin, misalnya kos khusus laki-laki atau perempuan. Satunya kos campuran penghuni laki dan perempuan.
"Kos yang terintegrasi dengan induk semang biasanya membatasi gender. Pilihannya laki-laki atau perempuan, pengawasan cenderung melekat," ucapnya.
Aturan bagi penghuni relatif ketat. Misalnya penghuni tidak boleh menerima tamu di kamar, jam berkumjung dibatasi. Kos nomor satu biasanya dihuni oleh palajar atau mahasiswa.
"Kos yang terpisah dengan induk semang tetapi manajemen dikelola induk semang, intensitas pengawasan cenderung proposional. Ini karena induk semang tidak memiliki waktu dan kemampuan mengontrol kos dalam waktu 24 jam," terangnya.
Operasional kadang diserahkan satpam atau staf kebersihan. Aturan larangan menerima tamu di kamar, jam kunjungan, jam bermain bagi penghuni cenderung lebih longgar tetapi kebebasan tidak 100 persen.
"Pengawasan berkala maupun pengawasan oleh petugas keamanan maupun kebersihan relatif berpengaruh kepada penghuni," terangnya.
Aturan tertentu relatif ditaati, terutama apabila penghuninya pelajar atau mahasiswa. Kos terpisah dengan induk semang yang berada di luar Jogja bisa dihuni oleh pelajar, mahasiswa maupun pekerja. "Kos kategori ini bisa saja penguninya campuran," jelasnya.
Penghuni bisa saja memiliki kunci untuk gerbang rumah atau penghuni bisa saja melapor satpam usai pergi. Aturan penghuni kos kategori tiga cenderung longgar.
"Kos ini cocok bagi mahasiswa atau pekerja yang tidak senang terikat oleh jam pulang, jam tamu, dan menerima tamu di luar kamar," ujarnya.
Menurut Mukhijab, kebebasan ini bisa berdampak positif maupun negatif. Dampak positif bagi penghuni yang senang tidak terikat aturan, nyaman dengan keaadaan tersebut.
"Dampak negatifnya penghuni bisa bersikap permisif. Membolehkan segala hal seperti tamu boleh berkunjung di kamar, bebas bergaul dengan lain jenis, bisa pulang kapan saja usai begadang," ungkapnya.
Kata dia, dampaknya kondisi demikian potensi menciptakan pergaulan bebas. Para investor kos-kosan yang ukurannya bisnis murni, bisa saja memilih model kos dua dan tiga. Pertimbangannya soal potensi pendapatan lebih besar atau bisnis yang penting menguntungkan.
"Di tengah tingkat hunian kos yang terus menurun, kos bebas menjadi pilihan. Karena yang penting kamar penuh penghuni, pendapatan dan keuntungqn finansial sebagai prioritas," bebernya. (gun/laz)
Editor : Satria Pradika