RADAR JOGJA - Secara umum harga komoditas beras terus mengalami peningkatan, ada beberapa faktor yang menyebabkan, Di antaranya adalah mundurnya masa tanam. Yang akhirnya turut mengakibatkan mundur juga masa panen. Sehingga ketersediaan beras tidak sepenuhnya melimpah.
Mundurnya masa tanam tersebut juga ditengarai oleh adanya El Nino yang melanda cukup lama. Termasuk di wilayah DIJ. Menyoal harga beras yang saat ini cenderung mahal nyatanya tidak berimplikasi positif dan menguntungkan petani sepenuhnya, hal tersebut yang disampaikan oleh Wakil Dekan bidang penelitian, pengabdian masyarakat dan kerjasama Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Subejo.
"Kalau dibilang petani untung besar saya kira tidak juga, mungkin hanya sebagian petani. Banyak juga petani yang belum menikmati hasil karena baru panen Maret atau April nanti," katanya, Rabu (28/2).
Subejo menuturkan, fenomena El Nino yang terjadi di 2023 lalu memang cukup unik. Dampaknya mengakibatkan kemarau yang cukup panjang, hal tersebut mengakibatkan petani harus menunda masa tanamnya. "El Nino tahun ini cukup khusus karena mundurnya agak panjang, di beberapa tempat bahkan ada yang baru bisa tanam Januari lalu, jadi mundurnya sangat panjang," terangnya.
Namun, ketika El Nino berlalu, datanglah La Nina yang juga memiliki dampak negatif pada sektor pertanian. Disebutnya, curah hujan yang terlampau tinggi juga bisa mengakibatkan banjir atau menggenangi lahan pertanian. El Nino dan La Nina itu sama-sama berpotensi merusak. “Satunya sangat kering dan kekurangan air, satunya kelebihan air, bahkan di beberapa daerah seperti Pantura itu juga banjir dan akhirnya gagal panen karena La Nina," ungkapnya.
Bahkan, dalam konteks yang lebih jauh, Subejo menuturkan saat panen raya terjadi nanti, ada kemungkinan juga pemerintah akan melakukan impor beras. Ketika itu terjadi, maka para petani juga mungkin tidak akan merasakan harga jual yang tinggi.
"Problemnya ketika nanti pemerintah impor beras maka supplai nya banyak, dan para petani tidak menikmati harga yang baik," tuturnya.
Ia menjelaskan, untuk menghadapi siklus El Nino dan La Nina yang memang terjadi setiap tahunnya, penting bagi petani untuk memiliki pemahaman terkait perubahan iklim dan siklus cuaca. Sehingga bisa memprediksi kapan melakukan masa tanam dengan ideal. "Pemahaman petani masih sangat minim, perlu ada pelatihan dan penyuluhan terkait fenomena iklim, ini tugas pemerintah agar bisa menyiapkan SDM dalam menghadapi siklus tahunan," pesannya. (iza/pra)
Editor : Satria Pradika