RADAR JOGJA - PSS Sleman adalah salah satu tim yang pernah menggunakan jasa dokter gadungan Elwizan Aminuddin. Bahkan, salah satu pemainnya yakni Saddam Gaffar pernah “digarap” sang dokter saat cedera.
RIZKY WAHYU A, Sleman
Dari tindakan yang dilakukan oleh Elwizan Amiruddin, pemain PSS Sleman Saddam Gaffar yang sampai saat ini belum bisa ikut tampil secara resmi di Kompetisi BRI Liga 1 2023/2024 bersama tim Laskar Sembada.
Menanggapi kabar tertangkapnya sang dokter gadungan, Saddam Gaffar mengaku ikhlas atas tindakan yang dilakukan oleh dokter gadungan itu terhadap dirinya. Sebab menurutnya hal tersebut adalah sebuah takdir baginya. Mau bagaimana lagi. Menurutnya, yang sudah biarlah sudah. Dia juga ikhlas untuk kejadian tersebut. “Mungkin ini rencana Allah juga untuk saya," ujarnya pemain yang segera mengakhiri lajangnya ini, kemarin (31/1).
Ya, bersama PSS Sleman, Saddam Gaffar baru bermain dua kali saja di Kompetisi BRI Liga 1 musim lalu. Striker PSS Sleman ini kemudian menepi sampai akhir musim lantaran mengalami cedera ACL. Kondisinya sempat semakin parah. Sebab, kabarnya penyerang muda ini ditangani oleh dokter gadungan Elwizan Aminuddin yang pada hari Selasa (30/1) lalu dokter gadungan itu telah diringkus oleh polisi.
Namun singkat cerita pada akhirnya Saddam Gaffar beruntung karena mendapat perawatan medis yang tepat. Pada Januari lalu, pemain kelahiran 24 September 2001 itu sudah menjalani operasi restrukturisasi ACL di Rumah Sakit Premiere Bintaro, Tangerang. Sehingga saat ini kondisinya sudah semakin membaik.
Saddam Gaffar mengaku bersyukur karena dokter gadungan itu sudah ditangkap polisi. Karena menurutnya jika dokter gadungan itu dibiarkan saja maka ditakutkan akan ada korba yang seperti dirinya lagi."Bersyukur sudah tertangkap biar tidak ada korban lagi ke depannya," tagesnya.
Pemain 22 tahun ini juga sudah melakukan latihan rutin dan beberapa laga uji coba bersama tim Super Elja menjelang laga perdananya di kompetisi BRI Liga 1 2023/2024 dengan melawan Persikabo 1973, Minggu (4/2) mendatang. Dia sendiri sangat antusias untuk bisa kembali bermain lagi. Oleh karena itu, saat ini ia terus melakukan recovery untuk memperbaiki kondisi fisiknya agar bisa kembali membela PSS Sleman.
Pelatih PSS Sleman Risto Vidakovic mengungkapkan kondisi Saddam Gaffar saat ini sedang dalam kondisi yang prima. Dan saat ini sudah mengikuti latihan rutin bersama rekan-rekan tim yang lain.
Risto menyebut walaupun Saddam telah pulih dan kembali bersama tim, namun harus tetap memerlukan waktu yang lama untuk mempersipakan dirinya dengan baik secara fisik. Karena sempat cedera panjang.Risto juga berharap dengan kembalinya Saddam Gaffar ini, ke depan tim yang berjuluk tim Super Elja ini bisa menjadi lebih baik lagi. "Saya harap di masa depan dia akan menjadi pemain andalan PSS," tandasnya.
Presiden Direktur PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) Gusti Randa menyatakan, Selasa (30/1) lalu, Polisi menangkap Elwizan Aminuddin setelah dua tahun buron. Elwizan dilaporkan terkait kasus pemalsuan ijazah ke Polresta Sleman pada 3 Desember 2021 silam.
Elwizan Aminuddin kabarnya mengundurkan diri secara lisan pada 1 Desember 2021 lalu kepada direktur utama PSS Sleman yang saat itu masih ditangani oleh Andy Wardhana. Saat itu Elwizan pamit untuk pulang ke Palembang dengan alasan orangtua sakit. Namun ia tak pernah kembali lagi ke PSS Sleman.
Kasus dokter gadungan ini berawal pada 2020 silam. Kala itu PSS Sleman sedang membutuhkan dokter untuk tim. Kemudian Elwizan Amiruddin memasukan lamaran ke PSS Sleman dan diterima. Namun belakangan modusnya telah terungkap, bahwa ijazah yang digunakan oleh Elwizan itu adalah ijazah palsu.
Dan dengan bermodalkan ijazah palsu itu, Elwizan Aminudin melamar ke tim-tim sepak bola yang bermain di Liga Indonesia sebagai dokter tim. Dan anehnya lagi, Elwizan Aminudin kabarnya sudah pernah menjadi dokter tim di beberapa klub sepak bola di Liga Indonesia seperti Persita Tangerang, Barito Putra, Bali United, Madura United, dan PSS Sleman. Bahkan dokter gadungan itu juga pernah menjadi dokter Timnas Indonesia U-19.
Selama menjadi dokter di tim PSS Sleman, Elwizan Aminudin mendapatkan gaji Rp 15 Juta perbulan. Bahkan, ia juga pernah mendapatkan gaji termasuk bonus saat di yang berjuluk Super Elja itu sebesar Rp 25 juta.
Namun, Gusti Randa mengatakan PSS Sleman bukanlah tim pertama yang mendapatkan dokter gadungan tersebut. Sebab menurutnya, tim Laskar Sembada mendapatkan dokter itu setelah tim-tim Liga Indonesia yang lain mempekerjakannya."Kan tahunya kami di PSS Sleman ketika tersangka itu pulang terus gak mau balik lagi," ucapnya.
Menurut Gusti Randa, sepak bola adalah olahraga yang rentan terhadap cedera, bahkan saat melakukan latihannya. Oleh sebab itu, maka dokter profesional yang kualifikasinya jelas sangat dibutuhkan di sebuah klub sepak bola."Ya masa bila ada pemain yang mengalami cedera kan tidak mungkin dibawa ke dukun patah," tegasnya.
Gusti Randa juga menyebut hal-hal seperti dokter gadungan ini adalah salah satu hal yang membuat ribut dari olahraga sepak bola tersebut. Sehingga ia berharap hal-hal seperti itu tidak terjadi lagi di dunia sepak bola.Ya bagimana kami sedang giat-giatnya membangun sepak bola, tapi ada aja masalahnya. “Semoga ke depan tidak ada hal seperti ini lagi. Semua harus mengikuti regulasi dan lisensi," jelasnya.
Memang dokter itu adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam dunia sepak bola. Akan tetapi dalam sebuah klub sepak bola itu harus tetap ada sebuah regulasi. Menurut Gusti PT Liga Indonesia Baru (LIB) telah menyatakan sebuah klub sepak bola harus ada yang namanya beberapa aturan, seperti salah satunya adalah seorang dokter."Jadi tetap ada regulasinya," tandasnya.(din)