RADAR JOGJA - Dhaup Ageng Pakualaman membawa banyak berkah masyarakat. Salah satunya para fotografer freelance yang mengais rezeki dari pernikahan putra bungsu KGPAA Paku Alam X, BPH Kuntonugorho dengan Laily Annisa Kusumastuti ini.
AGUNG DWI PRAKOSO, Jogja
Para fotograger freelance ini ikut "memadati" kompleks Puro Pakualaman saat gelaran resepsi Dhaup Ageng. Meski mereka terbatas pada area luar venue pernikahan agung itu.
Mereka mengaku adanya acara ini seakan ketiban rezeki nomplok, karena penghasilannya bisa empat lipat dari hari biasa. "Tukang foto freelance yang standby kurang lebih 40 orang. Mereka terdiri kelompok-kelompok dan perorangan," ujar seorang fotografer freelance Wagiman kepada Radar Jogja kemarin (11/1).
Sebagian besar keseharian mereka memotret para pengunjung wisatawan di berbagai obyek wisata di Jogjakarta. Selain di objek wisata, mereka juga akan mendatangi ketika ada momen wisuda di setiap kampus. "Karena memang beberapa hari ini sepi, jadi teman-teman ke sini semua," katanya.
Dengan ada hajatan Dhaup Ageng, ia dan teman-temanya mengaku ketiban rezeki. Penghasilan mereka sehari antara Rp 70 ribu-Rp 100 ribu. "Satu hari acara Dhaup Ageng ini, alhamdulillah bisa sekitar Rp 300 ribu-Rp 400 ribu," jelasnya.
Teknisnya, setiap tamu datang mereka akan berlarian untuk memotret beserta keluarganya. Setelah mendapatkan gambar beberapa calon pelanggan, mereka segera mencetak foto itu di percetakan. "Di percetakan juga sudah ada rekan yang ngurusi. Jadi prosesnya akan lebih cepat," tandasnya.
Hasil cetakan yang sudah jadi nantinya akan mereka ambil atau diantar ke Puro Pakualaman. Ketika acara selesai dan para tamu undangan mulai keluar dari lokasi resepsi, maka saat-saat itulah para fotografer freelance berjibaku, kejar-kejaran untuk saling menawarkan cetakan hasil fotonya.
"Kami harus melihat dan menandai satu persatu foto wajah yang dicetak. Kalau udah cocok dengan orangnya, maka akan kami kejar untuk menawarkannya," terangnya.
Ia mengaku satu cetakan foto bermodalkan kurang lebih Rp 3.000. Dari modal itu mereka akan menjual dengan kisaran harga Rp 25 ribu-Rp 50 ribu per foto.
"Di hari pertama saya dapat potret sekitar 50 orang. Sehingga total ada 100 cetakan foto, karena ada yang berpasangan dan tidak," ujarnya.
Dari 100 cetakan itu, separonya ludes terjual. Karena memang banyak foto freelance yang menawarkan cetakan foto itu.
"Karena saking banyaknya jasa itu, jadi ya wajar. Tapi kita maklum dengan teman-teman lain. Karena jasa seperti ini memang sepi sekarang," tuturnya.
Seorang fotografer freelance yang lain, Erna Susiana menambahkan, momen seperti ini memang sangat dinantikan olehnya. "Alhamdulilah petugas keamanan juga memperbolehkan izin untuk bisa memfoto di sekitar Puro Pakualaman," ucapnya.
Ia menyayangkan puluhan fotografer freelance yang datang tersebut kurang tertata. Seharusnya ada koordinasi, agar tidak saling berebut dan bertubrukan. "Biasanya ya ada koordinasi. Kita antre dan gantian foto gitu. Jadi kan gak ada pengambilan foto yang dobel," tandasnya. (laz)