Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ganti Sampah Menggunung di Depo Lapangan Karang

Annissa Alfi Karin • Kamis, 12 Oktober 2023 | 14:00 WIB

Kondisi tumpukan sampah di Depo Lapangan Karang, Kotagede, yang berseberangan dengan pusat kuliner kemarin (11/10).Alfi Annissa Karin/ Radar Jogja
Kondisi tumpukan sampah di Depo Lapangan Karang, Kotagede, yang berseberangan dengan pusat kuliner kemarin (11/10).Alfi Annissa Karin/ Radar Jogja


RADAR JOGJA - Sampah yang mengunung di Depo Kotabaru Rabu (11/10) telah diangkut seluruhnya. Namun, tumpukan sampah kembali terjadi di titik lainnya. Salah satunya di depo sampah dekat Lapangan Karang, Kotagede.
Kemarin siang kondisi sampah di sana tampak menumpuk.

Sesekali terlihat masyarakat melempar sampahnya di tumpukan itu. Sampah di bagian dalam depo bahkan menggunung hingga setinggi dua meter. Belum lagi luberan sampah di bagian depan yang berjejer hingga kurang lebih sepanjang 10 meter.


Mandor Depo Sampah Sektor Kotagede Samun menjelaskan, kondisi ini terjadi sejak tiga hari terakhir. Sampah sempat diambil pagi hari kemarin. Namun jumlahnya hanya satu truk, sehingga sampah belum terlihat berkurang secara signifikan.


Sebelumnya, kondisi paling parah untuk membersihkan sampah di Depo Lapangan Karang ini membutuhkan lima armada. "Kalau ini (kemarin, Red) sampai bersih bisa membutuhkan 10 sampai 11 armada," kata Samun saat ditemui kemarin (11/10).


Dia menuturkan, kemungkinan sampah akan kembali diangkut Kamis pagi. Namun itu pun juga bertahap. Ini lantaran keterbatasan kuota sampah yang harus dibuang ke TPST Piyungan. Sehingga, armada harus digilir secara bergantian mengangkut sampah di 14 depo di Kota Jogja.
"Biasanya dua armada, tapi dikurangi untuk eksekusi di RRI (Depo Kotabaru) kemarin dua hari. Dampaknya ke sini. Kalau armadanya banyak, tapi sana ada penjadwalan di TPA itu," tambahnya.


Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja Sugeng Darmanto menyebut usai menurunkan sampah dari Depo Kotabaru ke TPST Piyungan, armada lantas disiapkan untuk kembali mengangkut sampah di Depo Pengok dan Depo Lapangan Karang. Dia mengaku menyiapkan hingga 11 armada pengangkut sampah. Satu armada compactor bisa mengangkut sampah hingga 6 ton, sementara dam truk menampung 4 ton sampah.
"Yang penting sebenarnya adalah kelonggaran untuk bisa membuang ke Piyungan. Bukan persoalan tenaga dan armada, tapi kuota," ujarnya.


Sugeng menambahkan, armada secara beriringan juga akan bergeser mengarah ke Depo Lapangan Karang. Ini mengingat lokasinya yang berdekatan dengan pusat kuliner dan olahraga.


"Sehingga (Depo Kotabaru) RRI hari ini (kemarin clear) Pengok kita upayakan bisa berkurang. Kalau tidak berkurang pada malam hari kita akan eksekusi. Kemudian (depo) Lapangan Karang juga beriringan," jelasnya.


Sementara itu, PJ Wali Kota Jogja Singgih Raharjo menyebut eksekusi sampah di Depo Lapangan Karang akan menunggu giliran. Dia mengakui, seharusnya sampah di sana tak dibiarkan menumpuk, bahkan menginap. Lantaran dikhawatirkan akan menimbulkan bau yang tidak sedap. Padahal, lokasinya sangat berdekatan dengan pusat kuliner.
"Tapi saya akan berupaya pada minggu ini depo-depo sudah bisa dilakukan pengurangan, bahkan mungkin bisa dikosongkan," ujar Singgih.

Bau, Pedagang Kuliner Mengeluh

Pedagang kuliner di sekitar Depo Lapangan Karang mengeluh. Ini lantaran sampah yang menumpuk di depo tak kunjung diangkut sejak beberapa waktu terakhir. Padahal kondisnya sudah mengeluarkan bau yang tidak sedap. Belum lagi banyak lalat yang beterbangan.


Salah seorang pedagang Purwanto mengaku sering menerima keluhan dari para pembelinya. Apalagi soal bau tidak sedap yang muncul dari timbunan sampah. "Berdampak karena baunya. Kadang orang beli jijik. Lihat sana (tumpukan sampah) tidak jadi beli karena bau," ujarnya saat ditemui kemarin (11/10).


Pedagang es doger ini mengaku kondisi tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut ini sedikit banyak berpengaruh pada penjualannya. Normalnya pada pukul 14.00 dagangan Purwanto telah ludes dibeli konsumen. Namun kini sampai menjelang magrib pun dagangan tak kunjung habis. Padahal, dia harus bergantian lapak dengan pedagang lainnya.


"Sekarang orang misalnya dari rumah 'yuk makan di Lapangan Karang, wah ga mau karena banyak sampah'. Apalagi kalau sampai ada lalat. Kita yang di sini aja jijik, apalagi orang lain," ungkapnya.


Senada dengan Purwanto, pedagang lainnya Asih juga mengeluhkan kondisi sampah yang menumpuk tepat di seberang lapaknya itu. Namun, dia menyadari lokasi itu memang tempat pembuangan sampah, bahkan sebelum dia berjualan. Sehingga dia tak terlalu mempermasalahkan. Hanya saja, omzet penjualan dia akui menurun, meski tidak terlalu signifikan.


"Kalau di sini agak menurun, tapi alhamdulillah disyukuri saja karena setiap saya jualan meskipun agak menurun tapi tetap saja laku," ungkap penjual gado-gado ini.
Bau yang tidak sedap dan lalat hijau adalah dampak dari sampah yang paling mengganggunya. Seringkali lalat tetap bermunculan meski bahan makanan telah dia tutup menggunakan serbet.


"Saya jujur saja saya tutup pakai serbet. Juga pakai obat nyamuk bakar, itu bisa. Buktinya tidak ada lalat hijau yang masuk ke sini," tuturnya. (isa/laz)

Editor : Satria Pradika
#Depo Kotabaru #Kotagede Jogja #Sampah