RADAR JOGJA - Tumpukan sampah yang menggunung di Jalan Merbabu, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Jogja, Senin (9/10) telah diangkut ke dalam truk compactor. Sebelumnya, tumpukan sampah di belakang Gereja Kotabaru itu berjejer sepanjang 60 meter dengan tinggi hampir tiga meter.
Saat ditemui di lokasi, salah seorang penggerobak Sumadiyanto menuturkan, tumpukan sampah pada Senin pagi (9/10) terbilang sudah berkurang.
"Kemarin panjangnya bisa sampai 60 meter dan ketinggian dua meter meter lebih," ujarnya saat ditemui di Depo Sampah Kotabaru, Senin (9/10).
Kabid Pengelolaan Persampahan DLH Kota Jogja Ahmad Haryoko menuturkan, pihaknya telah mengeksekusi sampah di Depo Kotabaru sejak Minggu malam (8/10). Mulai pukul 21.00 hingga 00.00 satu unit truk compactor dioperasikan untuk mengangkut sampah.
Eksekusi dilanjutkan kembali Senin pagi dengan memanfaatkan tujuh unit truk compactor. "Ada sekitar 20 tenaga yang kami kerahkan untuk di lokasi ini," tambahnya.
Haryoko menuturkan, tumpukan sampah-sampah ini merupakan akumulasi sejak 23 Juli lalu. Depo Kotabaru sejatinya mendapatkan kuota pengangkutan sebanyak 3-4 rit dalam satu hari. Namun keterbatasan kuota sampah yang dibuang ke TPST Piyungan juga menjadikan pengangkutan di depo tak bisa berjalan secara optimal.
Ia mengatakan dalam satu hari sampah dari masing-masing yang bisa diangkut dari depo hanya sebanyak satu rit. "Mau tidak mau yang tiga rit ini tetap tinggal di sini. Ditambah TPST Piyungan kan setiap tiga hari tutup. Tiga hari buka, satu hari tutup. Otomatis tambah lagi empat rit lagi,” ujarnya.
Usai dieksekusi, sampah tak bisa langsung diangkut lantaran TPST Piyungan kemarin tengah libur. Haryoko menuturkan sampah akan ditampung di dalam truk untuk sementara waktu.
“Jadi kita hanya sekadar eksekusi, kita naikkan ke truk baru besok pagi (hari ini, Red) kita bawa ke Piyungan. Nanti kita lihat kondisi di kantor (DLH) masih memungkinkan untuk ditaruh di sana atau tidak. Sebisa mungkin kita taruh di depo-depo yang memungkinkan untuk ditempati oleh truk sampah," ungkapnya.
Sementara itu, Sekprov DIJ Beny Suharsono ikut menanggapi problematika persampahan di Kota Jogja. Salah satunya, tumpukan sampah di depo kawasan Kotabaru. Meski telah disikapi oleh Pemkot Jogja, ini menjadi sorotan hingga provinsi.
Beny mengatakan, Kota Jogja masih terjadi dinamika sampah di beberapa lokasi. Namun pemkot serius menangani sampah di wilayahnya. Sejatinya, edukasi dan pemilahan sampah sudah berjalan di sana. "Tapi belum optimal, jadi secara fisik dan kasat mata numpuk di mana-mana," katanya di Kompleks Kepatihan, Senin (9/10).
Beny mendorong upaya desentralisasi dilakukan di wilayah Kartamantul atau Jogjakarta, Sleman, dan Bantul. Namun, Kota Jogja dinilai menjadi yang serius perlu ditangani.
Mekipun, sudah disiapkan lahan tanah kas desa dan sudah mendapat izin gubernur DIJ untuk pemanfaatannya yakni di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) wilayah Nitikan. Hal ini perlu konsolidasi lanjutan dengan masyarakat agar dapat meminimalisasi dampak yang ditimbulkan dari pembuangan, sehingga tak terlalu berdampak pada masyarakat sekitar.
"Menurut saya paling serius sekali di kota, walaupun lahan sudah diparingi oleh beliau (Gubernur HB X) di Nitikan dan sebelahnya. Bagaimana mengonsolidasi di lokasi agar masyarakat tidak terkena dampak sampah yang dibuang. Konsepnya, harus sampah yang diolah," ujarnya.
Sedangkan untuk teknis pembangunannya, termasuk pilihan teknologi pemusnah dan pengolah sampah yang akan diadopsi, diserahkan seluruhnya kepada Pemkot Jogja. "Kalau toh ada residu itu sudah diminimalisasi, misalnya dengan insinerator bagaimana agar asapnya tidak terlalu berat, kan masih ada teknologi yang bisa digunakan lagi," jelasnya.
Dengan begitu, jika skema ini bisa dilaksanakan, Beny meyakini desentralisasi 2024 mendatang bisa optimal dijalankan. Saat ini mulai bertahap untuk proses uji coba atau belajar. "Kalau sudah dipilah 30 persen pasti organik terpilah. Kalau ini bisa dilakukan 2024 mudah sekali, sekarang proses belajarnya bersama sama," tambahnya. (isa/wia/laz)