RADAR JOGJA - Seperti halnya beberapa tahun terakhir, gelaran sekaten tahun ini tidak lagi dimeriahkan dengan pasar malam. Ini terjadi sejak 2019 atau tepatnya setelah Alun-Alun Utara dipasangi pagar keliling.
Sekretaris Dinas Perdagangan Kota Jogja Jalaludin menyebut, pihaknya memang menjadi penyelenggara pasar malam pada gelaran sekaten tahun-tahun sebelumnya. Namun untuk tahun ini ia memastikan sekaten kembali tak diramaikan oleh pasar malam.
Hal ini lantaran pihaknya tidak menerima arahan dari Keraton Jogja. "Keputusan untuk penyelenggaraan iya dan tidaknya dari Keraton Jogja," kata Jalaludin saat dihubungi Kamis (20/9).
Dia menambahkan, tahun lalu ada gelaran pasar malam yang dilaksanaan bersamaan dengan momen sekaten. Lokasinya di Jalan Parangtritis, tepatnya di eks kampus STIKers Jogja.
Hanya saja, gelaran itu merupakan inisiasi pihak swasta. Hingga saat ini dia juga belum dapat informasi soal pasar malam itu akan kembali digelar atau tidak. "Belum ada info dari pihak swasta," ujarnya.
Untuk tetap mewadahi para pelaku UMKM yang biasanya turut serta pada gelaran pasar malam sekaten, Pemkot Jogja tetap memberi fasilitas. Ini diwujudkan melalui gelaran Sekati ing Mal yang diinisiasi Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM.
"Bukan pengganti, tapi kegiatan lain yang momentumnya berbarengan. Jadi kegiatan memfasilitasi UMKM, semacam pameran di mal. Tiap tahun sudah mulai, tahun ini ada," ujarnya.
Seorang warga Jogja Hesti berharap pasar malam sekaten bisa kembali digelar. Sebagai ibu anak satu, pasar malam menjadi satu hiburan yang murah bagi anaknya.
Saat ada pasar malam yang waktunya bersamaan sekaten di Jalan Parangtritis lalu pun, dia datang. "Penginnya ada lagi pasar malam sekaten. Kalau dulu di Jalan Parangtritis juga menyempatkan ke sana," ujarnya.
Keraton Gelar Hajad Dalem
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat melaksanakan rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan menggelar Hajad Dalem Sekaten. Pelaksanaannya satu minggu, diawali sejak Kamis (21/9) hingga Kamis (28/9).
Rentang waktu itu yang dinamakan sekaten. Ini ditandai dikeluarkannya sepasang gamelan sekati yakni Kanjeng Kyai (KK) Gunturmadu dan KK Nagawilaga dari dalam Keraton.
Kedua gamelan akan diletakkan di Pagongan Masjid Gedhe dan ditabuh selama kurun waktu tersebut. Hajad dalem Sekaten Jimawal 1957 dimulai tadi malam (21/9) pukul 19.00 berupa miyos gangsa yang diawali pembagian udhik-udhik oleh putra dalem di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti, pelataran Kamandungan Lor/Keben.
Kemudian Minggu (24/9) mulai pukul 06.30 gladi resik prajurit jelang Garebeg Mulud di Kagungan Dalem Pelataran Kamandungan Kidul-Pagelaran. Senin (25/9) pukul 15.00-17.00 ada numplak wajik di Kompleks Magangan. Pada Rabu (27/9) mulai pukul 18.30 kondur gangsa diawali pembagian udhik-udhik oleh Ngarsa Dalem dan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di Kagungan Dalem Masjid Gedhe Keraton.
Pada Kamis (28/9) mulai pukul 08.00 ada hajad dalem Garebeg Mulud di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran-Kagungan Dalem Masjid Gedhe Keraton Jogja. Serta Kamis (28/9) mulai pukul 19.00 ada bedhol songsong pementasan wayang kulit lakon "Mahabarata Lampahan Pandawa Mahabhiseka" dengan dalang M Riyo Cermokondhowijoyo di Kagungan Dalem Tratag Bangsal Pagelaran.
Penghageng II KHP Widya Budaya KRT Rintaiswara mengatakan, prosesi pelaksanaan Garebeg Mulud tahun ini dilakukan dengan iring-iringan bregada prajurit dan tujuh gunungan. "Gunungan yang berada di Bangsal Pancaniti, Kamandungan Lor, akan dibawa oleh Kanca Abang melalui Regol Brajanala-Sitihinggil Lor-Pagelaran-keluar lewat barat Pagelaran menuju Masjid Gedhe. Di Masjid Gedhe, setelah didoakan, akan ada dua buah gunungan yang dibawa menuju Pura Pakualaman dan Kompleks Kepatihan," katanya Kamis (20/9).
Selama pelaksanaan Hajad Dalem Sekaten, masyarakat yang turut berpartisipasi mengikuti rangkaian agenda hingga Garebeg Mulud diminta tertib. Masyarakat juga diimbau dapat merayah gunungan setelah mendengar aba-aba serta seusai gunungan itu selesai didoakan.
Terdapat 10 bregada prajurit Keraton yang akan mengawal gunungan yakni Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero, Nyutra, Bugis, dan Surakarsa. Bregada Bugis akan mengawal gunungan hingga Kepatihan.
Sementara gunungan untuk Pura Pakualaman akan dikawal prajurit Pura Pakualaman yakni Dragunder dan Plangkir. Terdapat lima jenis gunungan yang dibagikan pada prosesi pelaksanaan Garebeg Mulud.
Kelima jenisnya adalah Gunungan Kakung, Gunungan Estri/Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan. "Gunungan itu akan dikeluarkan secara berurutan dari Keraton sesuai dengan urutan tadi," jelas Kanjeng Rinta. (isa/wia/laz)