RADAR JOGJA - Padukuhan Kalidadap 1, Selopamioro, Imogiri yang terletak di perbukitan jadi langganan kekeringan tiap kemarau. Berbagai upaya pun dilakukan untuk mendapat sumber air. Melalui geolistrik ditemukan beberapa sumber air.
GREGORIUS BRAMANTYO, BANTUL
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih meresmikan sumur air bersih di Padukuhan Kalidadap 1, Kalurahan Selopamioro, Imogiri, Minggu (17/9). Pembangunan sumur tersebut dilakukan pada September ini yang dilakukan Yayasan Amanah Takaful dan Berkah Jogja.
Tambahan penggalian sumur itu dilakukan di salah satu lahan pertanian milik warga bernama Sowo Rohmad Andreyanto. Lahan tersebut sebelumnya terdapat sumur yang sudah digali oleh pemilik tanah tersebut. Namun sempat kering karena musim kemarau.
Sowo menjelaskan, sumur itu sudah ada di lahan tersebut lebih dari 50 tahun yang lalu. Awalnya, air sumur digunakan untuk mencukupi kebutuhan pertanian. Sumur itu letaknya di area pertanian milik simbahnya. “Setelah simbah saya tidak ada, saya yang meneruskan merawat lahan pertanian dan memberi air dari sumur itu," jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, air sumur yang ada di lahan milik Sowo digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun sumur tersebut kemudian kering. Padahal saat itu kedalamannya mencapai tujuh meter. "Sekarang warga RT 6 sudah aman. Tidak khawatir karena sumur di lahan pertanian saya sudah digali lagi sampai 12 meter," katanya.
Tak menjadi masalah baginya jika sumur tersebut digunakan oleh warga. Sebab Sowo memahami bahwa kondisi musim kemarau selalu memberikan dampak buruk yakni sulitnya mencari air bersih. "Yang penting warga tidak kekurangan air lagi," tandasnya.
Dalam peresmiannya, Halim mengatakan, Selopamioro adalah salah satu kalurahan di Kabupaten Bantul yang sering mengalami kekeringan. Apalagi di musim kemarau seperti saat ini, ketika kekeringan terjadi di mana-mana. Termasuk yang paling parah di Bantul ada di Selopamioro. "Di mana kekeringan ada di banyak titik. Di antaranya di Padukuhan Kalidadap 1," katanya.
Pemkab Bantul bekerja sama dengan lembaga-lembaga untuk mengidentifikasi daerah kekeringan. Tidak hanya di Kapanewon Imogiri, tapi juga di Dlingo, Pleret, dan yang lain. "Sehingga harapannya setelah teridentifikasi, kami cari sumber airnya, apakah ada atau tidak," imbuh Halim.
Ia menyebut, setelah dilakukan penelitian geolistrik, ditemukan sumber air di beberapa tempat. Pihaknya akan menindaklanjuti dengan pengeboran air bawah tanah. Halim juga menugaskan organisasi perangkat daerah terkait yakni Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (DPMKal) dan Dinas Pekerjaan Umum untuk menindaklanjuti hasil pencarian sumber air tersebut. "Kami sudah siapkan rencana dan anggaran untuk yang di Selopamioro ini.
Halim berharap agar di masa mendatang saat musim kemarau, tidak lagi terjadi kekeringan di Selopamioro. Sebab air juga menjadi salah satu faktor produksi. Tidak hanya untuk mandi atau konsumsi saja. Namun juga menjadi bahan baku bagi usaha-usaha warga yang terkait dengan kuliner, pengolahan hasil pertanian dan bahkan pertanian itu sendiri. "Mudah-mudahan strategi ini mampu mempercepat penurunan kemiskinan di Selopamioro," harapnya.
Lurah Selopamioro, Sugeng menyebut, Padukuhan Kalidadap 1 letaknya paling tinggi di Kalurahan Selopamioro. Sehingga persoalan air dari tahun ke tahun selalu menjadi masalah. Sehingga pihaknya menggandeng beberapa lembaga swadaya masyarakat yang beberapa waktu lalu sudah menyuplai air di Dusun Kalidadap 1 RT 1 dan 2. "Sementara ini masalah air sudah bisa diakses dan bisa dinikmati sehingga tercukupi. Ke depan akan ada jadwal dropping air, terutama di RT 1," jelasnya.
Ia mengatakan, selama kemarau 2023 berlangsung, sejumlah warga harus rela mengambil air di beberapa tempat. Hal itu lantaran sejumlah sumur di Padukuhan Kalidadap 1 mengalami kekeringan akibat musim kemarau. “Sekarang warga kami sudah tidak khawatir untuk mendapatkan air bersih karena sudah mendapatkan bantuan tambahan penggalian sumur,” ujarnya. (pra)
Editor : Satria Pradika