RADAR JOGJA - Kalurahan Sendangmulyo, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman, memiliki potensi kerajinan bambu. Hal itu coba dilirik oleh Pemerintah kalurahan Sendangmulyo untuk membuat sebuah wisata edukasi. Memanfaatkan lahan mangkrak di desa itu, Budi Susanto yang merupakan lurah desa setempat berencana mewaujudkan mimpi tersebut.
IWAN NURWANTO, Sleman
Kapanewon Minggir sudah lama terkenal sebagai sentra industri kerajinan bambu. Banyak dari warganya di wilayah ini yang berprofesi sebagai pembuat besek, tenggok, tumbu, tampah, dan berbagai perabotan rumah berbahan dasar bambu. Beberapa hasil kerajinan bambu asal kapanewon ini bahkan sudah ada yang diekspor ke luar negeri.
Melihat hal ini, Lurah Budi Susanto berupaya agar bambu tidak hanya sekedar menjadi sebuah barang. Namun juga bisa menjadi kawasan edukasi yang memuat berbagai penjelasan tentang tanaman berumpun dengan batang keras tersebut.
Memaksimalkan alokasi bantuan keuangan khusus (BKK) dana keistimewaan (danais) dari Pemprov DIJ, Budi berencana membuat kawasan edukasi bambu di sebuah tanah kas desa (TKD), di Paudukuhan Duren. Ia berkomitmen membuat wisata edukasi bambu itu karena lahan yang akan dibangun selama ini mangkrak dan kurang dimanfaatkan.
Budi menilai, potensi wisata edukasi bambu di kalurahan Sendangmulyo cukup besar. Selain komoditas tersebut banyak ditemukan di desanya, kehadiran destinasi wisata edukasi bambu diharapkan dapat mendongkrak potensi produk kerajinan yang dibuat oleh masyarakat.
"Di Kapanewon Minggir, khususnya Kalurahan Sendangmulyo itu terkenalnya dengan kerajinan bambu. Dan kami mendapatkan BKK dari danais sebesar Rp 1 miliar. Rencananya akan kami alokasikan untuk wisata edukasi bambu," ujar Budi saat ditemui Radar Jogja (5/9).
Merinci hal itu, lurah yang sudah menjabat sejak 2020 ini mengaku bahwa wisata edukasi bambu di Kalurahan Sendangmulyo akan dibangun di atas tanah kas desa seluas satu hektare. Letaknya di pinggir sungai.
Di wisata edukasi itu, Budi juga akan menanam bambu dari berbagai daerah di Indonesia. Sehingga, harapannya pengunjung atau masyarakat bisa mengetahui tentang jenis-jenis tanaman bernama latin bambusoideae itu. Serta melihat hasil kerajinan bambu buatan masyarakat Sendangmulyo.
Budi mengakui untuk saat ini kalurahannya sedang bersolek karena belum lama ini ditetapkan sebagai desa mandiri budaya. Berbagai peningkatan fisik desa pun telah dilakukan. Seperti pembangunan taman di balai desa dan pembuatan papan nama, serta lampu yang khas Jogja.
"Untuk pembuatan wisata edukasi bambu di Sendangmulyo untuk saat ini tengah berproses. Memang membutuhkan cukup waktu, karena kami memulainya dari kecil. Apalagi saat ini masih musim kemarau," tandas Budi. (laz)