RADAR JOGJA - KTT G20 tahun ini yang berlangsung di India telah menjadi pusat perhatian internasional setelah deklarasi pemimpin negara-negara G20 mengadopsi sikap yang lebih lembut terkait invasi Rusia ke Ukraina dibandingkan dengan dokumen tahun lalu.
Dalam dokumen tahun 2023, terdapat frasa yang lebih berhati-hati dalam mengkritik Moscow dan invasinya ke Ukraina yang sudah berlangsung selama 18 bulan, yang mencolok dalam pengumuman tahun 2022.
KTT G20 kali ini mencerminkan perpecahan antara peserta terkait pandangan mereka tentang perang di Ukraina, dengan banyak negara Barat yang mengecam konflik tersebut, sementara pandangan ini tidak dibagikan oleh semua negara anggota.
Menurut Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Oleg Nikolenko, dokumen tersebut "bukan sesuatu yang patut dibanggakan," meskipun mereka mengapresiasi upaya untuk menyertakan kata-kata yang tegas dalam teks tersebut.
Sebaliknya, Kementerian Luar Negeri Rusia telah mengkritik upaya negara-negara Barat untuk membawa Ukraina ke dalam agenda G20 dan berjanji untuk bekerja sama dengan negara-negara G20 untuk membantah mitos tentang agresivitas Rusia.
Reaksi pemimpin G20 terhadap dokumen konsensus ini juga beragam. Perdana Menteri Britania Raya, Rishi Sunak, menyebutnya sebagai "hasil yang baik dan kuat," sementara Kanselir Jerman Olaf Scholz menekankan bahwa dokumen tersebut mendukung integritas wilayah dan kedaulatan Ukraina.
Penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, Jake Sullivan, menyatakan bahwa dokumen tersebut melakukan pekerjaan yang baik dalam membela prinsip-prinsip hukum internasional.
Namun, perbedaan yang mencolok terlihat jika dibandingkan dengan dokumen tahun lalu. Pada KTT G20 di Bali, Indonesia, G20 secara tegas mengutuk agresi Rusia terhadap Ukraina dan menuntut penarikan lengkap Rusia dari wilayah Ukraina. Dokumen tersebut juga menekankan penderitaan manusia yang besar akibat perang di Ukraina.
Kedua dokumen tersebut menegaskan peran utama G20 sebagai forum kerjasama ekonomi global dan menghindari masalah geopolitik dan keamanan.
Namun, mereka juga menekankan bahwa penggunaan senjata nuklir adalah "tidak dapat diterima."
Sementara KTT G20 tahun ini telah mencoba untuk menemukan keseimbangan antara berbagai pandangan, perdebatan seputar Ukraina tetap menjadi sorotan utama dalam pertemuan ini, mencerminkan kompleksitas geopolitik yang terus berlanjut dalam hubungan internasional. (Cici Jusnia)
Editor : Bahana.