Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Trah Putra Mahkota Bertemu Tak Singgung Suksesi, Gusti Prabu Kagumi Koleksi di Rumah Pangeran Juminah

Kusno S Utomo • Senin, 11 September 2023 | 13:00 WIB
TRAH PUTRA MAHKOTA: Dari kiri ke kanan, Haka Astana, GBPH Prabukusumo, dan Toro Djojonegoro berbincang dengan Aryo Dayoko di kediaman Pangeran Juminah, kompleks Ndalem Mangkubumen.
TRAH PUTRA MAHKOTA: Dari kiri ke kanan, Haka Astana, GBPH Prabukusumo, dan Toro Djojonegoro berbincang dengan Aryo Dayoko di kediaman Pangeran Juminah, kompleks Ndalem Mangkubumen.


RADAR JOGJA - Ada pertemuan tak biasa berlangsung di Ndalem Ijem- salah satu rumah di kompleks Ndalem Mangkubumen- sekarang dipakai Kampus Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY), kawasan Ngasem, Jogja. Trah atau keturunan tiga pangeran yang pernah dinobatkan sebagai putra mahkota Sultan Hamengku Buwono (HB) VII menggelar pertemuan reuni. Mereka berkumpul di rumah yang pernah ditempati Pangeran Juminah. Salah satu putra mahkota yang batal diangkat sebagai raja gara-gara terlibat konflik politik dengan Pemerintah Hindia Belanda. Bagaimana suasananya?

KUSNO S. UTOMO, Jogja

“Assalamualaikum. Sugeng siang,” sapa Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH) Prabukusumo saat menginjakkan kaki di Ndalem Ijem pada Jumat (8/9). Gusti Prabu, sapaan akrabnya, tidak sendirian. Dia datang bersama Haka Hastana Mantika Widya dan Toro Djojonegoro. Ketiganya menumpang satu mobil Alphard hitam AB 54 JA. Kendaraan itu diparkir persis di sisi timur Pendapa Mangkubumen. Lantas berjalan beberapa meter.


Tak begitu lama kemudian, Dayoko mempersilakan tamunya duduk di teras. Ada beberapa foto terpajang di tembok. “Ndalem Ijem ini dibangun 1834,” tutur Haka bercerita soal asal usul sejarah rumah berbentuk joglo lawas itu.


Purnawirawan jenderal bintang dua yang pernah menjabat Kapolda DIJ dan asisten SDM Kapolri itu fasih menceritakan sejarah sejumlah bangunan di Ndalem Mangkubumen. Sama seperti Dayoko, Haka merupakan trah Pangeran Juminah.


Statusnya cicit. Mereka cucu dari Raden Bekel Purwatmaja Atma Tjandra Sentana. Para cucuya biasa dipanggil Bapak Ageng. Sedangkan Pangeran Juminah disebut Eyang Gusti. Tjandra Sentana memiliki sejumlah anak. Sebagian besar berprofesi sebagai seniman.


Ayah Dayoko merupakan putra sulung Tjandra Sentana. Namanya Kuswadji Kawendrasusanto. Dikenal sebagai pelukis andal. Adiknya, Bagong Kussudiardja menjadi pelukis dan koreografer. Anak nomor tiga, Handung Kussudyarsana, sastrawan dan pengelola grup Ketoprak Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro.
Sedangkan putra bungsunya, Lilut Kussudyarta menjadi wartawan dan seniman teater. Satu angkatan dengan WS Rendra, aktor film Koesno Sudjarwadi dan WD Mochtar. Lilut merupakan ayah Haka.


Dalam pertemuan itu, Toro Djojonegoro mengenalkan diri sebagai cucu dari Pangeran Putra. Sejarahnya, Pangeran Putra adalah putra mahkota ketiga Sultan HB VII. Putra, adik dari Pangeran Juminah. Putra ini menggantikan kedudukan Juminah sebagai calon pewaris takhta. Namun Putra juga batal diangkat sebagai sultan. Beberapa tahun setelah berstatus putra mahkota, Putra menderita sakit.


“Eyang Putra wafat saat usianya sekitar 32. Meninggalkan beberapa orang istri dan anak,” cerita Toro yang sekarang tinggal di Jakarta. Pangeran Putra ini sangat disayangi kakaknya Pangeran Juminah dan adiknya Gusti Raden Mas (GRM) Sujadi atau Pangeran Puruboyo. Kakak dan adik Putra itu meratapi kepergian saudaranya. “Mereka memeluk jenazah eyang Putra sebelum dibawa ke Imogiri,” tutur Toro melukiskan suasana haru kala itu.


Pangeran Puruboyo kemudian diangkat sebagai putra mahkota keempat. Puruboyo, nasibnya paling baik. Berhasil naik takhta sebagai Sultan HB VIII pada 1920. HB VIII merupakan eyang dari Gusti Prabu. HB VIII, ayah dari HB IX, orang tua Gusti Prabu.


Selama bertakhta, HB VII empat kali mengangkat putra mahkota. Semua lahir dari permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas. Sebelum Juminah, putra mahkota pertama yang dilantik adalah GRM Akhadiyat. Usianya masih remaja. Akhadiyat meninggal saat usia 15 tahun karena sakit.
Dia digantikan adiknya GRM Pratistha atau Pangeran Juminah. Selama menjadi putra mahkota, Juminah menolak menandatangani kontrak politik dengan Belanda. Dia nyaris dihukum.


Ayahnya menyelamatkan dengan membawa Juminah ke Pradata Ageng, sebuah lembaga yang khusus mengadili kerabat kasultanan yang dinilai melanggar aturan adat. Juminah divonis seolah-olah mengalami gangguan kejiwaan. Dia dianggap ewah. Pikirannya terganggu sehingga urung menjadi sultan.


Meski leluhur mereka terlibat dalam pusaran takhta kasultanan, selama pertemuan tak sekalipun disinggung soal suksesi keraton. Gusti Prabu lebih tertarik melihat berbagai koleksi foto dan lukisan. Salah satunya foto Pangeran Hadisuryo, putra HB VII yang mengenakan jarik dengan motif parang. Juga lukisan wayang orang yang terbuat dari kain jarik. Lukisan itu karya Aryo Marwoto, adik Dayoko.


Kepada ketiga tamunya Dayoko menunjukan kamar pribadi dan tempat semedi Pangeran Juminah. Lokasinya ada di bagian depan. Tempat semedi itu sekarang ditutup. Dibandingkan ketiga saudaranya, Juminah tergolong panjang umur. Meninggal sekitar 1942, tiga tahun setelah adiknya HB VIII wafat.


Sebelum naik takhta pada 1940, keponakannya GRM Dorodjanun sowan menemui Juminah guna meminta restu. “HB IX oleh Eyang Gusti disuguhi penganan ringan kroket. Satu kroket disuruh dibagi dengan ayah saya, Kuswadji. Maknanya apa, saya nggak tahu,” cerita Dayoko. Mendengar cerita itu, Gusti Prabu tampak manggut-manggut. Menyimak dengan serius kisah yang disampaikan sohibul hajat atau tuan rumah. (laz)

 

Editor : Satria Pradika
#Ndalem Mangkubumen #sultan hamengku buwono #GBPH