Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Serat Amir Hamzah Singgung Raja Wanita, Bertakhta sebagai Ratu Agung

Kusno S Utomo • Senin, 7 Agustus 2023 | 13:00 WIB

 

Cerbung Majid Mataram oleh Kusno S Utomo
Cerbung Majid Mataram oleh Kusno S Utomo

RADAR JOGJA - Ratu Mangkubumi tinggal di luar kedhaton (istana, Red). Permaisuri Sultan Mangkubumi atau Sultan Hamengku Buwono I itu memilih Tegalreja. Daerah ini merupakan perluasan sawah dari wilayah Negaragung Kasultanan. Jaraknya sekitar 3 kilometer arah barat laut ibu kota negara (IKN) Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pilihan menetap di Tegalreja bukan tanpa alasan. Ratu Mangkubumi selalu ingin dekat dengan masyarakat. Karena itu, kehidupannya harus berada di tengah-tengah rakyat. Ini persis tatkala mendampingi suaminya Pangeran Mangkubumi berjuang angkat senjata.


Ratu Mangkubumi terbiasa dengan kehidupan bersahaja. Senang hidup bersama para petani sekitar Tegalreja. Kehidupan pribadinya juga dikenal religius. Banyak santri yang tertarik datang.
Bicara sosok Ratu Mangkubumi boleh dibilang sebagai perempuan yang multitalenta. Sosoknya bukan hanya ahli strategi. Piawai berperang bersama laskar perempuan Langenkusuma yang dipimpinnya.


Ratu Mangkubumi dikenal punya jiwa wirausaha. Kemampuan bisnisnya luar biasa. Permaisuri HB I yang juga memiliki nama Ratu Kadipaten atau Ratu Ageng ini punya kemampuan berdagang. Khususnya mengelola hasil-hasil pertanian. Di antaranya seperti beras.


Dia mendirikan himpunan pengusaha yang tergabung dalam jaringan para juragan atau saudagar. Pemasaran beras di bawah Ratu Mangkubumi cukup luas. Dipasarkan sampai Semarang dan mancanegara. Daerah mancanegara itu antara lain seperti Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Martapura, Kalimantan Selatan.


Jiwa wirausaha Ratu Mangkubumi ini mengingatkan pada leluhurnya para permaisuri raja-raja Mataram. Permaisuri Panembahan Senopati, Ratu Waskita Jawi dikenal punya banyak usaha. Begitu pula dengan Ratu Batang, permaisuri Sultan Agung Hanyakrakusuma. Hal sama juga dengan Ratu Paku Buwono I, eyang dari suaminya Pangeran Mangkubumi.


Perempuan Mataram yang punya talenta bisnis itu juga tercermin dari figur Ratu Mangkubumi. Dari catatan, Keraton Ngayogyakarta antara 1798 sampai dengan 1799, hasil bumi dari daerah Tegalreja berjumlah 74 amet. Sekadar diketahui 1 amet sama dengan 240 kati atau setara dengan 150 kilogram atau sekitar 11.100 kilogram beras.


Hasil panen tersebut dimanfaatkan untuk acara adat, pernikahan keluarga kerajaan dan sebagian membantu abdi dalem bidang agama. Ada juga yang dipasarkan ke Martapura, Kalimatan Selatan, dan Bima, NTB. Sisanya dijadikan persediaan lumbung keraton.


Pajak dari pertanian di Tegalreja menjadi sumber keuangan yang cukup berarti bagi keraton. Jejak Tegalreja sebagai daerah pertanian yang subur dapat dilihat hingga sekarang. Tegalreja merupakan salah satu dari 14 kecamatan se-Kota Jogja yang masih menyisakan lahan pertanian. Tegalreja punya petani kota, meski luasnya tinggal sekitar 3,5 hektare.


Ratu Mangkubumi juga meninggalkan dua karya tertulis semasa tinggal di Tegalreja. Pertama, serat Menak Amir Hamzah yang dibuat antara 1730-1803. Dalam serat Menak Amir Hamzah terdapat tulisan cukup menarik. Itu bisa dicermati dari pembukaan serat tersebut yang menyinggung soal perempuan yang menjadi pemimpin.


“Prabu wanodya/kang jumeneng Ratu Agung/kang ngedhaton Tegalreja”. Artinya ‘raja wanita/bertakhta sebagai Ratu Agung/dan istananya di Tegalreja’. Manuskrip ini tertulis sekitar 1792 atau sebelum 1812 saat pasukan Inggris menyerbu Keraton Ngayogyakarta.


Kini arsip serat karya Ratu Mangkubumi itu masih tersimpan di British Library, London. Kedua, serat Ambiya yang dimulai pada manuskrip dalam bahasa Jawa dalam aksara Arab (pegon).


Dari catatan itu, Ratu Mangkubumi secara ekonomi berhasil membangun kemajuan ekonomi yang signifikan. Dia bukan hanya tokoh sentral dalam jejaring ulama dan kelompok Islam saat itu.


Tapi juga pengelola lahan pertanian yang andal. Keberhasilan mencukupi kesejahteraan masyarakat Tegalreja membuat wilayah ini berkembang pesat. Tegalreja menjadi daya tarik bagi santri-santri atau warga yang ingin belajar agama sekaligus pertanian. (laz)

 

Editor : Satria Pradika
#Ratu Mangkubumi #Cerbung #Kusno S. Utomo #IKN #sultan hamengku buwono I #mataram #VOC