RADAR JOGJA - Program "Kampung Menari" terus digaungkan Pemkot Jogja. Sebagai greget budaya untuk mencapai 169 kampung menari di Kota Jogja, disediakan 169 intruktur tari. Artinya satu kampung, satu pelatih tari.
RIZKY WAHYU, Kota Jogja
"Tidak hanya greget budaya saja yang didapat dalam kampung menari. Masyarakat juga ada interaksi sosial. Dengan demikian ketahanan sosial masyarakatnya akan lebih baik," ujar Sekretaris Daerah Kota Jogja yang juga Ketua Forum Kampung Menari Aman Yuriadiwijaya saat ditemui Radar Jogja di GOR Janturan, Umbulharjo, Jogja, Selasa (1/8/23).
Aman menjelaskan setiap Selasa Wage dan Kamis Pahing masyarakat diajak latihan menari secara massal dalam program kampung menari ini. Dalam kampung menari ini masyarakat dapat berpartisipasi secara optimal, sehingga atmosfer budaya Kota Jogja tercipta lebih nyata.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Jogja Yetti Martati menjelaskan, kampung menari ini adalah kepyakan dari penanda sudah dimulainya latihan massal di 169 kampung di Kota Jogja. Kampung menari bertujuan tidak hanya masyarakat mampu menguasai skil menari saja. Namun menjadi media masyarakat bisa srawung dengan hal-hal yang positif.
"Sehingga ini bisa menginspirasi dan memotivasi masyarakat untuk berkarya serta produktif dalam masalah seni budaya. Ini juga sebagai salah satu upaya untuk pengembangan dan pelestarian kebudayaan di Kota Jogja," jelas Yetti.
Dalam kampung menari ini seluruh lapisan masyarakat di 169 kampung boleh ikut latihan menari. Di sana juga sudah disediakan instruktur untuk membina kampung-kampung itu, yaitu sebanyak 169 pelatih tari.
"Ini dilakukan serentak di 169 kampung setiap pukul empat dan lima sore pada Selasa Wage dan Kamis Pahing," ungkap Yetti.
Kenapa memilih Selasa Wage dan Kamis Pahing, Yetti menjelaskan hal itu dilakukan karena pada Selasa Wage di sepanjang Jalan Malioboro banyak aktivitas kesenian. Sedangkan pada Kamis Pahing di setiap instansi di Jogjakarta memaki baju adat Jogjakarta atau Jawa. Sehingga ia berharap di kampung-kampung ini juga digerakkan untuk aktivitas yang berbudaya.
Yetti berharap dalam kampung menari masyarakat bisa saling srawung atau interaksi. Ia juga berpesan agar anak-anak bisa memahami salah satu budaya luhur Jogja ini, salah satunya menari.
"Kesenian itu kan sangat dekat dengan masyarakat. Maka dari itu di sana bisa tersampaikan tentang nilai-nilai budaya melalui tari yang banyak akan filosofi," tuturnya.
Sementara itu, Mantri Pamong Praja Umbulharjo Radjwan Taufiq mengaku sangat mendukung kampung menari ini. Sebab dengan adanya kegiatan ini masyarakat yang berbasis kampung bisa nguri-uri kebudayaan.
Ke depan Radjwan berharap kegiatan ini bisa terus belangsung. Di mana setiap kampung bisa dikembangkan sesuai potensi masing-masing. "Apalagi ini bisa diikuti generasi muda sehingga menjadi kegiatan yang positif," tandasnya. (laz)
Editor : Satria Pradika