RADAR JOGJA - Sudah generasi ketiga, Rini kini meneruskan jualan sang ibu dan neneknya yang masih lestari sampai sekarang. Jajanan tradisional yang ditawarkan seperti gatot, tiwul dan cenil. Penjual penganan tradisional ini sudah ada sejak 1975 silam.
"Pertama mbah saya, saya neruskan jualan. Kini sudah generasi ketiga," kata Rini saat ditemui di sela-sela melayani pembeli yang antre di tempat jualannya, lor Tugu, Jalan AM Sangaji, Kota Jogja, Jumat (28/7/23).
Perempuan 54 tahun ini hanya berbusana sederhana pada umumnya dengan mengenakan baju sehari-hari, apron atau celemek dalam badannya. Ia tak mau repot seperti ibu dan neneknya yang dulu saat jualan masih dengan baju tradisional pula. "Dulu ibu saya masih pakai kebaya dan jarik. Saya saja yang nggak. Yang penting makanannya masih lestari," ujarnya.
Ibu dua anak itu berjualan masih di tempat yang sama, seperti tahun 1975 silam. Hanya pada perubahan kondisi sekitar saja dan perkembangan pembangunan saat ini. "Ibu saya tahun 1975 lokasinya memang di sini, di jalan sempit. Dulu simbah saya manggrok di sini juga. Sekarang bedanya jalannya agak luas," ungkapnya.
Ia meneruskan usaha nenek moyangnya untuk nguri-uri jajanan tradisional, sekaligus budaya tradisi makanan terdahulu yang tetap lestari hingga kini. "Dulu ini makanan zaman simbah, zaman penjajahan. Kan sekarang banyak yang langka makanan seperti ini," terangnya.
Apa saja jajanan tradisional yang dijual? Selain gatot, tiwul, cenil yang ada sejak dulu, ditambah ada klepon dan lupis. Semuanya merupakan jajanan tradisional. "Tapi yang terkenal simbah gatot tiwul cenil," ucapnya.
Dalam menjajakan jajanan tradisional itu peralatan pun masih terbilang tradisional, menggunakan tampah dan tambir. Demikian pula untuk memasakknya, masih dengan kayu dan peralatan tradisional lain. Ini untuk menjaga cita rasanya.
"Kalau memasak nggak usah pakai apa-apa, yang penting pakai gula asli. Pakai kelapa tapi nggak usah pakai campuran tetek bengek," tambahnya.
Ia membuka lapaknya sore hari, mulai pukul 15.30 hingga 19.30. Jajanan dijual dari harga Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu saja. "Harga gatot tiwul Rp 5 ribu boleh. Tapi kalau gatot tiwul campur sama cenil Rp 10 ribu," tambahnya. (wia/laz)