RADAR JOGJA - Menjadi pelawak legendaris di era 80-an, ternyata Muhammad Djoenaidi awalnya berangkat dari tukang becak. Keahlian melawaknya tidak dibuat-buat. Profesi itu sesuai kepribadian aslinya.
Aris Bambang Pujiantoro, anak almarhum Djoenaidi mengungkapkan, sebelum menjadi pelawak bapaknya adalah tukang becak. Kepribadian aslinya memang suka melucu di kalangan keluarga dan teman-temannya.
"Bapak sering bicara slengekan sama teman-teman, akhirnya bapak naik panggung. Mulai awal itu menjadi pelawak," katanya saat ditemui di rumahnya, Sidorejo Kasihan, Bantul, Jumat (21/7).
Anak ragil dari delapan bersaudara ini menceritakan, lawakan mendiang Djoenaidi selalu otodidak walaupun sudah di atas panggung. Pun saat di lingkungan keluarga, apa yang dibicarakan dari rekan atau saudaranya bisa dijadikan bahan lawakan.
"Jadi tidak ada rancangan lawak, maka terkenalnya mungkin itu. Misalnya waktu acara hajatan, bapak ngeledek mantennya, ngopo mantenan kudu nganggo tebu ternyata anteping kalbu. Saat itu saya masih SD," ujar laki-laki 46 tahun ini.
Pelawak Djoenaidi disebut mengalami puncak jaya pada tahun 80-an. Saat jayanya ini, selalu tak lupa memberikan pesan kepada anak-anaknya.
"Bapak sama ibu selalu bilang ke anak-anak, walaupun bapak cari uang gampang, jangan lupa ibadah. Tapi namanya anak muda belum berpikir masalah itu. Baru menyesalnya setelah ditinggal bapak," jelas Bambang Kirun, sapaan akrabnya.
Dulu bapak dua anak ini selalu mendampingi ayahnya manggung sampai keluar daerah, meski masih sekolah. Hingga ia kebanyakan libur sekolah. Ia sering ikut rekaman di Semarang, Solo kadang dijemput ke sekolah sampai nggak pulang. "Maka saya sekolahe goblok karena jarang masuk dan sering diajak bapak," candanya santai.
Saat berkumpul dengan keluarga, pribadi ayahnya selalu sama lucunya dengan ketika di panggung. Selalu melawak dan mengajak bersenda gurau sembari bersantai maupun makan bersama di meja makan.
"Tetap slengekan, kelucuan bapak pasti muncul tentang goda anak atau ibu. Karena beliau real lawaknya, makanya selalu lucu," terangnya.
Menurutnya, hal yang paling tak terlupakan ketika sang ayah mendadak berubah serius. Petuah yang sama selalu disampaikan kepada delapan anaknya yaitu rajin-rajin beribadah.
"Bapak serius kalau anak-anak tidak beribadah bapak marah. Pengennya tetap ibadah. Kowe nakal tur ngibadah le, nok, ojo dilalekke Gusti Allah. Itu ucapan beliau," katanya menirukan ucapan ayahnya.
Terlebih, anak terakhir itu terbilang nakal saat remaja. Hingga keluar masuk panggilan polisi. Ini karena ulahnya saat remaja. Namun ia selalu terselamatkan karena nama sang ayah yang tengah jaya kala itu.
"Nggak ada saat itu yang gak kenal bapak saya. Oalah kowe anak e pelawak kuwi to, saat dijemput bapak (dari polsek) akhirnya saya bisa pulang. Alhamdulillah saya sudah dapat hidayah karena pesan beliau juga, menyesal dulu," tambahnya sambil mengenang.
Almarhum kemudian melebarkan sayapnya menjadi pendakwah untuk menyebarkan syiar agama. Ini pada era 90-an, seiring mulai sakit dan tidak banyak manggung untuk melawak.
"Saya kurang tahu, mungkin sudah muncul dari hati kecilnya bapak sekalian syiar agama. Saat dakwah pasti ada kelucuannya, karena memang bapak pelawak," tambahnya.
Saat bapaknya sakit sekitar tahun, GKR Hemas juga datang membesuk. "Naik andong sampai depan rumah. Dari bapak meninggal sampai 1.000 harinya, ada apresiasi dari Ngarsa Dalem (HB X) tahun 98 dan untuk biaya juga," bebernya. (wia/laz)
Editor : Satria Pradika