Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cium Kaki Paku Buwono II dan Dentuman Meriam Kemenangan

Kusno S Utomo • Senin, 10 Juli 2023 | 13:00 WIB

Cerbung Majid Mataram oleh Kusno S Utomo
Cerbung Majid Mataram oleh Kusno S Utomo
RADAR JOGJA - Keputusan Bupati Cakraningrat menarik pasukan Madura dari istana Kartasura disambut gembira Susuhunan Paku Buwono II. Raja Mataram itu kemudian mengirimkan utusan khusus guna menyerahkan surat kepada kakak iparnya itu. Isinya, Paku Buwono II secara terbuka menyampaikan rasa terima kasih atas peran dan jasa Cakraningrat ikut membebaskan ibu kota negara (IKN) Mataram dari laskar Tionghoa dan Sunan Kuning.


Perubahan sikap Cakraningrat itu langsung direspons petinggi VOC di Semarang. Di mata Kompeni ini merupakan kesempatan baik. Tanpa menunggu waktu lama, Kongsi Dagang Belanda itu mengirimkan ekspedisi militer. Sejumlah 600 orang serdadu di bawah komando Kapten Von Hohendroff berangkat menuju Kartasura.


Sempat terjadi kontak senjata dengan laskar Tionghoa di Desa Lemah Abang dekat Ungaran, Semarang. Sisa-sisa pendukung Sunan Kuning itu berhasil dipukul mundur. Hohendroff tiba di istana Kartasura pada 20 Desember 1742.


Didampingi komandan tentara Madura, Hohendroff meninjau seisi istana yang pernah diduduki Sunan Kuning selama lima bulan. Setelah memastikan situasinya aman, Hohendroff segera menghadap Paku Buwono II yang tengah berada di Desa Gumpang, sebelah timur Kartasura.


Hohendroff melaporkan istana Kartasura siap menerima kedatangan Paku Buwono II. Sehari kemudian, Sunan bersama rombongan tiba di keratonnya. Raja mendapatkan sambutan luar biasa. Ada upacara agung mengiringi raja saat hendak duduk di dampar kencana (singgasana, Red). Beberapa kali dentuman meriam terdengar.


Semua perwira VOC ikut memberikan penghormatan. Begitu pula dengan tentara Madura. Penghormatan dilakukan dengan adat Jawa. Semua yang hadir menyembah raja dilanjutkan mencium kaki Sunan.


Usai upacara itu, Sunan berjalan menghadap ibundanya, Ratu Amangkurat. Pertemuan anak dengan ibu berlangsung penuh haru. Ratu Amangkurat tak bisa menahan tangis. Seharusnya Ratu Amangkurat ikut mengungsi ke Panaraga. Namun saat evakuasi keluar dari istana Kartasura, ibu suri itu beberapa kali jatuh pingsan. Akibatnya Ratu Amangkurat tidak dapat naik kuda yang akan membawanya menyelamatkan diri bersama sang putra.


Saat berkuasa di Kartasura, Sunan Kuning memberlakukan dengan hormat dan penuh sopan Ratu Amangkurat. Dia tetap dipersilakan tinggal di dalam Keputren Keraton Kartasura. Selain Ratu Amangkurat, ada juga Ratu Maduretna, permaisuri Paku Buwono III. Maduretna tak lain adik kandung Bupati Madura Cakraningrat. Perempuan-perempuan lainnya adalah istri Patih Natakusuma dan sejumlah selir Paku Buwono II.


Selama lima bulan menduduki takhta Mataram, Sunan Kuning mengambil beberapa selir Paku Buwono II untuk dijadikan istri. Namun Sunan Kuning yang juga bergelar Amangkurat V tidak mau menganggu Ratu Maduretna. Permaisuri lawan politiknya itu tetap mendapatkan perlakuan yang terhormat.


Ratu Maduretna justru merasa panik saat tentara Madura menguasai istana Kartasura. Dia memilih meninggalkan keraton. Maduretna kemudian mengungsi ke Desa Bayat, Klaten. Dia khawatir dipaksa oleh kakak kandungnya balik ke Madura. Sebab, dia tahu kakaknya bermusuhan dengan suaminya.


Upaya tentara Madura mengajak Maduretna pulang ke kampung halamannya ditolak mentah-mentah. Maduretna lebih memilih menunggu kedatangan suaminya. Raja dan permaisuri itu akhirnya bertemu kembali saat takhta Mataram kembali ke tangan Paku Buwono II.


Meski terusir dari Kartasura, Sunan Kuning tidak mau menyerah. Dia bersama pasukannya yang dipimpin Kapitan Sepanjang, Patih Mangunoneng dan Raden Mas (RM) Said membuat markas perjuangan di Desa Randulawang, dekat Candi Prambanan.


Dengan sisa kekuatan sebanyak 900 prajurit, Sunan Kuning beberapa kali menyerang Kartasura. Namun gempuran dari laskar Tionghoa itu berhasil dipatahkan. Bahkan Randulawang kemudian hancur karena serbuan pasukan VOC. Kekuatan Sunan Kuning tercerai berai, Patih Mangunoneng lari arah Bagelen. Sedangkan Sunan Kuning, Sepanjang dan Said menyingkir ke arah Wanagiri.


Kini setelah diturunkan dari takhtanya, Sunan Kuning menjadi buronan politik yang paling dicari. Ada pengumuman istana Sunan Kuning harus ditangkap. Hidup atau mati. Wara-wara itu disebarkan ke seluruh penjuru Mataram. Status buron juga disematkan kepada Patih Mangunoneng, Kapitan Sepanjang dan RM Said. Semua adalah pendukung setia Amangkurat V semasa lima bulan berkuasa di IKN Kartasura. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Susuhunan Paku Buwono #tionghoa di gresik #mataram #VOC