RADAR JOGJA - Bisnis jasa titip (jastip) kini menjadi ladang potensial dan cukup menjanjikan. Bentuk bisnis jastip ini bermacam-macam. Mulai dari pakaian hingga makanan yang ditawarkan kepada konsumen. Terlihat sederhana, namun jika ditekuni bisa meraup keuntungan yang besar.
Shella Herviana Putri Adhi adalah salah satu perempuan yang menekuni bisnis ini. Awalnya dia sering menawari teman-temannya melalui akun Instagram-nya saat berada di luar kota atau luar negeri. Ternyata tawarannya tersebut cukup banyak diminati. “Sampai sekarang keterusan kalo ke mana-mana suka buka jastip,” katanya kepada Radar Jogja, Jumat (7/7/23).
Shella mengaku, awalnya teman-temannya titip barang karena tertarik dengan tawarannya. Lalu Shella melihat jastip di sejumlah event dan tertarik. Akhirnya dia ikutan membuka jastip di beberapa event juga. Ada pula konsumennya yang meminta pesanan khusus. Misalnya barang-barang dari luar negeri seperti Singapura, Korea, dan Amerika Serikat.
“Misalnya ada teman yang ingin beli barang dari Korea tapi ongkir-nya mahal dan nggak paham cara belinya, nanti aku bantuin untuk beli, mengurus pengiriman, dan pajak,” ungkapnya.
Dia menyebut, saat ini pelangganya sudah cukup banyak. Awalnya hanya teman-teman di Instagram saja. Karena semakin berkembang, akhirnya Shella membuat akun Instagram sendiri khusus untuk bisnis jastipnya bernama @jastip.di.calathea. “Sekarang selain teman, ada orang di luar temanku juga yang lihat unggahan di akun jastipku,” imbuhnya.
Perempuan kelahiran Banjarnegara ini paling sering membuka penawaran untuk jasa titip barang kecantikan seperti make up dan skincare. Sebab dua barang itu yang saat ini sedang memiliki banyak peminat. Apalagi di kalangan perempuan. Maka dari itu, dia sering mencari info diskon. Seperti di event tertentu atau promosi dari toko. Kemudian dia promosikan lagi di akun jastipnya. “Kalau ke luar kota atau negeri, biasanya banyak yang titip jajanan atau makanan khas,” sebutnya.
Selain menerima titipan barang, Shella juga beberapa kali membuka tawaran titipan untuk tiket konser. Salah satunya tiket konser Coldplay yang akan digelar di Jakarta pada November 2023 mendatang.
Dia mengakui, bisa mengadakan jastip sekali dalam seminggu. Apabila sedang banyak promo diskon atau event. Sementara untuk barang pre order yang dari luar negeri, Shella biasanya membuka jastip sekali dalam sebulan. Jika ada event, pelanggan bisnisnya bisa mencapai 60 hingga 70 orang. Namun bila sedang tak ada event, pelanggan jastipnya berkisar 10-20 orang.
Shella merasakan sejumlah keuntungan dalam menjalankan bisnis ini. Salah satunya adalah bertambahnya koneksi. Mulai dari konsumen, supplier, dan pihak kargo atau pengiriman barang. Selain keuntungan berupa uang, terkadang pelaku jastip mendapatkan free product dari beberapa brand. “Jadi paham alur belanja barang di luar negeri, info saat brand tertentu lagi diskon, dan tips mendapat diskonan lebih,” ujar lulusan Magister Kajian Budaya dan Media UGM ini.
Di sisi lain, Shella juga pernah mengalami kerugian. Misalnya konsumen yang melunasi barang dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, pada awal membuka jastip, dia mengaku sering lalai dengan pesanan dari konsumennya. Semisal kosmetik yang salah tipe atau salah shade. Namun, dengan bertambahnya pengalaman dan jam terbang, kini dia sudah lebih teliti.
Ke depannya, Shella berencana menjadikan barang-barang dalam jastip menjadi ready stock. Sebab sebelumnya hanya menggunakan metode pre order. Prosesnya, dia akan membeli barang terlebih dulu, lalu dijual kembali dalam skala kecil. “Ingin punya gudang sendiri dengan pasar yang lebih luas, tidak hanya mencakup teman-teman saja,” harap perempuan 27 tahun ini. (tyo/bah)