Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gerakan Perubahan Mengancam Istana Kartasura 

Kusno S Utomo • Rabu, 28 Juni 2023 | 13:00 WIB
Cerbung Oleh Kusno S Utomo
Cerbung Oleh Kusno S Utomo

RADAR JOGJA - Raden Mas (RM) Garendi resmi memproklamasikan diri sebagai  raja di luar istana. Penobatan itu sebenarnya bentuk perlawanan keturunan Amangkurat II melawan trah Paku Buwono I.  Sebagai pendiri Ibu Kota Negara (IKN) Kartasura, hanya ada satu keturunan Amangkurat II yang sempat bertakhta sebagai susuhunan Mataram.  Putra mahkota RM Sutikna yang kemudian bergelar Amangkurat III.


Namun usia pemerintahannya berjalan singkat. Hanya dua tahun dari 1703-1705. Amangkurat III atau Sunan Mas ini didongkel dari takhtanya oleh paman sekaligus mantan mertua Pangeran Poeger. 


Dari sejarahnya, Poeger adalah adik beda ibu dari Amangkurat II. Ibu mereka sama-sama berstatus permaisuri Amangkurat I.
Ibu Amangkurat II bernama Ratu Kulon. Sedangkan ibunda Poeger bergelar Ratu Wetan. Takhta menjadi hak dari putra raja yang lahir dari Ratu Kulon.
Namun situasi berubah sepeninggal Amangkurat II. Poeger berhasil menghimpun gerakan rakyat sehingga memaksa keponakannya menyerah. Takhta Mataram telah bergeser.


Sejak Poeger menjadi Paku Buwono I, penerus takhta Mataram merupakan keturunannya. Dari garis ibu, Poeger masih trah Ki Ageng Giring dari Sada, Paliyan, Gunungkidul. Poeger juga punya darah dari Sunan Tembayat dan Panembahan Kajoran, Klaten.


Paku Buwono I digantikan putra mahkota RM Suryakusuma yang memilih kembali memakai gelar Amangkurat IV. Pengganti Amangkurat IV, sang putra mahkota Raden Mas Gusti (RMG) Prabasuyasa menggunakan gelar kakeknya, Paku Buwono II.


Sama halnya dengan Paku Buwono II yang merupakan cucu Paku Buwono I, Garendi juga cucu Amangkurat III. Ini tak ubahnya perang antarcucu melawan cucu dari dua trah yang berebut takhta Mataram.


Saat dikukuhkan sebagai raja Mataram di Pati pada 6 April 1742, Garendi kembali menggunakan sebutan Susuhunan Amangkurat V. Kelak dia menjadi raja terakhir Mataram yang bergelar Amangkurat.


Berikutnya,  tak ada lagi penguasa Mataram yang memakai sebutan Amangkurat. Raja-raja Mataram Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan keturunan dari Paku Buwono I. Kedua raja pecahan Mataram itu enggan menggunakan sebutan Amangkurat.
 Surakarta tetap mempertahankan gelar Susuhunan Paku Buwono dan Ngayogyakarta menggunakan sebutan anyar Sultan Hamengku Buwono.


Garendi merupakan anak dari Pangeran Tepasana. Dia putra Amangkurat III yang terbunuh dalam konflik internal di istana Kartasura. 
Dalam Babad Kartasura, Garendi dilukiskan berwajah tampan. Sejak kecil dikenal cerdas. Garendi nyaris dibunuh dalam konflik yang menyeret ayahnya. Garendi berhasil diselamatkan pamannya Wiramenggala.


Mereka lolos dari kejaran pasukan Kartasura. Garendi dan Wiramenggala menyelamatkan diri menuju Gunung Kemukus, Sragen. Perjalanan dilanjutkan hingga menuju Grobogan. Rombongan Wiramenggala ditampung keluarga pengusaha Tionghoa He Tik. Garendi kemudian menjadi anak angkat He Tik.


Setelah dinobatkan menjadi Amangkurat V, Garendi langsung mengadakan konsolidasi. Target sudah bulat. Merebut takhta Mataram dan melengserkan Paku Buwono II. Gerakan people power dimulai.


 Persiapan menyerang IKN Kartasura mulai disusun. Pasukan yang dipimpin Bupati Grobogan Martapura, Bupati Pati Mangunoeneng dan Singseh mulai menyerbu Kudus dan Pati. Dalam waktu singkat dua wilayah di timur Semarang berhasil dikuasai anak buah Amangkurat V.
Menghadapi serangan pemberontak ini, VOC salah hitung. Kompeni  menganggap yang memberontak kebanyakan orang-orang Tionghoa. Tapi kenyataan di lapangan bicara sebaliknya. Orang-orang Jawa lebih dominan ketimbang laskar Tionghoa.


Gerakan perlawanan rakyat juga muncul di  Kedu. Namun tujuan gerakan tak begitu terang. Paku Buwono II merasa terjadinya gelombang gerakan rakyat itu muaranya ditujukan kepada dirinya. Sunan sadar takhtanya tak lagi aman.


Ancaman itu tak sekadar bersifat riak-riak kecil. Namun telah menjadi gelombang yang mengancam kedudukannya. Sebagai kepala negara Mataram, Paku Buwono II tidak bisa tinggal diam. Dia merasa perlu cawe-cawe menghadapi gerakan perubahan yang dimotori kelompok oposisi yang berkoalisi dengan laskar Tionghoa.


Berbanding terbalik dengan Sunan, Hugo Verijsel, penguasa VOC di Semarang justru bingung menganalisis kondisi politik dan keamanan. Kerusuhan muncul di berbagai tempat. Situasi chaos telah membayangi wilayah Mataram. Cawe-cawe raja menghadapi gelombang perlawanan yang hebat dari mantan sekutu politiknya. (laz)

Editor : Satria Pradika
#IKN #sultan #raja #Kartasura #mataram