Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

People Power Dimulai dari Penobatan Garendi di Pati 

Kusno S Utomo • Selasa, 27 Juni 2023 | 20:41 WIB

 

Cerbung Oleh Kusno S Utomo
Cerbung Oleh Kusno S Utomo

RADAR JOGJA - Kebijakan politik Mataram benar-benar berubah haluan. Laskar Tionghoa yang semula menjadi sekutu menghadapi Kompeni kini beralih menjadi seteru. Dari kawan menjadi lawan. Mataram memutuskan  berbalik memerangi orang-orang Tionghoa.

Perubahan peta politik di istana Kartasura itu dibahas serius oleh Bupati Grobogan Martapura. Dia berinisiatif mengadakan pertemuan dengan sejumlah koleganya. Di antaranya, Bupati Pati Mangunoneng dan pimpinan laskar Tionghoa seperti Singseh serta Kapitan Sepanjang. Pertemuan berlangsung pada Maret 1742.

Inti pertemuan  menyikapi kebijakan  Susuhunan Paku Buwono II. Raja Mataram  yang bertakhta di Kartasura itu sejak Agustus 1741 semula menginstruksikan pejabat dan rakyatnya membantu laskar Tionghoa melawan VOC.

Baca Juga: VOC Hentikan Perang, Ajak Mataram Mitra Koalisi

Memasuki awal 1742 perintah itu dicabut. Kebijakan Mataram berubah berkoalisi dengan VOC. Perubahan ini bukan tanpa alasan. Mataram merasa pesimistis bisa mengalahkan Kongsi Dagang Belanda itu. Perang selamaberbulan-bulan melawan Kompeni tidak menghasilkan kemenangan. Kondisinya tidak kalah dan juga tidak menang.

Sunan juga dibayangi masalah internal. Beberapa kerabatnya mengincar takhta Mataram. Mereka memanfaatkan krisis politik pasca-memburuknya hubungan antara Kartasura dengan Batavia. Raja tak mau mengambil risiko. Perhitungan politiknya mengharuskan Mataram mengubah haluan negara.

Menyikapi perkembangan itu, Martapura, Mangunoneng, Singseh dan Sepanjang sepakat pada satu kesimpulan. Raja Mataram harus lengser. Digantikan orang lain. Mereka jugasepakat mengkampanyekan people power. Saatnya Ganti Raja. Hanya saja peserta rapat belum menemukan sosok yang tepat menggantikan Paku Buwono II.

Baca Juga: Perang Lawan VOC, Dibayangi Pembelotan Kerabat Istana

Singseh mengusulkan Martapura sebagai calon raja. Pemilik nama Tionghoa Tan Sin Kho tersebut selama ini memimpin laskar di Jepara hingga Lasem. Dia merasa sangat mengenal dekat dengan pribadi Martapura. Pengajuan nama Martapura didukung Kapitan Sepanjang.

Usulan itu tidak direspons peserta rapat lainnya. Khususnya para bupati Mataram seperti Mangunoneng.Adapun Martapura sendiri juga tidak setuju. Dia sedang berpikir menyangkut kriteria calon raja Mataram.

Bagi orang Jawa, figur susuhunan atau sunan harus memiliki wahyu. Punya bobot dan bibit sebagai calon raja. Juga diperlukan syarat rumasuk-nya wahyu sebagai bukti lulusnya laku. Yang dimaksud wahyu adalah legalitas hukum. Sedangkan laku terkait legitimasi atau dukungan rakyat.

Baca Juga: Laskar Tionghoa Terbentuk, Momentum Tepat Usir VOC

Martapura memahami betul calon sunan harus punya darah raja. Dia tidak bersedia menjadi raja karena bukan keturunan raja Mataram. Jika nekat naik takhta, dia akan digebuki banyak orang. Bupati Grobogan itu tidak ingin terjadi. Namun anak buah Patih Natakusuma ini bertekad Gerakan Ganti Raja harus terealisasi.

Di tengah kebuntuan menentukan figur calon pengganti Paku Buwono II, seorang pengusaha Tionghoa asal Grobogan He Tik memunculkan nama Raden Mas (RM) Garendi. Dia cucu Sunan Amangkurat III. Kakek Garendi itu tergusur dari takhtanya gara-gara didongkel  Pangeran Poeger atau Paku Buwono I.  Dia tak lain kakek dari Paku Buwono II. Raja yang kini hendak mereka lengserkan melalui gerakan people power.

Usulan He Tik itu diterima semua peserta rapat. Garendi yang baru berusia 16 tahun diusung menjadi calon  tunggal. Upacara jumenengan atau penobatan Garendi diadakan di  Pati pada  6 April 1742.

Baca Juga: VOC Krisis, Gubernur Jenderal Korupsi dan Lakukan Pencucian Uang

Garendi memilih sebutan Susuhunan Amangkurat V. Melanjutkan gelar yang pernah dipakai kakeknya, Amangkurat III. Gelar lengkapnya, Kanjeng Susuhunan Amangkurat Senopati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama ingkang Jumeneng Kaping Gangsal ing Mataram Kartasura Hadiningrat.

Amangkurat V ini juga dikenal dengan nama Sunan Kuning. Asalnya dari bahasa Tiongkok Cun Ling yang berarti bangsawan tertinggi. Orang Jawa kesulitan mengucapkannya sehingga menjadi Sunan Kuning.Saat upacara penobatan Garendi menyampaikan pidato yang menyengat.

“Pemimpin yang ingkar janji tidak bertuah lagi. Gebuklah dia, pasti akan kabur,”  begitu kata-kata yang diucapkan Amangkurat V di depan para ulama dan para pendukungnya yang memakai busana Tionghoa. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Cerbung #Tionghoa #Kusno S. Utomo #mataram #VOC