RADAR JOGJA - Dosen Ilmu Komunikasi UNY Gilang Jiwana Adikara menyebut layanan OTT menjadi salah satu alternatif hiburan yang sangat menyenangkan. Sebab layanan ini tidak mengharuskan penggunanya menunggu saat akan menonton film.
"Karena sifat dari OTT adalah saat kita mau nonton, ya saat itu juga kita bisa mengakses. Dan kita bisa memilih berbagai macam pilihan. Ini adalah alternatif yang menarik dan mudah pada saat ini," bebernya kemarin (23/6).
Gilang menyebtu, akses OTT semakin mudah saat berada di wilayah dengan akses internet yang baik. "Kalau dulu kita pakai VCD harus sewa dan sebagainya. Atau kalau kita dulu ada TV satelit dan TV kabel kita kan harus menunggu ya," katanya.
Menurut Gilang, jika dilihat dari sisi industri, semakin banyaknya OTT yang muncul justru membuat audiens lelah. Karena saat OTT masih sedikit, semua film ada di satu aplikasi saja.
"Banyaknya OTT ini audiens juga malah mengeluarkan biaya yang banyak. Itu bisa lebih mahal dengan biaya yang mereka keluarkan buat langanan internetnya," tuturnya.
OTT, lanjut Gilang, menjadi gaya hidup baru bagi masyarakat. Sebab masyarakat bisa bebas untuk memilih konten. Kemunculan layanan seperti OTT di Indonesia pertama kali lewat aplikasi YouTube. Kemudian muncul aplikasi Netflix dengan layanan OTT. Sempat membuat heboh dengan sistemnya lembaga sensor film (LSF).
"Jadi biasanya kalau ada film yang masuk ke Indonesia itu harus lewat LSF. Dan Netflix muncul, membuat audiens senang," ungkap Gilang.
Bedanya OTT YouTube dengan Netflix, kata Gilang, adalah kreatornya. Siapa saja bisa membuat konten untuk dipublikasikan di YouTube, dedangkan Netflix terbatas untuk production house (PH).
Meski demikian, kemunculan OTT juga memudahkan pembajakan. "Aku pernah riset, anak-anak itu suka nonton dari mana. Itu pilihannya banyak, dari bioskop ada, hard copy, streaming, dan soft copy. Film soft copy ini adalah bahasa halus kami untuk film bajakan. Lebih mudah aksesnya daripada dengan yang lain," tandasnya. (cr2/eno)