MAGELANG - Upaya menemukan penderita tuberkulosis (TBC) secara aktif di Kota Magelang masih menghadapi kendala peralatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang belum memiliki X-ray portable untuk pemeriksaan di lapangan, sehingga perangkat tersebut harus dipinjam ketika melakukan active case finding (ACF).
“Selama ini kami harus pinjam ke sana kemari,” kata Kepala Dinkes Kota Magelang Istikomah Selasa (15/9) malam.
Menurut dia, X-ray portable dibutuhkan untuk pemeriksaan penunjang setelah masyarakat terjaring dalam skrining. Tanpa perangkat tersebut, pemeriksaan terhadap warga yang terindikasi TBC menjadi lebih sulit dilakukan secara langsung di lapangan.
Baca Juga: Pil Yarindo Dibeli lewat WhatsApp, Dijual Rp 20 Ribu hingga Rp 50 Ribu, Sasar Anak Sekolah
Tahun ini, Dinkes Kota Magelang mengintegrasikan penemuan TBC dengan program skrining kesehatan. Sebanyak 54 lokasi menjadi sasaran dengan target sekitar 100 orang di setiap lokasi. Secara keseluruhan, program tersebut ditargetkan menjaring sekitar 5.800 orang.
Hingga pertengahan September, skrining telah dilakukan di 20 lokasi. Dari warga yang diperiksa, sebanyak 66 orang masuk kategori terduga TBC dan membutuhkan pemeriksaan penunjang lebih lanjut. Penemuan kasus juga dilakukan dengan menyasar kelompok yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi. ACF dilakukan di perusahaan, lembaga pemasyarakatan, pondok pesantren, pasar, hingga rumah susun.
Meski demikian, secara fasilitas kesehatan, Kota Magelang memiliki modal yang cukup untuk menjalankan program pencegahan dan pengobatan TBC. Dengan tiga kecamatan dan 17 kelurahan, terdapat 31 unit layanan yang dapat memberikan pelayanan penanggulangan TBC.
Baca Juga: Rumah Adat Nusantara Akan Hadir di Polandia, Budaya Indonesia Makin Dekat dengan Eropa
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benyamin Paulus Octavianus menyebut, penanganan TBC merupakan salah satu program prioritas pemerintah. Pengendalian TBC tidak cukup hanya mengandalkan pasien yang datang ke fasilitas kesehatan. Penemuan kasus perlu dilakukan secara aktif untuk menemukan penderita yang belum terdiagnosis sekaligus memutus rantai penularan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Kota Magelang. Meski jumlah kasus TBC yang tercatat di wilayah kota relatif kecil, fasilitas kesehatan setempat juga melayani pasien dari daerah sekitar. “Kasus TBC di Kota Magelang sedikit, tetapi orang yang berobat dari luar Kota Magelang juga datang ke sini,” ujarnya saat kunjungan di RSUD Tidar Kota Magelang.
Karena itu, penanganan TBC tidak cukup hanya dilihat berdasarkan batas administrasi wilayah. Penemuan kasus perlu diperluas hingga kelompok berisiko dan lingkungan tempat tinggal pasien. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita