Guru Khawatir Jadi Biang Penyakit, SMPN 2 Karanggayam Diteror Koloni Kelelawar

Muhammad Hafied • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:11 WIB
PENANGANAN : Pihak sekolah bersama Pemerintah Desa Gunungsari dan TNI-Polri mengecek kondisi sarang koloni kelelawar yang bersarang di gedung SMPN 2 Karanggayam. (Dokumentasi SMPN 2 Karanggayam)
PENANGANAN : Pihak sekolah bersama Pemerintah Desa Gunungsari dan TNI-Polri mengecek kondisi sarang koloni kelelawar yang bersarang di gedung SMPN 2 Karanggayam. (Dokumentasi SMPN 2 Karanggayam)

KEBUMEN - Aktivitas kegiatan belajar mengajar di SMPN 2 Karanggayam terganggu dengan keberadaan koloni kelelawar. Para siswa dan guru merasa risih akibat kumpulan kelelawar telah lama bersarang tepat di atas plafon gedung sekolah.

Kepala SMPN 2 Karanggayam Bambang Sutikno mengatakan, tidak mengetahui pasti asal-usul kelelawar muncul. Dia juga tak paham sejak kapan kelelawar mulai menghuni bangunan sekolah. Namun yang pasti siswa dan guru cukup terganggu dengan keberadaan koloni kelelawar di gedung sekolah.

"Saya baru ditugaskan Mei 2026. Kaget juga, kok bisa ada sarang kelelawar," katanya kepada Radar Jogja, Jumat (28/8/2026).

Baca Juga: 21 Ribu Warga Jogja Kehilangan PBI-JKN akibat Pergeseran Desil, Pemkot Siapkan Jamkesda

Bambang mengatakan, suara koloni kelelawar dari balik plafon sangat menggangu konsentrasi selama pembelajaran berlangsung. Selain menimbulkan suara bising, sarang hewan tersebut juga menimbulkan bau tak sedap karena menyisakan kotoran. Kondisi inilah yang membuat guru dan siswa tak nyaman.

Dia khawatir, jika persoalan sarang kelelawar tak segera tertangani, maka akan menimbulkan permasalahan baru. Salah satunya terkait gangguan kesehatan yang dihadapi siswa maupun guru.

"Jujur, kami was-was sekali. Takut dari kelelawar itu bawa virus atau penyakit," jelasnya.

Dia mengungkapkan, pusat sarang kelelawar berada di salah satu ruangan, yakni ruang laboratorium IPA. Posisi ruangan tersebut tepat berada di tengah kompleks sekolah. Karena banyaknya kelelawar, pihak sekolah memutuskan untuk tidak menggunakan ruangan sementara waktu.

Baca Juga: Di DIY Ada 12 Risiko Bencana, Penyandang Disabilitas Alami Kerentanan Berlapis saat Hadapi Bencana

 "Sekarang posisi bangunan kosong. Kami takut kalau ini diteruskan," terangnya.

Bambang menambahkan, berbagai upaya telah dilakukan agar koloni kelelawar segera pergi dari gedung sekolah. Yaitu, dengan pembersihan secara rutin dan memberikan lampu penerangan cukup agar kelelawar tak kembali bersarang di ruangan. Namun upaya itu belum membuahkan hasil.

"Terakhir kemarin, kami bersih-bersih bareng forkopimcam. Sarang masih ada, takut mau diperlakukan seperti apa," ujarnya.

Baca Juga: Agustus Gelap, Soroti Demokrasi hingga Anggaran Publik: Aliansi Rakyat Memanggil Turun ke Jalan

Kepala Desa Gunungsari, Kecamatan Karanggayam Sukarjo menyatakan, keberadaan sarang kelelawar di bangunan sekolah memang telah menjadi keresahan bersama.

Terlebih lagi posisi sekolah tak jauh dari area permukiman. Pihaknya juga telah melaporkan kondisi tersebut kepada instansi terkait agar dilakukan penanganan sesuai prosedur. 

Dia tak ingin penanganan koloni kelelawar secara mandiri justru akan menimbulkan risiko bagi warga setempat. Di samping itu upaya penanganan mandiri juga tidak didukung dengan kompetensi dan peralatan memadai.

"Kami sudah sampaikan ke BPBD untuk asesmen dan penangaan," terangnya. (fid/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
SMPN 2 Karanggayam Koloni Kelelawar Biang Penyakit Guru khawatir gedung sekolah