Kabupaten Magelnag Punya Lereng Gunung dan Hutan, mulai Antisipasi Kekeringan-Karhutla

Naila Nihayah • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:23 WIB
Sejumlah personel lintas instansi mengikuti apel siaga untuk menghadapi ancaman kemarau panjang, Jumat (7/8).
Sejumlah personel lintas instansi mengikuti apel siaga untuk menghadapi ancaman kemarau panjang, Jumat (7/8).

 

 

 

 

MUNGKID - Pemkab Magelang mulai mengantisipasi ancaman kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino. Karena itu, pemkab bersama stakeholder terkait menyiapkan personel serta logistik untuk menghadapi kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Bupati Magelang Grengseng Pamuji menegaskan, situasi tahun ini tidak bisa dianggap biasa. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau berpotensi berlangsung lebih panjang dengan intensitas kekeringan yang lebih tinggi.

"Kita menghadapi potensi krisis yang nyata, mulai dari kekurangan air bersih, gagal panen, hingga kebakaran hutan dan lahan," ujarnya di hadapan peserta apel, Jumat (7/8).

Baca Juga: Perkuat Silaturahmi dan Beri Solusi Finansial, Gelar Hajatan FIFGROUP Cabang Sleman II

Dia menyebut, wilayah Kabupaten Magelang sendiri memiliki sejumlah titik rawan kekeringan, terutama di daerah lereng perbukitan dan kawasan yang jauh dari sumber air. Sementara itu, kawasan hutan di sekitar Gunung Merapi dan Merbabu juga masuk kategori rentan terhadap kebakaran.

Grengseng menyebut, pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan karhutla kerap dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan dengan cara dibakar.

Karena itu, pencegahan dinilai jauh lebih penting dibanding penanganan saat bencana sudah terjadi. "Penanganan bencana tidak bisa parsial. Harus ada sinergi penuh, mulai dari pemerintah, TNI-Polri, relawan, hingga masyarakat," tegasnya.

Baca Juga: Belasan Tahun Tak Tuntas, Tim GTRA Kulon Progo Turun Tangan Selesaikan Sengketa Perbatasan Jangkaran

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Bambang Hermanto menuturkan, telah menyiagakan berbagai peralatan mulai dari tenda pengungsian, pompa air, hingga perlengkapan penyelamatan. Terlebih, ketika terjadi bencana, waktu respons sangat menentukan. "Karena itu, kami pastikan sejak awal personel, peralatan, hingga pola koordinasi sudah sinkron," jelasnya.

Dia mengatakan, ancaman kekeringan bukan hanya soal berkurangnya pasokan air, tetapi juga berdampak pada sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Magelang. Jika tidak diantisipasi, kekeringan bisa memicu gagal panen secara luas.

Karena itu, lanjut dia, strategi yang disiapkan tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga langkah mitigasi. Di antaranya pemantauan rutin wilayah rawan, kesiapan distribusi air bersih, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan. "Semakin siap di awal, semakin kecil dampak yang dirasakan masyarakat," ungkapnya. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
keekringan Kabupaten Magelang lereng gunung Kemarau Panjang karhutla